RAMALLAH — Langit di atas Desa Taybeh, sebuah pemukiman mayoritas Kristen di timur Ramallah, Tepi Barat, mendadak berubah kelabu pada Selasa malam. Bukan karena mendung, melainkan asap pekat yang membubung dari ladang-ladang pertanian yang sengaja dibakar.
Bagi warga setempat, pemandangan itu adalah lonceng bahaya. Taybeh bukan desa biasa; ini adalah satu-satunya desa Kristen yang tersisa secara utuh di Tepi Barat. Namun, sebuah aksi teror terstruktur oleh sekelompok pemukim Israel baru-baru ini membuat desa yang dikenal damai ini berada di titik nadir ancaman.
Narasi Teror: Saat Pemadam Kebakaran Dihalangi
Insiden tersebut bukan sekadar aksi vandalisme acak. Kelompok advokasi “Sound of Jerusalem for Justice” menyebut serangan ini sebagai bukti nyata pola kekerasan yang terus meningkat dan sistematis terhadap desa-desa Palestina.
Kengerian malam itu digambarkan secara gamblang oleh Pastor Bashar Fawadleh, seorang rohaniwan Katolik di Taybeh. Menurut kesaksiannya, para pemukim sengaja menyulut api di kawasan Gunung Al-Masayes, tepat di seberang SPBU setempat. Ironisnya, saat tim pemadam kebakaran Palestina berusaha datang untuk menjinakkan api, mereka justru dihalang-halangi.
Alasan yang digunakan? Masalah “koordinasi keamanan” yang sengaja diada-adakan untuk membiarkan api merembet lebih luas, mengancam rumah dan properti warga.
Tak berhenti di situ, keberanian warga untuk melindungi tanah mereka justru dibalas dengan kekerasan fisik. Para pemuda desa yang mencoba memadamkan api dengan tangki air justru dikepung. Tidak hanya diintimidasi, ada laporan mengenai pengrusakan kendaraan, pencurian ponsel, hingga aksi yang jauh lebih mematikan: penembakan peluru tajam ke arah warga sebanyak tiga kali.
“Ini bukan insiden terisolasi. Ini adalah mata rantai dari rangkaian kekerasan yang terus berulang tanpa ada tindakan tegas. Kekerasan ini mengancam nyawa, menghancurkan milik warga, dan bertujuan meneror komunitas yang tidak punya dosa lain selain keberadaan mereka di tanah leluhur,” tulis pernyataan resmi yang dibagikan melalui akun Mounseigneur Atallah Hanna.
Simbol Warisan yang Terancam Punah
Di jagat maya, kemarahan publik meluas. Banyak warganet yang baru menyadari status simbolis Taybeh sebagai desa Kristen terakhir di Tepi Barat. Warga yang mayoritas berasal dari denominasi Katolik Latin, Yunani Ortodoks, dan Melkite ini telah menjaga eksistensi mereka selama berabad-abad, menjadi penjaga memori kuno di Tanah Suci.
Sentimen sejarah pun menguat. Banyak pihak mengaitkan Taybeh dengan kota “Efraim” yang disebut dalam Injil Yohanes (11:54), tempat di mana Yesus pernah menarik diri bersama murid-murid-Nya sebelum masa-masa sengsara-Nya.
“Di sinilah Yesus berjalan. Dan Israel sekarang sedang menghancurkan tempat suci ini,” tulis salah satu warganet dengan nada getir.
Kecaman Internasional dan Keheningan yang Disayangkan
Gelombang kritik tidak hanya datang dari warga lokal, tetapi juga mulai menggema di panggung internasional. Mantan anggota Kongres AS, Marjorie Taylor Greene, bahkan melontarkan kritik pedas terhadap minimnya pengetahuan (atau mungkin keengganan) publik Amerika untuk melihat realitas ini.
“Banyak yang mengira berita ini bohong. Sayangnya, ini adalah kenyataan yang menyakitkan, sementara yang lain memilih untuk bungkam,” tulis Greene.
Di level yang lebih tinggi, Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres pun angkat bicara. Ia menyoroti pola kekerasan pemukim yang kian tak terkendali di Tepi Barat, mulai dari pembongkaran rumah, perluasan pemukiman ilegal, hingga ancaman aneksasi yang dianggap tidak memiliki dasar hukum sama sekali.
Serangan di Taybeh seolah menjadi pengingat pahit bagi dunia bahwa di balik retorika politik, ada komunitas yang sedang berjuang keras untuk sekadar tetap “ada” di tanah kelahiran mereka sendiri. Di desa yang pernah disinggahi Yesus ini, kedamaian kini bukan lagi hak, melainkan sesuatu yang harus diperjuangkan di tengah kepulan asap yang tak kunjung padam.
Sumber: Al Jazeera/Media Sosial Palestina










