Di Palestina, kamera dan pena telah menjelma menjadi barang bukti kejahatan di mata pendudukan Israel. Saban 3 Mei, dunia merayakan kebebasan pers, namun bagi para jurnalis di Tepi Barat dan Gaza, kebebasan adalah kemewahan yang dibayar dengan nyawa, jeruji besi, dan penghilangan paksa.
Mereka yang biasanya sibuk merajut kisah duka warga lewat bidikan lensa dan goresan pena, kini justru menjadi subjek berita itu sendiri. Nama-nama mereka yang dulu menghiasi baris byline, sekarang tertulis di daftar tunggu pengadilan militer atau, lebih buruk lagi, di atas nisan.
Saat dunia gegap gempita memperingati Hari Kebebasan Pers Sedunia, kisah Mohammad Abu Thabit dan Hazem Nasser berdiri sebagai monumen hidup (atau setidaknya sisa hidup) dari upaya sistematis Israel memberangus saksi mata. Mereka dilesapkan ke balik terali besi, meninggalkan keluarga yang dipaksa menelan pil pahit ketidakpastian.
Ruang Kosong di Bait Dajan
Di sebuah sudut rumah di Beit Dajan, dekat Nablus, Nawal Abu Thabit mencoba mengalihkan perhatian cucu-cucunya. Yang paling kecil, bocah dua tahun, terus mencari sosok ayahnya. Mohammad Abu Thabit, sang jurnalis, menghilang dari rumah sejak 10 Februari lalu.
“Mohammad meninggalkan beban yang berat; lima orang anak,” ujar Nawal kepada Al Jazeera. Suaranya berat, menyimpan rindu yang tak sampai. Di tengah blokade informasi dan larangan kunjungan pengacara, Nawal hanya bisa memunguti kabar burung dari para tawanan yang baru bebas. “Sekali waktu mereka bilang Mohammad ada di Penjara Megiddo, lain waktu katanya di Penjara Ofer.”
Pasukan Israel menciduk Mohammad di Shuweika, Tulkarem. Tuduhannya klasik dan generik: “hasutan”. Namun keluarga tahu alasan sebenarnya jauh lebih sederhana. “Mereka tidak ingin ada orang yang mendokumentasikan kejahatan mereka,” tukas sang ibu.
Linu itu kian terasa setiap sore, saat jarum jam menunjukkan waktu Mohammad biasanya pulang kerja. Si bungsu akan berdiri di depan pintu, meracau dalam bahasa kanak-kanaknya: “Papa diambil tentara, dipukul.” Kalimat itu seperti sembilu yang menyayat hati Nawal.
Pajak untuk Kata-kata Merdeka
Radwan Abu Thabit, ayah Mohammad, mencoba tegar meski matanya bicara lain. Baginya, penangkapan anaknya bukan sekadar urusan keluarga, melainkan serangan terhadap hak bicara. “Menjadi jurnalis bukan kejahatan. Tapi kita hidup di bawah pendudukan yang pahit, yang kerjanya menyumbat mulut,” katanya.
Mohammad, menurut sang ayah, adalah “dinamo” keluarga yang kini membayar pajak atas keberaniannya bersuara. Di Hari Kebebasan Pers ini, Radwan melempar peringatan keras kepada dunia: “Mohammad tidak sendiri. Jika dunia diam hari ini, besok tidak akan ada lagi yang tersisa untuk menyampaikan kebenaran.”
Nasib serupa menimpa Hazem Nasser. Ditangkap sejak Juli tahun lalu, Hazem bukan orang baru dalam urusan jeruji besi. Ia pernah diciduk baik oleh otoritas Israel maupun aparat keamanan Palestina. Namun, kali ini terasa lebih gelap.
Emad Nasser, ayah Hazem, mengisahkan betapa hancurnya psikologi sang cucu. Bocah itu menolak merayakan ulang tahunnya. Ia bersikeras lilin hanya boleh ditiup jika ayahnya hadir. “Beri tahu saya, bagaimana menghadapi anak ini? Bagaimana saya menjawab pertanyaannya?” tanya Emad lirih.
Burung yang Dilepas ke Langit
Kemarahan Emad memuncak pada lembaga-lembaga pers internasional yang dianggapnya tutup mata. Hazem pernah tertembak peluru Israel di Jenin tiga tahun lalu dan hampir kehilangan nyawa. Namun, perlindungan terhadapnya nyaris nihil. “Sistem global yang menciptakan Hari Kebebasan Pers ini tidak menghormati jurnalis, bahkan tidak menghormati manusia,” kecamnya.
Puncak dari drama ini terekam dalam aksi sederhana cucunya, Emad Junior. Bocah itu memiliki seekor burung dalam sangkar yang ia beri nama “Papa”. Suatu hari, di bawah langit Palestina, ia membuka pintu sangkar itu lebar-lebar.
“Terbanglah, Papa!” teriaknya saat sang burung melesat ke angkasa. Sebuah doa anak kecil agar ayahnya bisa merdeka, sebebas burung di langit.
Genosida terhadap Kebenaran
Data dari Klub Tawanan Palestina dan Komisi Urusan Tawanan menggambarkan horor yang lebih sistematis. Sejak perang pecah di Gaza:
- Lebih dari 260 jurnalis syahid dalam apa yang disebut sebagai “pembunuhan massal terencana”.
- Sekitar 240 jurnalis sempat ditahan.
- 40 jurnalis masih mendekam di sel, 20 di antaranya ditahan tanpa pengadilan (tahanan administratif).
- 14 jurnalis Gaza masih hilang, diduga berada dalam kondisi “penghilangan paksa”.
Daftar ini kian kelam dengan kematian Marwan Herzallah pada Maret lalu di Penjara Megiddo. Ia diduga menjadi korban “pembunuhan pelan-pelan” akibat penolakan akses medis.
Hari ini, di Palestina, kebenaran adalah komoditas yang berbahaya. Dan para jurnalisnya adalah martir yang rela mati demi memastikan dunia tidak tidur dalam ketidaktahuan.
Sumber: Diterjemahkan dan diolah dari laporan Al Jazeera dan lembaga HAM Palestina.










