Di Jalur Gaza, Idulfitri tiba di tengah reruntuhan dan pengungsian. Tenda-tenda rapuh berdiri di ujung perjalanan panjang yang dipenuhi kecemasan, menjadi tempat warga bertahan setelah kehilangan rumah dan keluarga. Di ruang sempit itulah, hari raya dirayakan dalam kondisi yang jauh dari utuh.

Banyak keluarga menyambut Lebaran dengan duka berlapis, anggota keluarga yang syahid, tubuh yang terluka, dan kehidupan yang berubah drastis. Namun di tengah semua itu, para ibu tetap berusaha menjaga peran mereka: memastikan anak-anak tidak sepenuhnya tenggelam dalam kehilangan.

Shorouq Al-Jarjawi kehilangan suami dan kedua kakinya akibat serangan. Kini ia hidup di tenda di kawasan Shujaiya, Kota Gaza, bergantung pada kursi roda. Meski dalam kondisi terbatas, ia tetap berusaha menyiapkan pakaian Lebaran untuk anaknya.

“Saya hanya ingin dia merasakan bahwa Lebaran itu ada,” ujarnya.

Kisah serupa datang dari Ghadeer Rajab, ibu tiga anak yang kehilangan kakinya setelah serangan udara di Beit Lahia. Trauma itu masih membekas, terlebih anaknya menyaksikan langsung peristiwa tersebut.

“Saya tidak akan pernah melupakan malam itu,” katanya, mengenang momen yang mengubah hidupnya.

Sementara itu, Samah harus menjalani hidup tanpa tangan kanan setelah serangan di Kamp Al-Shati. Ia melahirkan dalam kondisi belum pulih sepenuhnya, dan kini berjuang merawat bayinya dengan keterbatasan fisik. Meski sulit, ia tetap berusaha hadir sebagai ibu bagi anak-anaknya.

Di balik luka fisik dan tekanan psikologis, para ibu ini terus berupaya memenuhi kebutuhan dasar keluarga dan menghadirkan suasana Lebaran, walau sederhana. Harapan anak-anak (bahkan yang sekadar ingin ibunya kembali seperti dulu) menjadi beban sekaligus penguat bagi mereka.










