Al-Quds kembali berada di bibir jurang. Sebuah rencana yang disebut-sebut paling berbahaya dalam dekade ini tengah digodok, memaksa masuknya pemukim Yahudi ke Masjid Al-Aqsa tepat di hari Jumat, hari tersuci umat Islam yang kali ini bertepatan dengan peringatan maut Nakba dan hari pendudukan Al-Quds.
Al-Quds – Jumat, 15 Mei mendatang, bukan sekadar tanggal di kalender bagi warga Palestina. Tahun ini, tanggal tersebut adalah titik temu tiga momentum ledak: peringatan 78 tahun tragedi Nakba (pengusiran besar-besaran 1948), peringatan versi Ibrani atas pendudukan Al-Quds Timur 1967, dan parade bendera provokatif kelompok sayap kanan Israel.
Namun, ada satu variabel baru yang membuat situasi kali ini jauh lebih genting, upaya sistematis untuk memecahkan aturan main (status quo) yang telah bertahan sejak 1967. Untuk pertama kalinya dalam puluhan tahun, otoritas Israel dan organisasi radikal Yahudi “Temple Mount” mencoba memaksakan serbuan pemukim ke dalam kompleks Al-Aqsa pada hari Jumat.
Selama ini, kepolisian Israel mengikuti protokol sejak 2003 yang melarang non-Muslim masuk pada hari Jumat dan Sabtu, waktu di mana puluhan ribu jemaah Muslim tumpah ruah untuk salat. Jika gerbang dibuka bagi pemukim di hari itu, Yerusalem dipastikan bakal membara.
Strategi Bertahap Sang Penjajah
Lembaga Internasional Al-Quds telah membunyikan alarm keras. Mereka mencium adanya koordinasi rapi antara pemerintah Israel dan kelompok mesianis untuk mengubah Al-Aqsa menjadi “musim penyerangan” permanen. Rencana ini tak hanya soal hari Jumat, tapi juga upaya menambah jam kunjungan di sore hari pada hari Kamis.
Tujuan akhirnya jelas, pembagian ruang dan waktu. Istilah “hak setara” yang sering didengungkan kelompok sayap kanan hanyalah kedok untuk perlahan-lahan mengikis kedaulatan Wakaf Islam Yordania atas masjid tersebut.
Ziad Ibhais, peneliti senior urusan Al-Quds, menilai manuver tahun ini sebagai “perang kedaulatan”. “Masjid Al-Aqsa pada hari Jumat adalah benteng terakhir pertahanan jemaah. Memaksakan serbuan di hari itu adalah upaya langsung untuk mematahkan kehendak rakyat Palestina,” ujarnya kepada Al Jazeera.
Panggung Politik dan Ambisi Ben-Gvir
Bukan rahasia lagi jika isu Al-Aqsa adalah komoditas politik yang laris manis di pasar domestik Israel. Sebanyak 22 pejabat tinggi, termasuk sembilan menteri dan 13 anggota Knesset, telah menandatangani surat desakan kepada kepolisian untuk mengizinkan serbuan hari Jumat ini.
Nama-nama besar dari Partai Likud pimpinan Netanyahu kini berlomba-lomba menunjukkan taji di depan pemilih kanan garis keras. Mereka tak mau kalah panggung dari Menteri Keamanan Nasional, Itamar Ben-Gvir, yang kabarnya tengah merancang aksi provokatif masuk ke Kubah Shakhrah (Dome of the Rock) untuk menepikan peran Wakaf Islam.
Perlawanan di Garis Terakhir
Di sisi lain, warga Palestina tak tinggal diam. Ziad Ibhais menyerukan gerakan Ribat (berjaga di dalam masjid) sebagai pagar terakhir. Warga diminta mulai memadati Al-Aqsa sejak Kamis siang dan berdiam di sana hingga Jumat, meski blokade militer Israel dipastikan akan mempersempit ruang gerak mereka.
Hingga laporan ini diturunkan, pihak kepolisian Israel masih tampak bimbang. Mereka sadar betul bahwa menyentuh Al-Aqsa di hari Jumat adalah bermain api di tengah gudang mesiu. Namun, tekanan politik dari dalam kabinet yang kian radikal membuat opsi penyerangan tetap terbuka lebar.
Bagi warga Palestina, mempertahankan Al-Aqsa di hari Nakba ini bukan sekadar urusan ibadah. Ini adalah simbol identitas yang tersisa, garis pertahanan pertama melawan proyek penghapusan eksistensi mereka di tanah Al-Quds.
Sumber: Diterjemahkan dan Diolah dari Al Jazeera










