AL-QUDS — Ketika Markas Besar PBB di New York sibuk memoles spanduk Hari Pengungsi Sedunia dengan jargon-jargon mentereng soal “solidaritas, perlindungan, dan solusi jangka panjang,” jutaan warga Palestina memperingatinya dengan cara yang sama seperti puluhan tahun lalu, mengemas sisa pakaian ke dalam kantong plastik, menghindari desing peluru, dan mencari kapling tanah kosong baru untuk mendirikan tenda terpal.
2026 ini, peringatan tersebut terasa jauh lebih pekat dengan bau mesiu. Agresi militer yang belum juga usai di Jalur Gaza, operasi pembersihan lingkungan di Tepi Barat, serta upaya sistematis melikuidasi United Nations Relief and Works Agency (UNRWA)—badan PBB yang menjadi saksi hidup sekaligus penyambung nyawa para pengungsi—menegaskan satu hal: Palestina adalah drama pengusiran paksa terlama dan paling berdarah dalam sejarah modern.
Bagi warga Palestina, urusan pengungsi bukan sekadar lampiran data statistik dalam meja perundingan. Ini adalah hulu sekaligus hilir dari konflik yang telah berjalan selama 78 tahun, sejak gelombang pengusiran massal pertama pada peristiwa Nakba 1948.
Sensus Manusia Tanpa Kewarganegaraan
Ahmad Abu Holy, anggota Komite Eksekutif Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) sekaligus Kepala Departemen Urusan Pengungsi, menyodorkan lanskap demografi yang mengerikan. Saat ini, status “pengungsi” bukan lagi label minoritas; mereka mencakup 42 persen dari total populasi yang menetap di wilayah pendudukan Palestina.
[ANATOMI POPULASI DAN KORBAN REPUBLIK TERUSIR]
Total Warga Palestina di Dunia : [ ████████████████████ ] 15,5 Juta Jiwa
Pengungsi Terdaftar di UNRWA : [ ████████░░░░░░░░░░░░ ] 6,2 Juta Jiwa (58 Kamp Resmi)
Korban Jiwa Sejak Nakba 1948 : >171.000 Syuhada (74.176 Jiwa Gugur Sejak 7 Oktober 2023)
Korban Hilang di Bawah Reruntuhan Gaza: ~11.000 Jiwa
“Ini adalah krisis kemanusiaan dan pelanggaran hak asasi manusia paling akut dalam sejarah kontemporer,” kata Abu Holy. Angka-angka tersebut bukan sekadar deretan kalkulasi kering. Di balik angka 6,2 juta pengungsi yang terdaftar di UNRWA, ada urusan pembagian jatah tepung yang makin menipis, antrean toilet komunal yang mengular, dan sertifikat tanah kuno tahun 1948 yang tintanya mulai pudar dimakan lembapnya tenda.
Meremukkan Simbol Perlawanan: Dari Gaza hingga Tepi Barat
Strategi pendudukan lapangan mengalami pergeseran taktis. Targetnya kini bergeser dari sekadar melumpuhkan milisi menjadi penghancuran total ruang hidup di kamp-kamp pengungsian tua yang selama ini dianggap sebagai benteng ideologis “Hak untuk Pulang” (Right of Return).
Di Jalur Gaza, sekitar 1,9 juta warga terjebak dalam lingkaran setan pengungsian berulang. Mereka diusir dari utara ke selatan, lalu dari selatan dikembalikan lagi ke tengah bawah ancaman bom. Sementara itu, di utara Tepi Barat, kamp-kamp bersejarah seperti Jenin, Tulkarm, Nur Shams, dan Balata dihantam operasi militer berkala menggunakan buldoser lapis baja D9. Hasilnya: jalan-jalan aspal dikelupas, jaringan pipa air bersih diputus, bangunan rumah dijebol, dan lebih dari 40.000 pengungsi baru terpaksa angkat kaki dari wilayah yang ironisnya sudah berstatus kamp pengungsian.
[PETA DISTRIBUSI PENGUNGSI DI DALAM GAZA]
│
┌─────────────────────────────┴─────────────────────────────┐
▼ ▼
[Titik Konsentrasi Utama] [Zona Terisolasi]
1 Juta jiwa menyebar di 862 titik darurat. Ribuan keluarga bertahan di reruntuhan
Konsentrasi terbesar: Khan Younis & Area Tengah. gedung tanpa sanitasi di Gaza Utara.
Kondisi sisa-sisa kamp ini sekarang tak lebih dari bom waktu ekologis. Hancurnya infrastruktur limbah membuat air selokan mengalir bebas di sela-sela tenda, memicu wabah penyakit kulit dan hepatitis, di tengah ancaman kelaparan akut akibat pemblokiran truk logistik di pintu perbatasan.
Eksekusi Politik Terhadap UNRWA
Di meja diplomasi, Israel tidak lagi menyembunyikan syahwat politiknya untuk membubarkan UNRWA. Melalui pembatasan visa kerja staf internasional, pelarangan aktivitas di Yerusalem Timur, hingga tekanan terhadap negara-negara donor untuk menghentikan pendanaan, tujuannya jelas: menghapus status hukum pengungsi Palestina.
“Jika UNRWA bubar, maka secara legal formal, status jutaan pengungsi Palestina dianggap kedaluwarsa oleh hukum internasional. Inilah esensi dari perang sesungguhnya, bukan sekadar menghancurkan logistik bantuan, tapi menghapus jejak sejarah,” ujar Ahmad Abu Holy, PLO.
Kementerian Luar Negeri Otoritas Palestina berkali-kali mengeluarkan nota diplomatik yang mendesak komunitas internasional untuk intervensi hukum. Mereka menegaskan bahwa Hak untuk Pulang adalah hak melekat individual maupun kolektif yang tidak memiliki kedaluwarsa waktu (statute of limitations) dan tidak bisa dinegosiasikan atau diganti dengan kompensasi finansial apa pun.
Antara Desakan PBB dan Ilusi Sistem Global
Dari New York, Sekretaris Jenderal PBB António Guterres merilis pernyataan normatif seperti biasa: mendesak dunia menghormati hukum internasional pengungsi dan memberikan ruang aman bagi mereka yang tertindas.
Respons lebih lugas datang dari Ankara. Kepala Direktorat Komunikasi Kepresidenan Turki, Fahrettin Altun (Burhanettin Duran), menyatakan bahwa apa yang terjadi di Gaza adalah model pembersihan etnis dan pengusiran paksa paling telanjang di abad ke-21. “Jeritan anak-anak di bawah reruntuhan Gaza adalah kegagalan terbesar hati nurani dunia,” cetusnya.
[DILEMA EKSISTENSIAL: ANTARA HAK DAN YUTOPIA]
│
┌─────────────────────────────┴─────────────────────────────┐
▼ ▼
[Penyebab Utama] [Status Psikologis]
Kolonialisme pemukiman baru & Bagi generasi muda, "Kembali" terdengar
mandulnya penegakan hukum PBB. seperti dongeng / Yutopia politik.
Peneliti dan akademisi Palestina, Dr. Assem Al-Jaradat, menawarkan sudut pandang yang lebih kritis. Menurutnya, kegigihan warga Palestina mempertahankan kunci rumah lama mereka bukan hal yang aneh.
“Pertanyaan jurnalis barat selalu salah. Mereka selalu bertanya kenapa orang Palestina tidak mau menyerah dan pindah saja ke negara lain. Pertanyaan yang benar adalah: mengapa sistem hukum internasional bentukan negara-negara besar gagal total menyelesaikan satu kasus pengungsian selama hampir delapan dekade?” gugat Al-Jaradat.
Dia menambahkan, bagi generasi muda Gaza yang lahir di dalam blokade, kata “Pulang” perlahan bergeser dari konsep geografis menjadi sebuah “Yutopia Palestina”, sebuah mimpi yang abstrak namun wajib dirawat sebagai bentuk resistensi psikologis terhadap pendudukan.
Meskipun diplomasi di tingkat atas macet, gaung perlawanan justru mengeras di jalanan global. Memperingati Hari Pengungsi ini, gelombang unjuk rasa pecah di berbagai ibu kota dunia. Di Rabat, Maroko, ribuan massa mengepung gedung parlemen menuntut pemutusan hubungan diplomatik total dengan Tel Aviv.
Pemandangan serupa terjadi di Seoul, Korea Selatan, di mana ratusan aktivis lokal melakukan aksi teatrikal membentangkan kain kafan putih, mengirim pesan visual yang tegas: urusan pengusiran Palestina adalah urusan kemanusiaan universal yang menolak mati ditelan zaman.
Sumber: Diterjemahkan lalu Diolah dari laporan Al Jazeera










