ISTANBUL – Koordinator Global Peace Convoy Indonesia (GPCI) sekaligus steering committee Global Sumud Flotilla (GSF), Dr Maimon Herawati, melontarkan kecaman pedas terhadap tindakan militer Israel yang mencegat armada kemanusiaan mereka. Dia juga meminta agar Israel segera membebaskan aktivis GSF Saif Abu Kishk dan Thiago Avila.
Saif Abu Kishk dan Thiago Avila diseret dan diculik oleh otoritas Israel saat berada di perairan internasional, wilayah yang seharusnya haram bagi tindakan koersif militer semacam itu.
“Kami mengecam keras penculikan Saif dan Thiago. Ini adalah penahanan ilegal dan kami menuntut Israel segera membebaskan mereka tanpa syarat,” tegasnya dalam pernyataan resmi di Turki, Selasa, 5 Mei 2026.
Bagi GSF, penangkapan ini bukan sekadar urusan nasib dua orang relawan, melainkan simbol dari pengabaian hukum internasional yang lebih besar. Mereka mengingatkan kembali dunia pada keputusan Mahkamah Internasional (ICJ) tahun 2024 yang memerintahkan penghentian tindakan yang mengarah pada genosida di Jalur Gaza.
Namun, di lapangan, kenyataan justru berkata sebaliknya. Blokade masih mencekik leher Gaza, dan bantuan kemanusiaan tertahan di gerbang-gerbang besi yang dijaga moncong senjata.
“Kami mendesak pemerintah di seluruh dunia untuk menggunakan kekuasaan mereka. Hentikan genosida ini sesuai mandat ICJ. Israel harus dipaksa membuka akses bantuan bagi dua juta warga Palestina yang kini terkurung,” ujar Maimon.
Kondisi di dalam kantong Gaza sendiri sudah melampaui ambang batas tragedi. Laporan terbaru menyebutkan setidaknya satu juta warga di sana kini berada dalam jerat kelaparan akut. Stok pangan habis, sumber air hancur, dan bantuan yang masuk hanya tetesan kecil di tengah padang pasir kebutuhan yang luas.
Narasi yang dibangun oleh GSF dan GPCI adalah narasi perlawanan sipil. Ada nada kekecewaan mendalam terhadap lambannya gerak diplomasi formal yang dilakukan oleh negara-negara besar.
“Kami hanyalah warga sipil. Kami memutuskan untuk bergerak karena melihat pemerintah di dunia hanya diam membisu,” pungkasnya.
Thiago dan Saif Alami Penyiksaan Brutal
Lubna Touma, pengacara dari pusat hukum Adalah, membeberkan detail yang mengoyak rasa kemanusiaan. Dua aktivis, Thiago Avila (Brasil) dan Saif Abu Kishk (Spanyol), dipisahkan dari 170 rekan mereka sesama awak armada. Keduanya tidak dideportasi, melainkan diseret ke daratan Israel melalui jalur laut untuk sebuah “penyambutan” yang brutal.
Di atas kapal militer, menurut Touma, keduanya diperlakukan layaknya pesakitan kelas wahid. Mereka dipaksa tiarap, kepala ditekan ke lantai, sembari dihujani makian, ludah, dan kekerasan fisik dalam kondisi mata tertutup rapat. Thiago bahkan dikabarkan sempat pingsan dua kali akibat hantaman benda tumpul.
Upaya pembelaan hukum pun bak membentur tembok. Saat tim pengacara menyambangi penjara pada Sabtu lalu, otoritas Israel menolak membeberkan tuduhan resmi terhadap kedua aktivis tersebut. Tabir baru terbuka di ruang sidang: Israel menyodorkan lima pasal keamanan, mulai dari keanggotaan organisasi teroris hingga membantu musuh di masa perang.
Bagi Touma, pasal-pasal ini adalah sebuah hiperbola hukum. “Targetnya jelas: menggoreng isu keamanan agar kasus ini terlihat sangat berbahaya,” ujarnya.










