AL-QUDS – Militer Israel (IDF) akhirnya ditarik mundur dari Kamp Pengungsi Qalandia dan Kota Ar-Ram setelah melakukan blokade total selama 18 jam. Mereka meninggalkan jejak perusakan properti, trauma warga, dan serangkaian ancaman yang disebar melalui selebaran militer.

Dalam operasi panjang yang dimulai sejak fajar Senin (27/4/2026) tersebut, IDF menculik lebih dari 80 warga sipil dari berbagai usia. Polanya serupa, penangkapan massal, mata ditutup, tangan diborgol, lalu diseret ke pusat interogasi lapangan yang mendadak didirikan di tengah pemukiman padat tersebut.

Ruang Tamu Jadi Ruang Intimidasi

Muhammad Abu Ghosh, seorang warga setempat, menceritakan delapan jam yang ia sebut sebagai “waktu yang berhenti”. Pada pukul 04.00 subuh, pintu rumahnya didobrak. Ia dibawa ke sebuah kompleks perumahan di dalam kamp yang penghuninya telah diusir paksa untuk dijadikan barak sementara.

“Ada sekitar 25 orang dari kami dikumpulkan di satu ruang tamu,” ujar Abu Ghosh. Satu per satu mereka diinterogasi. Ironisnya, interogasi yang dialami Abu Ghosh hanya berlangsung beberapa menit. Isinya bukan pertanyaan, melainkan ancaman dari perwira IDF yang berjanji akan menjebloskan seluruh keluarganya ke penjara jika ia “berulah”.

Taktik menjadikan rumah warga sebagai markas militer darurat (temporary military outpost) adalah pelanggaran mencolok, namun di Qalandia, ini adalah instrumen teror. Muhammad Bazie, warga lainnya, menyaksikan bagaimana saudara perempuannya beserta empat anaknya diusir keluar rumah di tengah malam agar tentara bisa mengubah hunian tersebut menjadi titik pantau dan pusat penahanan.

Blokade Tanah dan Langit

Di Kota Ar-Ram, jurnalis Saif al-Qawasmi mencatat perbedaan skala operasi kali ini. Jika biasanya IDF hanya masuk-keluar dalam hitungan jam, kali ini mereka membangun benteng. Pintu-pintu masuk kota ditutup rapat dengan gundukan tanah (earth mounds) dan blok beton.

Warga yang mencoba melintasi perimeter tak lepas dari incaran. Sebuah drone dilaporkan menjatuhkan gas air mata tepat ke arah kerumunan warga sipil. Di udara, dengung pesawat nirawak tak berhenti memantau tiap jengkal gang sempit Qalandia, memastikan tak ada satu pun gerak-gerik warga yang luput dari bidikan.

Menciptakan “Lingkungan yang Menolak”

Ma’rouf Al-Rifai, penasihat media untuk kegubernuran Al-Quds, melihat ini sebagai bagian dari skenario besar pengosongan kamp (forced displacement). Dengan menghancurkan fasilitas publik (seperti pintu masuk klinik UNRWA) dan menyulap rumah menjadi penjara, Israel sedang membangun “lingkungan yang menolak” (repellant environment). Tujuannya agar warga merasa tidak punya masa depan lagi di tanah tersebut.

Bagi warga Qalandia, akar intimidasi ini sudah tertanam sejak peristiwa 1948 dan 1967. Pendudukan hari ini hanyalah kelanjutan dari tembok pemisah yang mengisolasi Tepi Barat dari Yerusalem.

Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) dalam pernyataan resminya menyebut serangan terhadap klinik kesehatan dan fasilitas layanan dasar di kamp adalah “eskalasi kualitatif”. Ini bukan lagi soal mencari “tersangka”, melainkan upaya sistematis untuk membongkar jalinan sosial warga Palestina di pinggiran kota suci.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here