GAZA — Di bawah sengatan terik matahari siang, seorang pekerja berdiri terpaku. Pandangannya lurus menatap ke bawah, mengawal gerakan sekop ekskavator yang tengah mengeruk dan memindahkan gundukan pasir secara perlahan.
Tugas pria ini menuntut ketelitian dan kehati-hatian tingkat tinggi. Matanya menyisir setiap jengkal tanah yang terhampar, memburu lilitan kain putih yang menyembul dari balik runtuhan. Kain putih itu adalah kain kafan, pertanda adanya jasad baru yang ditemukan.
Pengeboman yang dilancarkan militer Israel di sisi timur dan selatan Pemakaman Syekh Radwan, sebelah barat Kota Gaza, telah melenyapkan ratusan pusara dan batu nisan. Jasad-jasad yang bersemayam di bawahnya kini mendadak kehilangan identitas, tergerus bersama tanda yang hancur berkeping-keping.
Saat Jasad Berubah Menjadi Sebaris Angka
Krisis ini diperparah oleh situasi perang. Banyak keluarga yang terpaksa memakamkan kerabat mereka di liang-liang lahat darurat di sekitar area pemakaman utama. Langkah ini terpaksa diambil karena kapasitas lahan di dalam pagar pembatas makam sudah penuh sesak, tanpa ada ruang tersisa untuk sejengkal tanah kuburan baru.
Tiba-tiba, ekskavator berhenti mendadak setelah para pekerja memberikan isyarat. Selembar kain tampak menyembul di sudut timur makam. Seorang pekerja dengan sarung tangan hitam merangsek maju, menarik perlahan kain kafan yang telah usang dan berubah warna dimakan waktu. Di dalamnya, tulang-belulang dari jasad yang telah runtuh sepenuhnya terserak, tampaknya itu adalah jasad dari makam lama.
Ia berteriak memanggil rekannya, meminta kantong nilon tebal khusus untuk mengumpulkan sisa-sisa rukun jasad tersebut. Di tengah prosedur teknis itu, kemarahan yang tertahan membuncah dari mulut sang pekerja.
“Ini jasad-jasad kita! Ini anak-anak kita! Ini perempuan-perempuan kita! Hasbunallah wa ni’mal wakil (Cukuplah Allah menjadi penolong kami),” serunya tertahan, mengutuk skala kehancuran yang ditinggalkan militer Israel.
Kantong itu diikat erat, lalu disejajarkan dengan puluhan kantong jasad lain yang berhasil dievakuasi sejak pagi hari. Hampir di semua kantong itu tertulis dua kata yang memilukan: Majuul Hawiyyah, Tanpa Identitas.
Dampak serangan di Makam Syekh Radwan bukan sekadar tanah yang tergerus. Dentuman dan serpihan bom meremukkan struktur luar ratusan makam. Nisan beton dan marmer yang memuat nama serta tanggal wafat hancur menjadi puing tak berbentuk.
Memulai dari Syekh Radwan
Tak jauh dari lokasi kerja para relawan, Ziad Ubeid memantau jalannya evakuasi. Kepala Direktorat Pemakaman Kementerian Wakaf sekaligus anggota Komite Pengelolaan Jasad tersebut menjelaskan bahwa pemulihan tahap pertama untuk makam-makam yang dirusak militer Israel telah dimulai. Fokus utamanya adalah menyelamatkan dan menjaga kehormatan sisa-sisa jasad para syuhada.
Komite ini merupakan kerja bersama yang melibatkan perwakilan dari Kementerian Kesehatan, Pertahanan Sipil (Disaster Management), tim forensik kepolisian, serta Kementerian Wakaf.
Proyek pemulihan ini sengaja dimulai dari Makam Syekh Radwan yang berulang kali dihantam bom Israel, terutama di sisi timur dan utara. Setelah ini selesai, tim akan bergerak ke pemakaman lain di seluruh wilayah Gaza yang bisa diakses.
“Sangat menyedihkan, mayoritas kuburan ini sekarang berstatus tanpa nama setelah nisannya dihancurkan,” kata Ubeid. “Kami berupaya merestorasi makam-makam ini dan mengidentifikasi tulang-belulang yang ada. Dulu makam-makam ini ada namanya, sekarang hilang. Ini menjadi tantangan baru dalam berkas jasad tak dikenal.”
Pendataan Forensik di Tengah Keterbatasan
Mengenai estimasi awal, Ubeid memproyeksikan lebih dari 40 jasad berhasil dievakuasi pada hari pertama. Sementara total jasad yang diperkirakan harus diangkat dan ditata ulang di Makam Syekh Radwan ini bisa mencapai sedikitnya 300 jasad.
Menghadapi nihilnya data identitas, tim forensik dan kedokteran kehakiman dari kepolisian setempat melakukan dokumentasi visual melalui foto serta mengumpulkan sampel biologis. Sampel-sampel ini dipersiapkan untuk uji DNA di masa depan jika fasilitas dan kemampuan medis telah tersedia kembali di Gaza.
Ubeid menegaskan, target jangka pendek mereka adalah “memastikan kehormatan para jenazah ini terjaga sesuai syariat agama dan hukum internasional.” Caranya dengan mengumpulkan rupa rukun jasad yang tercerai-berai, lalu memakamkannya kembali secara layak hingga identitas mereka terungkap.
Mengapa Pihak Keluarga Tak Hadir?
Terkait absennya pihak keluarga di lokasi evakuasi (meski pengumuman resmi telah disebarkan sepekan sebelumnya) Ubeid menyebut kondisi jasad yang telah hancur dan mengalami dekomposisi total membuat pengenalan secara visual menjadi hal yang mustahil.
Selain itu, hal ini merupakan dampak dari pola pemakaman darurat selama fase perang. Banyak jasad yang dikebumikan secara tergesa-gesa tanpa sempat memberi tahu pihak keluarga, akibat melonjaknya jumlah korban jiwa dan jenazah yang bergelimpangan di jalan-jalan.
Lusinan jasad terpaksa dikubur di lahan kosong dekat tembok luar makam karena hanya tempat itu yang paling aman diakses saat agresi memuncak. Pola ini melahirkan puluhan makam darurat yang tersebar di tanah-tanah kosong dan tepi jalanan di seluruh Gaza.
Proses restorasi ini adalah bagian dari rencana besar yang mencakup 62 pemakaman di seluruh Jalur Gaza, yang hampir seluruhnya tak luput dari pengrusakan sistematis.
Setelah merampungkan urusan di Syekh Radwan, tim akan bergeser ke Pemakaman Syekh Sha’ban di Kota Gaza, lalu bergerak ke wilayah utara seperti Faluja dan proyek Bait Lahia.
Namun, Ubeid mengakui ada beberapa pemakaman yang masuk dalam “Zona Kuning” atau wilayah yang diduduki total oleh militer Israel, seperti Pemakaman Syuhada di timur Jabalia, Bait Hanoun, dan kawasan Rafah. Area-area tersebut sepenuhnya terisolasi dan Israel melarang siapa pun mendekat.
Menghapus Jejak Sejarah dan Memori Kolektif
Berdasarkan laporan dari lembaga hak asasi manusia Euro-Med Human Rights Monitor, skala kerusakan makam di Gaza sudah berada pada level yang mengerikan. Hingga pertengahan Maret 2026, tercatat sekitar 93,5 persen pemakaman di Jalur Gaza telah hancur total atau rusak sebagian sejak Oktober 2023, yang dikategorikan sebagai bagian dari kejahatan genosida yang terencana.
Euro-Med menegaskan bahwa penghancuran makam dengan buldoser dan bom bukan sekadar pelanggaran berat terhadap Hukum Humaniter Internasional.
“Ini adalah kebijakan yang disengaja untuk melenyapkan bukti-bukti fisik sejarah, sekaligus memberikan pukulan psikologis dan spiritual yang sangat dalam bagi warga yang masih hidup. Tujuannya adalah mencabut memori kolektif dan memutus ikatan historis masyarakat Gaza dengan tanah air serta leluhur mereka,” tulis lembaga tersebut.
Analisis data terhadap 62 pemakaman resmi di Gaza menunjukkan potret yang gamblang: 39 makam (62,9 persen) hancur total, 19 makam (30,6 persen) rusak sebagian, dan hanya tersisa 4 makam (6,4 persen) yang lolos dari kerusakan berarti.
Sumber: Diolah dari Laporan Al Jazeera dan Euro-Med Monitor










