PAlESTINA – Di tengah reruntuhan gereja di Lebanon Selatan dan gang-gang maut di Jalur Gaza, sebuah anomali moral sedang dipertontonkan tanpa malu-milih. Mesin perang Israel belakangan sibuk bersolek, mencoba memoles wajah “moralitas” yang mendadak bopeng setelah seorang serdadunya tertangkap kamera menghancurkan patung Yesus. Dunia gempar, Vatikan berang, dan Tel Aviv pun buru-buru memasang tampang menyesal.
Namun, di sudut lain, tangan-tangan serdadu yang sama justru mendapat restu saat berlumuran darah warga Palestina di Gaza dan Tepi Barat. Kontradiksi ini pengakuan yang meluncur dari “dalam rumah” Israel sendiri. Media seperti Haaretz mulai membuka kotak hitam tindakan bungkam Tel Aviv atas berbagai kekejian yang dianggap angin lalu, selama korbannya “hanya” orang Palestina.
Hukuman yang Pilih Kasih
Ironi ini mencapai puncaknya pada “selektivitas akuntabilitas”. Kematian massal dan kehancuran total di Gaza serta Tepi Barat nyatanya mendapat simpati lebih kecil dibandingkan rusaknya sebuah patung batu di Lebanon.
Ambil contoh tragedi keluarga Bani Odeh di Tepi Barat. Pada 15 Maret lalu, empat anggota keluarga ini syahid diberondong peluru tajam saat berada di dalam mobil mereka di kota Tammun. Hasilnya? Unit investigasi Kementerian Kehakiman Israel bahkan tak merasa perlu memanggil, apalagi memeriksa, petugas yang terlibat.
Haaretz mencatat, pelanggaran hukum oleh aparat di Tepi Barat hanya akan dianggap serius jika korbannya adalah jurnalis Amerika, bukan warga lokal. Akuntabilitas hanya hadir sebagai komoditas diplomatik untuk meredam reaksi internasional atau jika korban memegang paspor “Negara Paman Sam”. Bagi warga Palestina, tak ada air mata di lorong-lorong kekuasaan global.

Teror Terorganisir di Tepi Barat
Sejumlah analis menuding bahwa rentetan pembunuhan di Tepi Barat bukanlah insiden spontan atau ulah oknum semata. Ini adalah orkestrasi yang mendapat dukungan penuh, atau setidaknya pembiaran, dari institusi militer tertinggi.
Setiap hari, pemukim ilegal merangsek masuk ke desa-desa Palestina, dikawal oleh pria-pria bersenjata dari batalion pertahanan regional. “Gesekan” ini sengaja diciptakan untuk mengusir warga Palestina dari tanah mereka. Sejak perang Gaza meletus, 13 warga Palestina tewas oleh serangan pemukim dan 12 lainnya oleh tembakan langsung militer. Pelaku jarang ditahan; kalaupun diperiksa, mereka biasanya segera melenggang bebas.
Investigasi media juga mengungkap adanya “pembantaian terorganisir” oleh kelompok pemukim bermasker yang menyerang menggunakan gada dan alat pembakar. Mereka menyerang kilat dalam hitungan menit lalu menghilang. Aparat keamanan biasanya baru tiba setelah semuanya rata dengan tanah.

Genosida di Layar Ponsel
Kengerian di Gaza bukan lagi laporan rahasia di balik pintu tertutup. Para serdadu Israel justru dengan bangga memamerkan “genosida siaran langsung” melalui akun TikTok, Instagram, dan Telegram mereka.
Dunia bisa menyaksikan para tentara menggeledah pakaian dalam warga Gaza yang mengungsi, merayakan penghancuran gedung, hingga berpose di samping mayat warga Palestina. Meski secara resmi militer melarang konten tersebut, nyatanya tak ada sanksi konkret bagi para pelakunya.
Kasus paling mencolok terjadi di penjara Sde Teiman. Sebuah video menunjukkan tentara melakukan pelecehan seksual terhadap seorang tahanan Palestina. Bukannya mengutuk, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu justru menyebut video itu sebagai “serangan propaganda” dan “fitnah keji” terhadap prajuritnya. Kontras yang nyata: prajurit penghancur patung diskors, sementara terduga pelaku kekerasan seksual diizinkan kembali bertugas oleh Panglima Militer.

Fobia Barat dan Simbolisme Politik
Kehebohan Netanyahu atas patung Yesus bukan refleksi kesalehan, melainkan kalkulasi diplomatik yang dingin. Begitu martil tentara menghantam simbol kaukasoid tersebut, radar politik Tel Aviv mendeteksi ancaman “ranjau” hubungan dengan Vatikan dan ibu kota Barat.
Netanyahu, yang biasanya bungkam atas pelanggaran HAM, mendadak jadi yang paling keras mengecam. Ia mengaku “terpukul dan sedih”. Langkah ini disusul Menteri Luar Negeri Gideon Saar yang berjanji akan menindak tegas. Namun, “ketegasan” itu hanya berujung pada hukuman penjara militer 30 hari—sekadar obat penenang bagi kemarahan publik dunia.
Ketakutan Israel bukan tanpa alasan. Hubungan mereka dengan para pemimpin gereja di Yerusalem sudah berada di titik nadir setelah skandal Minggu Palma di Gereja Makam Kudus Maret lalu. Saat itu, polisi Israel menghalangi Kardinal Pierbattista Pizzaballa dan para pemimpin gereja melakukan ritual keagamaan.
Sentilan dari Gereja
Respons paling pedas datang dari Uskup Agung Vincenzo Paglia. Dalam surat langsungnya kepada Netanyahu, ia mengingatkan: “Yesus pergi ke Tirus dan Sidon di Lebanon Selatan bukan untuk membunuh atau menghancurkan, melainkan untuk menyembuhkan orang sakit.” Kalimat ini meruntuhkan narasi Israel yang selama ini mengklaim diri sebagai pembela nilai-nilai peradaban.
Pada akhirnya, kegaduhan diplomatik atas sebuah patung memperlihatkan sisi gelap politik luar negeri: sebuah simbol batu dianggap lebih berharga daripada nyawa ratusan anak-anak yang meninggal dunia di Lebanon dan Gaza. Tel Aviv hanya gemetar ketika pusat pengaruh diplomatik berguncang, namun tetap tenang saat nyawa manusia yang dianggap “tak berpengaruh” melayang.










