Situasi di Jalur Gaza disebut masih berada dalam titik paling rapuh, meski gencatan senjata telah berjalan beberapa bulan. Utusan Tinggi untuk Gaza di Dewan Perdamaian, Nikolay Mladenov, menggambarkan kondisi di wilayah itu sebagai “sangat sulit”, seraya mengungkap adanya pembahasan serius terkait pelucutan senjata.
Dalam pidato perdananya di Dewan Keamanan PBB sebagai perwakilan khusus Gaza, Mladenov menyatakan bahwa perbaikan yang terjadi sejak tahap pertama gencatan senjata pada 10 Oktober 2025 belum cukup mengubah keadaan secara mendasar.
“Situasinya masih sangat sulit,” kata dia dalam sidang yang membahas perkembangan Timur Tengah, termasuk Palestina.
Layanan Lumpuh, Ekonomi Nyaris Tak Bergerak
Mladenov menyoroti kondisi layanan dasar di Gaza yang hingga kini belum pulih. Sebagian besar hanya beroperasi dengan kapasitas terbatas dibandingkan sebelum perang.
Sistem kesehatan, menurut dia, berada dalam kondisi kolaps. Sementara aktivitas ekonomi hampir tidak berjalan.
Ia juga menekankan pentingnya membuka akses keluar-masuk Gaza, termasuk menjaga perlintasan Rafah tetap beroperasi untuk mendukung mobilitas warga dan distribusi bantuan.
Bantuan dan Hunian Mendesak
Soal bantuan kemanusiaan, Mladenov menilai jumlah yang masuk ke Gaza belum memenuhi standar yang disepakati dalam perjanjian gencatan senjata.
Ia meminta peningkatan distribusi bantuan sekaligus percepatan penyediaan hunian sementara bagi warga yang kehilangan tempat tinggal.
Kerangka Pelucutan Senjata
Di luar isu kemanusiaan, Mladenov mengungkap bahwa kantornya bersama negara-negara penjamin (Amerika Serikat, Mesir, Turki, dan Qatar) telah menyusun kerangka kerja komprehensif terkait pelucutan senjata dan reintegrasi kelompok bersenjata di Gaza.
Menurut dia, dokumen tersebut telah diajukan secara resmi kepada pihak-pihak terkait dan kini sedang dibahas dalam proses yang disebutnya sebagai “diskusi serius”.
Kerangka itu mengusung prinsip satu otoritas, satu hukum, dan satu senjata sebagai dasar pengaturan keamanan di Gaza ke depan.
Mladenov juga menyoroti peran Dewan Perdamaian yang dipimpin Presiden Amerika Serikat Donald Trump, serta mengapresiasi keterlibatan negara-negara penjamin dalam proses tersebut.
Respons Hamas dan Realitas di Lapangan
Di sisi lain, Hamas sebelumnya menyatakan persetujuan awal terhadap rencana yang diajukan Trump. Namun, implementasinya disebut masih membutuhkan proses negosiasi lebih lanjut.
Pernyataan itu diperkuat oleh salah satu pemimpin Hamas, Musa Abu Marzouk, yang menyebut isu pelucutan senjata masih memiliki berbagai skenario (mulai dari pembekuan hingga pelucutan penuh) dan belum dibahas secara resmi di meja perundingan.
Di tengah pembahasan tersebut, situasi di lapangan belum sepenuhnya stabil. Data Kementerian Kesehatan Gaza mencatat, sejak gencatan senjata diberlakukan, pelanggaran yang dilakukan Israel masih terjadi hampir setiap hari.
Akibatnya, 687 warga Palestina dilaporkan syahid dan 1.849 lainnya terluka dalam periode tersebut.
Secara keseluruhan, agresi yang berlangsung hampir dua tahun terakhir telah menewaskan lebih dari 72 ribu warga Palestina dan melukai sekitar 172 ribu lainnya. Sekitar 90 persen infrastruktur di Gaza dilaporkan mengalami kerusakan.










