Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben Gvir, kembali memasuki kompleks Masjid Al-Aqsa di Yerusalem pada Minggu, di bawah pengawalan ketat polisi dan unit khusus. Di saat yang sama, kekerasan di Tepi Barat meningkat, dengan sedikitnya tujuh warga Palestina terluka dan 18 lainnya ditangkap dalam serangkaian operasi militer Israel di berbagai wilayah, termasuk Yerusalem.

Otoritas Wakaf Islam yang dikelola Yordania di Yerusalem melaporkan Ben Gvir masuk ke area Al-Aqsa bersama sejumlah kelompok yang mereka sebut sebagai ekstremis. Di dalam kompleks itu, mereka melaksanakan ritual doa Talmud.

Sebuah rekaman video yang beredar memperlihatkan Ben Gvir berjalan menuju area Kubah Shakhrah, terlihat bertepuk tangan, bernyanyi, dan menjalankan ritual keagamaan Yahudi, sebelum menaiki tangga menuju area barat kompleks.

Otoritas Yerusalem menyebut tindakan tersebut sebagai “provokasi baru” yang dinilai bagian dari upaya mengubah status quo di Al-Aqsa, termasuk mendorong pembagian waktu dan ruang ibadah secara sepihak.

Dalam pernyataan terpisah, otoritas itu menyoroti meningkatnya pelanggaran terhadap situs-situs suci Islam dan Kristen di Yerusalem Timur, serta pembatasan ketat terhadap akses jamaah Palestina. Pada hari yang sama, seorang pejabat kebersihan Masjid Al-Aqsa, Raed Zughair, juga dilaporkan ditangkap.

Dengan kunjungan terbaru ini, Ben Gvir tercatat telah memasuki Al-Aqsa tiga kali sejak awal 2026, 13 kali sejak perang Gaza pecah pada Oktober 2023, dan 16 kali sejak ia menjabat pada akhir 2022.

Sebelumnya, pada 6 April, ia juga memasuki kompleks tersebut saat perayaan Paskah Yahudi, ketika akses jamaah Muslim dibatasi dengan alasan status darurat yang diberlakukan otoritas Israel menyusul eskalasi konflik regional.

Penggusuran di Silwan

Di sisi lain Yerusalem, otoritas Israel dilaporkan memaksa seorang warga Palestina, Mahmoud Al-Tawil, untuk membongkar sendiri rumahnya di kawasan Al-Shiyah, Silwan, dengan alasan tidak memiliki izin bangunan.

Rumah seluas sekitar 120 meter persegi itu telah berdiri selama satu dekade dan dihuni oleh Al-Tawil bersama istri dan empat anaknya.

Penembakan dan penangkapan di Tepi Barat

Di lapangan, kekerasan juga terus meningkat. Sedikitnya tujuh warga Palestina dilaporkan terluka akibat tembakan tentara Israel, sementara 17 hingga 18 orang ditangkap dalam operasi di berbagai wilayah Tepi Barat.

Otoritas Yerusalem menyebut tiga warga terluka dalam serangan saat militer Israel memasuki kota Al-Ram, utara Yerusalem. Dalam operasi itu, pasukan menggunakan granat kejut dan gas air mata serta menangkap enam orang.

Di wilayah tenggara Yerusalem, desa Al-Sawahra juga digerebek. Rumah warga digeledah, dua orang ditangkap.

Di selatan Tepi Barat, Palang Merah Palestina melaporkan dua pemuda terluka akibat tembakan di kota Adh-Dhahiriya, Hebron, tanpa menjelaskan kronologi kejadian.

Sementara di utara, di kota tua Nablus, dua warga kembali terluka, seorang anak berusia 14 tahun terkena peluru di paha, dan seorang pria 39 tahun mengalami luka serpihan peluru di kepala.

Kantor berita Palestina, WAFA, juga melaporkan operasi militer di berbagai wilayah Tepi Barat yang berujung pada penangkapan sembilan warga, termasuk dari kamp pengungsi dan kota-kota di Bethlehem, Hebron, Jericho, dan Nablus.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here