GAZA — Di belahan bumi lain, lampu-lampu stadion megah sedang disorot, karpet hijau diratakan, dan ribuan suporter mulai memesan tiket untuk merayakan pesta sepak bola terbesar sejagat, Piala Dunia. Namun di Jalur Gaza, atmosfer menjelang kick-off akbar itu terasa hambar, kalau tidak mau disebut mati. Di sini, alih-macam gemuruh yel-yel penonton, satu-satunya suara yang akrab di telinga para atlet adalah desing drone dan ledakan artileri yang tak kunjung jeda selama hampir tiga tahun terakhir.

Salah satu potret redupnya sepak bola Gaza ada pada sosok Mahmoud Sulmi. Dahulu, nama Sulmi adalah jaminan mutu di lini serang. Pergerakannya lincah, liukannya kerap merepotkan barisan pertahanan lawan di liga domestik Gaza, menjanjikannya jalan lempang menuju skuad elit. Kini, semua proyeksi karier itu menguap.

Sulmi, bersama ribuan pesepak bola dan atlet profesional Gaza lainnya, dipaksa pensiun dini oleh keadaan. Panggung mereka runtuh, menyisakan rutinitas monoton yang getir: mengantre air bersih di kamp pengungsian dan bertahan hidup dari hari ke hari.

Sepatu Pul yang Berganti Sandal jepit

“Kami kehilangan segalanya, terutama mata pencaharian,” ujar Sulmi saat ditemui jurnalis di tenda daruratnya. Ia kini mengungsi dari Stadion Al-Durrah, tempat yang dulu menjadi saksi bisu gol-gol indahnya, namun kini telah bersalin rupa menjadi kamp pengungsian vertikal yang sesak.

“Sulit menggambarkan penderitaan ini dengan kata-kata. Kami yang dulunya berlari mengejar prestasi, sekarang harus menghabiskan energi hanya untuk memastikan keluarga kami bisa makan esok hari,” ujar Mahmoud Sulmi, Pemain Sepak Bola Gaza.

Kontras tajam ini yang menjadi ironi terbesar menjelang Piala Dunia 2026. Ketika miliaran pasang mata bersiap menatap layar kaca, stadion-stadion di Gaza (baik yang bertaraf nasional maupun lapangan komunitas) telah rata dengan tanah.

Struktur bangunan yang tersisa tidak lagi menyisakan ruang untuk papan skor, melainkan telah disekat-sekat oleh kain terpal menjadi bilik-bilik sempit tempat ribuan keluarga bernaung dari dingin dan lapar.

Kehilangan Ruang Aman, Menghitung Kursi Kosong

Jurnalis olahraga senior di Gaza, Alayan Al-Zaytoun, menggambarkan situasi ini dengan nada masygul. Menurutnya, ekosistem olahraga di kantong pemukiman terkepung itu sudah lumpuh total secara struktural.

“Jangan tanya di mana klub-klub lokal berlatih. Tidak ada lagi satu jengkal pun lapangan formal yang tersisa. Lapangan futsal mini (khumasi) yang biasanya menjadi alternatif terakhir anak-anak muda di gang-gang sempit pun ikut hancur terkena serpihan rudal,” kata Al-Zaytoun.

Dampak sosialnya jauh melampaui hilangnya kompetisi profesional. Anak-anak Gaza kini kehilangan ruang aman terkecil mereka untuk sekadar bermain bola plastik. Lapangan umum dan halaman sekolah yang dulunya riuh oleh tawa bocah-bocah, kini telah berubah fungsi: sebagian menjadi pusat evakuasi yang pengap, sebagian lagi menjelma menjadi kuburan massal darurat.

Sensus Berdarah Komunitas Olahraga

Berdasarkan rilis resmi terbaru dari Asosiasi Sepak Bola Palestina (PFA) bersama Komite Olimpiade Palestina, harga yang harus dibayar oleh komunitas olahraga Gaza terlalu mahal. Sebanyak 1.007 atlet, pelatih, dan ofisial olahraga gugur sejak eskalasi pecah, di mana 45 di antaranya merupakan atlet wanita.

Angka ini bukan sekadar statistik di atas kertas; mereka adalah generasi emas yang hilang, para pelari, perenang, dan pesepak bola yang harusnya hari ini ikut mewarnai kualifikasi internasional atau setidaknya menjaga denyut nadi kompetisi lokal.

Hancurnya ratusan infrastruktur olahraga ini adalah upaya sistematis pembunuhan karakter budaya suatu bangsa (cultural cide). Ketika sebuah peradaban dihancurkan, ruang-ruang kreasi ekspresi seperti seni dan olahraga adalah yang pertama kali dibungkam.

Di saat genderang Piala Dunia mulai bertalu di kota-kota megapolitan dunia, para pencinta bola di Gaza hanya bisa menatap langit-langit tenda, mengubur mimpi-mimpi lapangan hijau mereka jauh di dalam tanah bersama jasad rekan-rekan setim mereka yang telah tiada.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here