GAZA – Di tengah kecamuk perang di Jalur Gaza, angka-angka korban jiwa yang terus meroket setiap hari sering kali membuat dunia lupa akan kedalaman tragedi kemanusiaan yang ada di baliknya. Di balik ribuan angka statistik itu, ada ribuan cerita tentang keluarga yang hancur. Mereka kehilangan orang-orang tercinta bukan hanya karena hantaman bom dari langit, melainkan karena proses kematian lambat yang dipicu oleh kelaparan, penyakit, dan lumpuhnya fasilitas medis.
Satu lagi nama yang kini resmi masuk dalam daftar panjang korban kekejaman blokade Israel adalah Suhaila Al-Mabhouh. Seorang ibu dari Kamp Pengungsian Jabalia, Gaza utara, yang mengembuskan napas terakhirnya di tengah penantian panjang untuk mendapatkan izin melintasi pos perbatasan demi mengobati kanker empedu yang telah menjalar cepat hingga ke hatinya.
Suhaila tidak meninggal hanya karena keganasan sel kanker di tubuhnya. Ia terbunuh oleh hitungan menit, jam, dan hari-hari panjang yang terbuang sia-sia dalam antrean birokrasi militer Israel yang dengan sengaja mempersulit proses evakuasi medis warga Gaza.
Diagnosa Mengejutkan dan Perburuan Darah Golongan Langka
Kisah pilu ini bermula saat Suhaila kerap merasakan lemas dan kelelahan yang luar biasa pada akhir bulan Ramadan lalu. Keluarga awalnya mengira itu hanya kelelahan fisik biasa akibat puasa dan tekanan situasi perang. Namun, pemeriksaan medis darurat memberikan vonis yang menyentak: terdapat tumor ganas di kantong empedunya yang telah merayap naik menggerogoti organ hati.
Sang suami, Sameh Al-Mabhouh, menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana tubuh istrinya kian menyusut dan layu dari hari ke hari. Penderitaan Suhaila melampaui batas rasa sakit fisik akibat kanker. Ia memiliki golongan darah yang sangat langka: O- (O Negatif).
Di sebuah kota yang seluruh fasilitas kesehatannya telah luluh lantak, mencari satu kantong darah dengan golongan langka berubah menjadi perjalanan siksaan mingguan yang mustahil.
“Bank Darah Pusat di Gaza sudah lama kosong, tidak memiliki stok untuk golongan darah langka seperti istri saya. Hidup kami berubah menjadi perlombaan yang gila, berkejaran dengan waktu hanya untuk mencari obat pereda nyeri (analgesik) setelah tubuhnya benar-benar menolak dan tidak bisa lagi menelan makanan,” kenang Sameh dengan nada bicara yang bergetar menahan perih.
Menunggu Evakuasi Medis di Antara Pintu yang Terkunci
Suhaila akhirnya meninggal dunia pada malam Jumat lalu. Namun, kisahnya hanyalah puncak gunung es dari penderitaan ribuan pasien kronis di Gaza. Di wilayah di mana menyewa sebuah mobil untuk pergi ke rumah sakit atau sekadar membeli obat-obatan esensial telah menjadi beban finansial yang melampaui kemampuan nalar manusia, kematian terasa mengintai di setiap sudut ruangan.
Berdasarkan data resmi dari Perhimpunan Bulan Sabit Merah Palestina, krisis evakuasi medis di Gaza saat ini telah berada di titik paling kritis.










