Empat hari mendekam di balik jeruji besi militer Israel menjadi memori paling kelam bagi para relawan kemanusiaan Global Sumud Flotilla 2.0. Namun, di balik trauma penyiksaan yang mereka alami, tersimpan potret yang jauh lebih mengerikan mengenai nasib ribuan warga Palestina yang hingga kekinian masih berada dalam penjara.
Steering Committee Global Sumud Flotilla, Maimon Herawati, membeberkan kesaksian mencekam setibanya di Bandara Soekarno-Hatta, Ahad (24/5/2026).
Ia menegaskan bahwa apa yang dialami para relawan dunia belum sebanding dengan penderitaan sembilan ribu rakyat Palestina yang menjadi penghuni tetap “lubang hitam” hukum tersebut.
“Pada saat teman-teman kami di dalam penjara empat hari, yang harus kita lihat 9 ribu lebih bangsa Palestina masih mendekam dalam penjara. Penyiksaan yang dialami oleh teman-teman saya, itu belum seberapa (dengan) penyiksaan yang dialami oleh bangsa Palestina,” ujar Maimon.
Maimon salah satunya menyoroti tindakan keji Israel yang menyasar tenaga medis. Ia mencontohkan kasus dr. Husam Abu Safiya, pemimpin Rumah Sakit Kamal Adwan, yang hingga kini masih ditawan.
“dr Husam Abu Safiya, pemimpin Rumah Sakit Kamal Adwan sampai sekarang masih dipenjara. Alasannya apa? Karena beliau menolak menghentikan perawatan kepada bangsa Palestina,” jelasnya.
Bahkan, Maimon mengungkap sebuah tragedi kemanusiaan yang menimpa seorang dokter bernama Adnan Al-Bursh. Dokter tersebut dilaporkan meninggal dunia akibat kekerasan seksual yang dialaminya saat berada di dalam penjara.
“Lihat apa yang mereka lakukan di depan kamera belum seberapanya dibandingkan dengan apa yang mereka lakukan di balik kamera,” tegas Maimon.
Lebih lanjut, Maimon memaparkan bahwa Israel menggunakan sistem detention administration atau penahanan administratif untuk melegalkan penyekapan warga Palestina tanpa proses hukum yang jelas.
Sistem ini memungkinkan siapa saja dipenjara selama enam bulan tanpa alasan hukum yang sah.
“Karena ada satu sistem, detention administration (penahanan administratif) di mana boleh dipenjara enam bulan tanpa klausul apa pun. 9 ribu lebih saat ini dalam penjara, 400 di antaranya adalah anak-anak, lebih dari 200 adalah perempuan dan semua mengalami penyiksaan yang di luar batas kemanusiaan,” tuturnya.
Maka itu, ia menegaskan misi Global Sumud Flotilla belum selesai. “Kami berangkat bukan hanya membawa bantuan, tetapi juga ingin membebaskan tahanan Palestina. Kerja belum selesai sampai seluruh tahanan Palestina bebas,” tegasnya.
Dalam kesempatan itu, Maimon juga menyoroti terus meluasnya pendudukan Israel di Gaza. Menurutnya, meski dunia menyebut adanya gencatan senjata, realitas di lapangan justru menunjukkan sebaliknya.
“Saat penandatanganan kesepakatan damai, Israel menguasai 53 persen wilayah Gaza. Sekarang mereka menguasai 64 persen. Artinya hanya tersisa 36 persen wilayah untuk dua juta penduduk Gaza. Ini bukan gencatan senjata, ini genosida,” katanya.
Di akhir pernyataannya, Maimon mengingatkan bahwa Indonesia memiliki utang sejarah kepada Palestina.
Ia menyinggung peran Mufti Palestina Muhammad Amin al-Husseini yang pernah menyuarakan dukungan bagi kemerdekaan Indonesia, serta tokoh Palestina Mohammad Ali Taher yang disebut memberikan bantuan dana kepada perjuangan Indonesia.
“Presiden Soekarno pernah mengatakan bahwa pekerjaan rumah Konferensi Asia Afrika adalah kemerdekaan Palestina. Itu adalah amanah sejarah yang harus terus kita perjuangkan,” pungkasnya.










