Direktur Kompleks Medis Nasser, Atif al-Hout, memperingatkan bahwa layanan kesehatan di Jalur Gaza berada di ambang kehancuran total. Kondisi ini dipicu oleh pembatasan Israel yang disebut masih menghalangi masuknya bahan bakar, termasuk minyak untuk generator listrik yang menjadi penopang utama operasional rumah sakit.
Al-Hout mendesak komunitas internasional untuk segera turun tangan memastikan kebutuhan dasar sektor kesehatan bisa masuk ke Gaza tanpa hambatan, di tengah situasi yang kian kritis.
Kementerian Kesehatan di Gaza menyebut setiap hari ada pasien yang meninggal di rumah sakit saat menunggu izin untuk dirujuk berobat ke luar wilayah. Menurut mereka, kondisi pasien tidak lagi memungkinkan untuk terus menunggu, sementara waktu terus berjalan dan peluang hidup semakin menipis.
Sektor kesehatan di Gaza sendiri sudah lama berada dalam tekanan berat. Kombinasi blokade bertahun-tahun dan rangkaian konflik sejak Oktober 2023 membuat infrastruktur kesehatan mengalami kerusakan besar, hingga berada dalam kondisi hampir lumpuh.
Sejumlah organisasi internasional menggambarkan situasi ini sebagai “proses sekarat” sistem kesehatan. Wabah penyakit seperti hepatitis dan infeksi saluran pencernaan dilaporkan menyebar, dipicu kerusakan sistem sanitasi dan minimnya layanan dasar. Pasien dengan penyakit kronis seperti gagal ginjal, penyakit jantung, dan diabetes juga menghadapi keterbatasan layanan yang serius.
Meski kesepakatan gencatan senjata telah diberlakukan beberapa bulan terakhir, otoritas kesehatan di Gaza menyebut pelanggaran masih terus terjadi. Serangan udara dilaporkan masih menimbulkan korban jiwa dan luka-luka sejak perjanjian yang dimediasi Amerika Serikat itu berlaku.
Di sisi lain, pembatasan terhadap masuknya bantuan kemanusiaan dan medis juga disebut masih berlangsung, termasuk pasokan yang secara eksplisit diatur dalam kesepakatan gencatan senjata. Kondisi ini membuat tekanan terhadap sistem kesehatan Gaza terus meningkat tanpa tanda mereda.










