Sejumlah media Barat dan Israel mulai membaca pola yang sama: konflik di Timur Tengah tak lagi bergerak dalam logika perang kilat. Yang terjadi kini justru sebaliknya, perang panjang, melelahkan, dan berlapis, dengan tekanan lintas kawasan yang sulit dipetakan secara sederhana.
Laporan-laporan itu menunjukkan satu kecenderungan yang kian terang. Keseimbangan kekuatan klasik (yang selama ini diukur dari keunggulan senjata dan kecepatan serangan) mulai terkikis. Sebagai gantinya, muncul strategi baru yang bertumpu pada daya tahan, fleksibilitas, dan kemampuan bertahan di tengah tekanan berkepanjangan.
Dirancang untuk Menguras Lawan
Koresponden Financial Times, Charles Clover dari London dan Neri Zilber dari Tel Aviv, mencatat bahwa Iran menjalankan serangan rudalnya dalam kondisi yang secara teori bisa melumpuhkan militer modern. Namun, justru di situ letak perbedaannya: Teheran disebut membangun sistem militer yang memang dirancang untuk perang atrisi jangka panjang.
Sistem ini, menurut laporan tersebut, tetap berfungsi meski dihantam serangan udara intensif, kehilangan sejumlah komandan kunci, hingga terganggunya jaringan komunikasi. Menteri Pertahanan Inggris John Healey bahkan menyebut Iran memperluas jangkauan serangannya ke negara-negara Teluk dan sekutu Washington, langkah yang dinilai sebagai upaya sengaja untuk menyeret konflik menjadi krisis regional yang membebani ekonomi global dan memecah fokus pertahanan lawan.
Belajar dari Dua Dekade Konflik
Masih dari laporan yang sama, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi disebut menegaskan bahwa negaranya belajar dari serangkaian kegagalan Amerika dalam dua dekade terakhir. Hasilnya adalah doktrin yang ia sebut sebagai “pertahanan mosaik”, model pertahanan terdesentralisasi.
Analis Iran-Amerika, Behnam Ben Taleblu, menjelaskan bahwa doktrin ini memberi otonomi luas kepada komandan lapangan. Dampaknya jelas: ancaman tidak lagi bisa dilumpuhkan dengan pola lama seperti “serangan pemenggalan kepala” yang menargetkan pimpinan utama.
Peneliti Inggris Robert Tollast menambahkan, penggunaan metode komunikasi sederhana dan alternatif oleh Iran justru mereduksi keunggulan teknologi lawan. Dengan kata lain, medan tempur bergeser menjadi perang kehendak, siapa yang lebih tahan bertahan.
Dari Militer ke Psikologis
Sementara itu, laporan Israel Hayom menawarkan sudut pandang berbeda. Mereka melihat perang telah memasuki fase atrisi psikologis. Secara material, keunggulan masih berada di pihak aliansi Amerika-Israel yang secara bertahap menggerus kemampuan militer Iran.
Namun di balik itu, seorang pejabat tinggi Israel (yang identitasnya dirahasiakan) mengungkap adanya rencana strategis untuk menghantam total jaringan energi dan bahan bakar Iran. Targetnya bukan sekadar melemahkan militer, tetapi mendorong keruntuhan ekonomi yang bisa memaksa Teheran menyerah.
Meski begitu, optimisme ini tidak sepenuhnya tanpa kritik. Penulis Israel Ben-Dror Yemini di situs Ynet menilai era kemenangan militer mutlak telah berakhir. Ia mencontohkan kegagalan kekuatan besar seperti Rusia dan Amerika Serikat dalam menuntaskan konflik di Afghanistan dan Ukraina.
Menurut Yemini, ukuran kekuatan kini bergeser. Bukan lagi seberapa besar kehancuran yang bisa ditimbulkan, melainkan sejauh mana lawan bisa dipaksa tunduk secara politik. Dalam konteks ini, tekanan terhadap Hamas maupun Hizbullah dinilai belum mencapai tujuan tersebut, meski serangan besar terus dilancarkan.
Ia juga mengingatkan, janji kemenangan absolut dari pemerintah justru berpotensi menggerus daya tahan internal Israel sendiri, karena realitas di lapangan menunjukkan lawan masih berdiri.
Lebanon Jadi Titik Tekan
Analisis lain datang dari Tsvi Barel di Haaretz. Ia melihat Lebanon kini menjadi front utama Israel dalam menghadapi Iran, tanpa kejelasan strategi keluar.
Barel menilai posisi politik Israel tidak sedang menguat. Pengaruhnya di Washington disebut mulai menurun, terlebih setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menggeser fokus dari ambisi besar seperti menggulingkan rezim Iran, menjadi pengamanan jalur pelayaran internasional.
Perubahan ini membuat Israel tersingkir dari isu strategis yang lebih luas, seperti krisis Selat Hormuz, yang kini menjadi perhatian utama komunitas global.
Barel juga mengutip pernyataan utusan khusus Amerika Serikat, Tom Barrack, yang menyebut gagasan melucuti Hizbullah dengan kekuatan militer sebagai sesuatu yang ilusif. Bahkan, menurutnya, pandangan ini mulai mendapat pengakuan di kalangan militer Israel sendiri.
Juru bicara militer Israel, Nadav Shoshani, mengakui bahwa ancaman yang tersisa (meski lebih kecil) justru menjadi lebih kompleks dan sulit ditangani, membutuhkan operasi yang presisi dan berisiko tinggi.
Perang yang Tak Cepat Usai
Peneliti Amerika Jonathan Ruhe memperkuat gambaran ini. Ia menyebut peralihan Iran dan sekutunya ke penggunaan platform bergerak dan tersembunyi memungkinkan mereka menjaga intensitas serangan secara stabil dalam jangka panjang. Ini sekaligus menguras sistem pertahanan canggih milik lawan secara perlahan.
Pada akhirnya, laporan-laporan tersebut mengarah pada satu kesimpulan: kawasan ini terjebak dalam pusaran perang saling menguras. Di satu sisi, Amerika Serikat dan Israel memiliki kapasitas menghancurkan infrastruktur secara masif. Di sisi lain, Iran dan sekutunya menunjukkan kemampuan beradaptasi, bertahan, dan menekan sisi ekonomi serta sipil lawan.
Keseimbangan kekuatan pun mengalami redefinisi. Ia tidak lagi ditentukan oleh siapa yang memiliki jet tempur paling mutakhir, melainkan siapa yang mampu bertahan lebih lama di bawah tekanan, dan siapa yang berhasil menjaga narasi kemenangan di tengah perang psikologis yang tak kalah sengit.
Dua Skenario yang Menghantui
Dengan tenggat dan peringatan yang dilontarkan Presiden Donald Trump, kawasan ini kini berdiri di persimpangan. Satu jalur mengarah pada eskalasi militer yang bisa menghantam urat nadi ekonomi Iran dan negara-negara Teluk. Jalur lain adalah menerima realitas perang atrisi yang panjang, yang pada akhirnya mungkin memaksa semua pihak duduk di meja perundingan, bukan karena kemenangan, tetapi karena kelelahan.
Dalam dua skenario itu, satu hal tampak pasti: aturan lama perang telah runtuh. Yang tersisa adalah konflik tanpa garis akhir yang jelas, di mana tidak ada kemenangan mutlak, hanya pihak-pihak yang terus bertahan di tengah reruntuhan dan tekanan yang melintasi batas negara.










