Di halaman RS Syuhada Al-Aqsa, Deir al-Balah, seorang pria berdiri dengan tubuh yang nyaris tinggal rangka. Daging seolah luruh dari tubuhnya, menyisakan tulang yang menonjol. Matanya cekung, menyimpan jejak ketakutan yang tak mudah diterjemahkan. Ia adalah Asyraf Muhammad Zamqat, tahanan yang baru dibebaskan dari penjara Israel.

Ia sempat terdiam lama. Kata-kata seperti tertahan di tenggorokan. Namun yang ia bawa keluar dari balik tembok penjara bukan sekadar cerita, melainkan serpihan pengalaman yang sulit dicerna nalar.

“Saya tidak menyebut itu penahanan. Itu kehancuran,” ujar Zamqat. Selama 55 hari, ia berada di fasilitas yang dikenal luas oleh warga Palestina sebagai “kuburan bagi yang hidup”, penjara Sde Teiman. Ia diculik dari kawasan rel di Khan Younis. Sejak saat itu, dunia luar terputus. Yang tersisa hanya wajah sipir dan rutinitas penyiksaan.

Tidur yang Dirampas

Dalam kesaksiannya kepada Al Jazeera, Zamqat menggambarkan keseharian yang melampaui batas ketahanan manusia. Para tahanan, kata dia, hidup tanpa standar minimum yang layak. Bahkan untuk sekadar mempertahankan tubuh tetap hidup.

“Penyiksaan fisik itu rutin. Tapi yang paling menghancurkan adalah dirampasnya tidur,” katanya.

Para tahanan hanya diberi waktu sekitar tiga jam untuk tidur, dari tengah malam hingga menjelang subuh. Selebihnya, mereka dipaksa berdiri, menjalani interogasi, dan menghadapi perlakuan yang ia sebut sulit diungkapkan dengan kata-kata.

Kesaksian Zamqat bukan berdiri sendiri. Ia mencerminkan pola yang berulang dalam laporan para tahanan lain. Kondisi di dalam pusat penahanan digambarkan sangat keras, kelaparan, suhu dingin, dan nihilnya pengawasan lembaga internasional.

“Kami masuk sebagai manusia, keluar seperti bayangan,” katanya, menahan air mata. Ia mengaku meninggalkan ribuan tahanan lain yang masih menghadapi ancaman kematian setiap saat.

“Pembunuhan Putih”

Dalam dua hari terakhir, RS Syuhada Al-Aqsa menerima 30 tahanan yang dibebaskan. Mereka datang dalam kondisi fisik dan mental yang memburuk. Tubuh kurus, tanda penyiksaan terlihat jelas.

Sumber medis menyebut sebagian besar mengalami malnutrisi akut. Mereka juga menunjukkan bekas kekerasan fisik setelah berbulan-bulan ditahan sejak operasi darat Israel di Gaza.

Dari berbagai kesaksian, muncul satu pola yang sama: praktik penyiksaan sistematis.

Salah satu metode yang disebut para mantan tahanan adalah “pembunuhan putih”, sebuah teknik yang tidak meninggalkan bekas luka fisik mencolok, namun merusak fungsi saraf dan mental. Intinya adalah perampasan tidur secara terus-menerus, hingga tahanan kehilangan fokus, kesadaran, bahkan stabilitas psikologis.

Euro-Med Human Rights Monitor dalam laporan terbarunya mengkategorikan praktik ini sebagai bentuk penyiksaan psikologis berat. Metode tersebut, menurut mereka, bertujuan menghancurkan fungsi kognitif tanpa meninggalkan jejak fisik yang mudah didokumentasikan.

Praktik ini dinilai melanggar Konvensi PBB Menentang Penyiksaan, yang melarang segala bentuk penderitaan berat, baik fisik maupun mental, terhadap tahanan.

Penjara sebagai Arena Balas Dendam

Peneliti Pusat Al-Mezan untuk Hak Asasi Manusia di Gaza, Mervat al-Nahal, menyebut penjara Israel kini berfungsi sebagai ruang pembalasan sistematis.

“Ini bukan lagi kasus individu. Ini kebijakan,” kata dia.

Al-Mezan mencatat berbagai praktik, mulai dari pemborgolan selama berminggu-minggu, penolakan akses pengobatan, kekurangan makanan, hingga larangan mandi. Ia juga menyoroti minimnya respons internasional yang dinilai memperpanjang praktik tersebut.

Selain penyiksaan fisik, isu lain yang mengemuka adalah penghilangan paksa. Sejak Oktober 2023, ribuan warga Gaza ditahan tanpa kejelasan status.

Otoritas Israel disebut menahan informasi terkait identitas dan lokasi para tahanan. Akibatnya, ribuan keluarga hidup dalam ketidakpastian, tidak tahu apakah anggota keluarga mereka masih hidup atau sudah meninggal.

Akses yang Tertutup

Komite Internasional Palang Merah (ICRC) mengaku kesulitan menjangkau para tahanan di dalam penjara Israel. Juru bicara ICRC di Gaza, Amani al-Naouq, mengatakan pihaknya hanya berperan dalam fasilitasi logistik pembebasan.

Pada Ahad lalu, ICRC membantu pemindahan 19 tahanan dari perlintasan Kerem Shalom ke Gaza tengah.

“Kami berupaya mempertemukan mereka kembali dengan keluarga, tapi situasinya tetap kompleks,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa sejak Oktober 2023, ICRC belum mendapatkan akses ke sebagian besar tahanan di dalam fasilitas Israel. Pihaknya terus mendesak agar akses dibuka dan informasi terkait para tahanan diberikan.

Menurut hukum humaniter internasional, pihak penahan wajib menjamin kondisi penahanan yang layak dan perlakuan manusiawi.

Keluarga dalam Ketidakpastian

Di halaman rumah sakit yang sama, Zaki Yusuf Barakat berdiri sambil menggenggam foto dua anaknya. Keduanya hilang sejak November 2023.

Ia mengaku mendapat informasi dari mantan tahanan bahwa kedua anaknya pernah terlihat di dalam penjara. Namun hingga kini, tidak ada pengakuan resmi dari pihak Israel.

“Ketika kami tanya ke Palang Merah, jawabannya tidak ada data,” katanya.

Selama lebih dari dua tahun, keluarganya hidup tanpa kepastian. Tidak ada kabar, tidak ada konfirmasi.

Barakat menyebut situasi ini sebagai bentuk tekanan psikologis kolektif bagi keluarga tahanan. Mereka menunggu dalam ketidakjelasan, berharap pada satu kabar yang tak kunjung datang.

“Kami hanya ingin tahu, mereka masih hidup atau tidak,” ujarnya.

Luka yang Terus Terbuka

Isu tahanan kembali mengemuka setelah kesepakatan gencatan senjata dan pertukaran tahanan pada Oktober lalu. Sekitar 1.700 tahanan Gaza dibebaskan, sebagian besar dalam kondisi kesehatan yang buruk.

Namun laporan terbaru menyebut lebih dari 10 ribu warga Palestina masih berada dalam tahanan Israel, termasuk perempuan dan anak-anak.

Sejumlah laporan juga mencatat adanya tahanan yang meninggal akibat penyiksaan dan kelalaian medis.

Setiap gelombang pembebasan membawa cerita baru. Para tahanan keluar dengan tubuh lemah, pakaian lusuh, dan trauma yang belum selesai.

Di balik pelukan keluarga yang kembali bertemu, terselip kesedihan: tentang mereka yang masih tertinggal, dan tentang waktu yang hilang di ruang-ruang interogasi.

Isu tahanan Palestina, hingga kini, tetap menjadi salah satu luka paling dalam dalam krisis kemanusiaan yang belum menemukan ujungnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here