RAMALLAH – Di sebuah rumah di kamp pengungsi Qalandia, Muhammad Abdul Rahman duduk dengan tatapan kosong. Pria 37 tahun ini baru saja menghirup udara bebas setelah dua tahun mendekam di penjara Israel. Namun, bagi Muhammad yang sudah keluar-masuk penjara sejak usia 17 tahun, penahanan terakhirnya sejak Oktober 2023 bukan lagi sekadar jeruji besi. Itu adalah “neraka” yang didesain secara politik.

“Apa yang berubah di penjara setelah Itamar Ben-Gvir jadi Menteri Keamanan Nasional?” tanya kami. Muhammad tersenyum getir. “Apa yang tidak berubah? Saking buruknya, penjara kini adalah tempat di mana Anda berharap untuk mati setiap hari.”

Kesaksian Muhammad menyingkap tabir gelap di balik dinding penjara Israel pasca-7 Oktober. Sejak Ben-Gvir berkuasa, aturan main di dalam sel berubah total. Prosedur standar yang dulunya masih mengenal “batas” kini runtuh, digantikan oleh kekerasan tanpa jeda yang direstui negara.

Normalisasi Kekerasan: Dari Rutinitas ke Kebijakan

Muhammad telah ditahan enam kali sebelumnya, total lima tahun ia habiskan di sel. Ia pernah tertembak peluru tajam dan menjalani operasi besar di penjara. Namun, penahanan terakhir di Penjara Megiddo adalah titik nadir.

Dulu, penyiksaan biasanya terjadi di ruang interogasi. Sekarang? Penyiksaan adalah menu harian. “Pukulan itu datang kapan saja. Saat absen pagi, saat dipindahkan antar-sel, bahkan saat Anda sedang di klinik atau menjalani sidang,” tuturnya. Muhammad menderita patah tulang panggul dan rusuk akibat hantaman benda tumpul.

Yang paling mengerikan adalah insiden di Pusat Investigasi Etzion. Muhammad menyaksikan apa yang ia sebut sebagai “pembantaian martabat”. Lebih dari 1.000 tahanan ditelanjangi bulat, dipukuli di area sensitif, dan dibiarkan dalam kondisi hina selama 48 jam nonstop.

Masuknya Unit ‘Metzada’ dan Penghilangan Hak Dasar

Di bawah kebijakan baru, penggeledahan sel kini melibatkan unit elit Metzada. Jika dulu unit ini hanya turun saat terjadi kerusuhan besar, kini mereka rutin menyerbu sel di tengah malam, lengkap dengan peluru tajam, anjing pelacak yang agresif, dan senjata kejut listrik.

Kondisi sanitasi dan pangan pun didegradasi hingga ke level yang tidak manusiawi. Sendok dan piring ditarik. Makanan (yang kualitasnya lebih buruk dari pakan ternak) disajikan di atas kantong sampah plastik. Para tahanan terpaksa makan dengan tangan kosong, berbagi porsi yang terus dikurangi hingga mereka harus berpuasa setiap hari demi bertahan hidup.

“Bahkan anak-anak (tahanan di bawah 18 tahun) kini diperlakukan sama brutalnya dengan orang dewasa. Dulu ada aturan khusus untuk mereka, sekarang aturan itu dibuang ke tong sampah,” kata Muhammad.

Horor di penjara-penjara ini bukan sekadar tindakan “oknum” sipir, melainkan kebijakan yang memiliki payung politik kuat. Menteri Itamar Ben-Gvir dilaporkan sering hadir langsung menyaksikan “pesta” penyiksaan tersebut. Ia bahkan mengunggah foto-foto kunjungannya ke sel isolasi tokoh-tokoh seperti Marwan Barghouti sebagai bentuk pamer kekuatan.

Data dari Palestinian Prisoners’ Club memperkuat kesaksian ini. Sejak perang pecah di Gaza, jumlah tahanan melonjak 83 persen, mencapai 9.600 orang pada April 2026. Setidaknya 89 tahanan tewas di dalam sel sejak Oktober 2023, sebagian besar akibat penyiksaan dan kelalaian medis yang disengaja.

Bagi Muhammad dan ribuan tahanan lainnya, penjara Israel kini bukan lagi tempat pembinaan atau penahanan administratif. Di bawah komando Ben-Gvir, penjara telah bertransformasi menjadi laboratorium kekerasan sistematis yang bertujuan satu: menghancurkan sisa-sisa kemanusiaan yang dimiliki para tahanan.

Sumber: Al Jazeera

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here