GAZA — Tujuh bulan pasca-penandatanganan kesepakatan gencatan senjata, situasi di Jalur Gaza nyatanya jauh dari kata damai. Kantor Hak Asasi Manusia PBB di Palestina menegaskan bahwa pelanggaran militer Israel yang tiada henti telah menjerumuskan warga Gaza ke dalam realitas yang sangat tragis. Fakta di lapangan menunjukkan, warga Palestina (termasuk anak-anak) terus diburu dan dibunuh di mana pun mereka berada.
Juru Bicara Kantor HAM PBB untuk Palestina, Mai Al-Shaikh, dalam wawancara khusus bersama Al Jazeera, membeberkan rapor merah pelanggaran kemanusiaan Israel sejak kesepakatan gencatan senjata diteken pada Oktober lalu. Berdasarkan data yang dihimpun, lebih dari 880 warga Palestina syahid akibat berondongan peluru dan bom pasukan penjajah justru sejak “gencatan senjata” resmi berlaku.
Al-Shaikh menegaskan bahwa kejahatan perang di Gaza tidak pernah benar-benar berhenti. Tel Aviv dituding sengaja mengubah status gencatan senjata menjadi tameng hukum untuk melegitimasi operasi pembunuhan senyap. Baru-baru ini saja, sedikitnya 180 warga sipil syahid mengenaskan di dalam tenda-tenda pengungsian dan di jalanan akibat serangan udara serta tembakan artileri kapal perang Israel.
Pihak PBB mengonfirmasi bahwa serangan udara Israel tetap aktif, terutama melalui pengoperasian pesawat tanpa awak (drone) pengintai yang menjatuhkan peledak, peluru kendali, serta bombardir dari laut.
Pejabat PBB tersebut juga memperingatkan adanya ancaman bencana kemanusiaan berlapis yang dipicu oleh mandeknya total proyek rekonstruksi pascaperang. Israel disebut sengaja mencekik jalur logistik kemanusiaan di Gaza dengan cara menjatah pasokan makanan dan obat-obatan secara ketat, sembari terus menebar teror psikologis di kalangan keluarga pengungsi yang memadati sepanjang garis pantai Jalur Gaza.
Menurutnya, tindakan brutal ini sama sekali tidak mencerminkan esensi dari sebuah kesepakatan gencatan senjata, di mana status pengungsian paksa masih menjerat mayoritas mutlak penduduk Gaza.
Krisis Logistik: Bantuan Dikepras hingga 70 Persen
Sejalan dengan temuan PBB, Kantor Media Pemerintah di Gaza merilis peringatan keras mengenai dampak pemangkasan pasokan bantuan kemanusiaan dan bahan bakar yang kian memperparah krisis fisik warga. Dari Jenewa, sejumlah organisasi kemanusiaan internasional juga melayangkan seruan darurat terkait memburuknya indikator hidup di kantong blokade tersebut.
Dalam pernyataan resminya, Kantor Media Pemerintah mengungkapkan bahwa mobilitas warga melalui pintu perbatasan Rafah sepanjang periode 15 hingga 21 Mei ini berjalan sangat lambat. Pergerakan di perbatasan tidak menyentuh angka 28 persen dari target kemanusiaan yang disepakati.
Tercatat hanya 403 orang yang diizinkan melintas keluar, dari total 2.400 pasien dan kasus darurat yang seharusnya dievakuasi untuk pengobatan medis.
Kondisi jalur logistik barang bahkan jauh lebih memprihatinkan. Di periode yang sama, hanya ada 2.287 truk bantuan yang diizinkan masuk ke Gaza dari target minimal 4.200 truk yang dijanjikan. Artinya, terjadi defisit pasokan bantuan hingga melebih 70 persen.
“Pembatasan ketat pada pergerakan manusia, bantuan pangan, dan bahan bakar ini sengaja dirancang untuk mengunci Gaza dalam lingkaran krisis abadi. Mustahil ada pemulihan kehidupan yang nyata di atas puing-puing kehancuran ini jika jalurnya terus disumbat,” tulis otoritas Gaza dalam rilis resminya.
Ancaman Status Quo Pengungsian Abadi
Di panggung diplomasi internasional, Perwakilan “Dewan Perdamaian” untuk Gaza, Nikolay Mladenov, melempar peringatan keras di hadapan Dewan Keamanan PBB. Mladenov menggarisbawahi risiko besar jika realitas darurat di Gaza saat ini dibiarkan mengkristal menjadi status quo yang permanen—di mana pembangunan kembali dihambat total dan penduduk dipaksa hidup bergantung pada belas kasihan bantuan internasional yang dijatah.
Badan Pengungsi PBB untuk Palestina (UNRWA) ikut menegaskan bahwa krisis di Gaza sudah jauh melampaui sekat-sekat perdebatan politik. Ini adalah krisis eksistensial yang menghantam kebutuhan paling mendasar manusia: makanan, akses kesehatan, sanitasi air bersih, dan atap untuk berteduh.
Sementara itu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menutup laporan dengan peringatan medis yang suram: ribuan korban luka parah di Gaza saat ini terancam cacat permanen atau tewas perlahan karena tidak mendapatkan penanganan medis yang layak akibat rusaknya fasilitas rumah sakit dan tiadanya obat-obatan penunjang.
Sumber: Al Jazeera










