Gelombang kecaman terhadap apa yang disebut “kekerasan pemukim” di Tepi Barat belakangan ini terdengar luas, datang dari pejabat pemerintah, petinggi militer, hingga analis sayap kanan Israel. Namun bagi jurnalis Israel Oren Ziv, reaksi tersebut bukan tanda perubahan sikap, melainkan pola lama yang berulang.

Dalam tulisannya di +972 Magazine, Ziv menyebut kecaman itu lebih mirip “tirai asap” yang menutupi fakta lain: kekerasan tersebut, menurutnya, bukan insiden sporadis, melainkan bagian dari praktik yang mendapat ruang dalam kebijakan negara.

Istilah yang Menyamarkan

Ziv menyoroti penggunaan istilah “kekerasan pemukim” yang dinilainya terlalu lunak. Di lapangan, yang terjadi adalah serangan terorganisir terhadap warga Palestina, terutama di wilayah pendudukan, dengan tujuan mendorong mereka meninggalkan tanahnya.

Isu ini kembali mencuat seiring meningkatnya serangan dan kasus pembunuhan sejak konflik terbaru pecah. Untuk pertama kalinya dalam waktu lama, kecaman datang bahkan dari tokoh-tokoh sayap kanan dan militer.

Namun Perdana Menteri Benjamin Netanyahu memilih tetap pada pola lama, membatasi respons pada pembahasan keamanan tertutup tanpa pernyataan publik yang tegas.

Pola Lama yang Berulang

Menurut Ziv, kecaman semacam ini biasanya muncul ketika serangan melewati ambang tertentu, misalnya saat tekanan internasional meningkat atau citra Israel di luar negeri terancam.

Dalam situasi seperti itu, narasi publik bergeser pada kebutuhan “mengatasi masalah internal” yang dianggap merusak proyek permukiman. Sementara itu, korban Palestina nyaris tidak disebut dalam pernyataan resmi.

Kali ini, tekanan eksternal (terutama dari Amerika Serikat) disebut lebih kuat dari sebelumnya. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio dilaporkan mendesak pemerintah Israel mengambil langkah nyata.

Tekanan ini, menurut Ziv, membuat pemerintah Israel kesulitan mempertahankan narasi lama bahwa serangan-serangan tersebut hanyalah tindakan individu.

Tanpa Tindakan Nyata

Meski istilah “terorisme Yahudi” mulai diakui dalam wacana resmi, Ziv menilai tidak ada langkah hukum yang benar-benar signifikan terhadap pelaku.

Data yang ia kutip menunjukkan, sejak akhir Februari, tercatat ratusan insiden di puluhan lokasi di Tepi Barat. Serangan itu menyebabkan korban jiwa, ratusan luka-luka, serta pemindahan paksa sejumlah komunitas.

Sebagian pelaku bahkan disebut mengenakan seragam militer. Dalam banyak kasus, menurut laporan tersebut, terdapat koordinasi erat antara pemukim dan aparat keamanan.

Bahkan ketika ada tindakan disipliner (misalnya setelah insiden yang melibatkan kru media internasional) langkah itu dinilai lebih sebagai upaya meredam tekanan publik, bukan penegakan hukum yang konsisten.

Peran Aparat dan “Zona Tertutup”

Ziv juga menyoroti praktik penetapan “zona militer tertutup” di lokasi-lokasi konflik. Kebijakan ini, menurutnya, bukan untuk melindungi warga Palestina, tetapi untuk membatasi akses aktivis atau pengamat yang mencoba memberikan perlindungan.

Akibatnya, desa-desa yang menjadi sasaran serangan menjadi semakin rentan terhadap pengusiran.

Sejumlah laporan keamanan dan investigasi jurnalistik, lanjutnya, menunjukkan bahwa prioritas aparat di wilayah tersebut adalah melindungi dan memperluas proyek permukiman, bahkan di atas fungsi penegakan hukum.

Proyek yang Lebih Besar

Dalam analisisnya, Ziv melihat pola ini sebagai bagian dari strategi yang lebih luas: mendorong konsentrasi warga Palestina di wilayah perkotaan yang semakin sempit, sambil membuka ruang bagi ekspansi permukiman.

Ia memperingatkan, selama respons internasional dan domestik hanya berhenti pada kecaman verbal, pola ini akan terus berlanjut.

“Kecaman tanpa tindakan,” tulisnya, “justru memberi ruang bagi proses yang lebih besar berjalan tanpa gangguan.”

Antara Narasi dan Realitas

Perdebatan tentang “kekerasan pemukim” kini tidak lagi sekadar soal istilah, melainkan bagaimana realitas di lapangan dipahami, dan ditanggapi.

Di satu sisi, ada pengakuan publik yang semakin terbuka. Di sisi lain, belum terlihat perubahan signifikan dalam penanganannya.

Bagi Ziv, jarak antara keduanya itulah yang menjadi persoalan utama: ketika kecaman menjadi rutinitas, tetapi realitas di lapangan tetap berjalan seperti biasa.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here