GAZA TENGAH – Hari Raya Idul Adha yang jatuh pada akhir Mei 2026 ini tidak membawa gaung takbir sukacita ke dalam tenda-tenda komunal di Gaza Tengah. Bagi puluhan ribu anak yatim di Jalur Gaza, momentum hari raya justru menjadi fase paling menyiksa.

Perayaan yang seharusnya diwarnai dengan kehangatan pelukan seorang ayah dan tradisi potong hewan kurban, kini bertransformasi menjadi ruang pengingat akan hilangnya lapis pelindung utama hidup mereka.

Nestapa ini terekam jelas di dalam Kamp “Dar Al-Rajaa” untuk Anak Yatim, sebuah kantong penampungan darurat di sektor tengah Jalur Gaza. Di sinilah Yumna, Sana, dan Muhammad mencoba bertahan hidup. Mereka adalah representasi dari generasi baru Gaza yang dipaksa dewasa sebelum waktunya, setelah mesin perang meremukkan rumah mereka dan merenggut sosok ayah yang biasa membelikan baju baru serta menggandeng tangan mereka ke tempat hiburan.

“Dunia Terlalu Sepi Tanpa Ayah”

Bagi Yumna Abu Rahma, seorang anak perempuan berusia 11 tahun, hilangnya figur ayah telah meruntuhkan seluruh fondasi kebahagiaannya. “Hidup ini terlalu sulit tanpa ayah,” tuturnya lirih.

Tahun ini, Yumna tidak mengenakan gaun baru, tidak bisa pergi ke taman bermain, dan tidak ada lagi ritual memotong daging kurban untuk dibagikan kepada tetangga miskin seperti yang biasa ayahnya lakukan. Kehilangan ini membuat makna “lebaran” menguap total. Untuk mengobati kerinduan yang mendalam, Yumna hanya bisa menatap sebuah rekaman video pendek berdurasi beberapa detik di ponsel tuanya, satu-satunya artefak digital yang merekam suara sang ayah sebelum gugur.

“Aku hanya ingin memutar waktu ke belakang, agar bisa mendengar suaranya secara langsung sekali lagi,” katanya.
Nasib serupa menimpa Sana Al-Jahjouh. Dampak serangan udara tidak hanya merenggut ayahnya, melainkan menghapus seluruh garis keturunan laki-laki di keluarganya, termasuk paman dari pihak ayah dan ibu.

Sana mengenang bagaimana sebelum perang ia biasa menghias kamarnya dengan lampu gantung menyambut hari raya. Kini, realitas hidupnya menyusut di dalam tenda plastik yang pengap dan penuh sesak.

               

Pemberangusan Masa Kecil dan Beban Air Bersih

Di sudut lain kamp, Muhammad Badwan (13 tahun) hanya bisa menatap nanar ke arah luar pagar kawat. Pada hari raya ini, ibunya melarang keras Muhammad keluar untuk sekadar bermain ayunan bersama anak-anak lain.

Sang ibu didera trauma mendalam; ia tidak ingin kehilangan anak laki-lakinya setelah sang suami gugur terkena pecahan peluru kendali.

“Perang ini tidak hanya membunuh ayahku, tapi juga membunuh impianku untuk menjadi pemain sepak bola profesional,” kata Muhammad dengan tatapan tajam. “Tanpa ayah, tidak ada rasa untuk hari raya atau apa pun.”

Di usianya yang baru menginjak 13 tahun, Muhammad harus memikul tanggung jawab kepala keluarga. Saban pagi, ia harus mengantre berjam-jam di fasilitas takiyah (dapur umum swadaya) untuk mendapatkan sepiring makanan, lalu berjalan berkilo-kilometer memikul galon jeriken demi mendapatkan air bersih untuk ibu dan adik-adiknya.

“Aku hidup di umur yang bukan umurku. Kenapa aku tidak bisa hidup normal seperti anak-anak lain di dunia?” tanyanya retoris.

Dapur Data: Lanskap Yatim Piatu Jalur Gaza

Krisis kemanusiaan yang mendera Yumna, Sana, dan Muhammad merupakan bagian dari fenomena yatim massal terbesar dalam sejarah modern Palestina. Berdasarkan data resmi yang dirilis oleh Biro Pusat Statistik Palestina (PCBS), perang yang meletus sejak Oktober 2023 hingga Mei 2026 ini telah mematangkan statistik kematian anak pada level yang mengerikan.

Berikut adalah indikator riil mengenai kondisi demografis anak-anak di Jalur Gaza:

Parameter Demografi AnakAngka Statistik AktualSumber Data / Otoritas
Total Anak Yatim di Gaza58.000 AnakPCBS (Update April-Mei 2026)
Anak-Anak Gugur (Syahid)21.000 JiwaBiro Statistik Umum Palestina
Kerusakan Fasilitas Sipil90% Infrastruktur RuntuhData Agregat Kementerian Hukum
Status PengasuhanKehilangan salah satu/kedua ortuMayoritas terlantar di kamp darurat
          

Hingga akhir Mei 2026, meskipun kesepakatan gencatan senjata telah diumumkan sejak Oktober 2025 lalu, sisa-sisa kehancuran dan trauma psikologis di Gaza Utara dan Tengah tetap berada di fase akut.

Dengan hilangnya 58.000 figur ayah dan ibu di seantero strip tanah tersebut, masa depan generasi muda Gaza kini tumbuh di atas tumpukan puing-puing beton, tanpa ada jaminan pemulihan trauma psikologis, dan terkunci di dalam siklus kemiskinan struktural yang panjang.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here