Rabu pagi (18/3), seorang perempuan Palestina menjadi korban setelah disergap sekelompok pemukim ekstremis Yahudi di dekat pintu masuk Kota Aqraba, selatan Nablus. Sumber lokal dan saksi mata menyebut, para penyerang telah menunggu di sekitar lokasi.

Saat korban melintas, mereka langsung menyemprotkan gas lada ke wajahnya dari jarak dekat. Perempuan itu mengalami sesak napas hebat dan iritasi serius pada mata serta saluran pernapasan. Ia sempat mendapat penanganan darurat di lokasi.

Desa-desa di selatan Nablus (termasuk Aqraba, Beita, dan Duma) dalam beberapa waktu terakhir menjadi titik panas. Warga di sana menghadapi tekanan yang datang nyaris setiap hari: penyerangan fisik, penutupan jalan, hingga intimidasi terhadap petani di lahan mereka sendiri.

Serangan-serangan ini umumnya terjadi di sekitar permukiman ilegal dan pos penggembalaan liar. Tujuannya, menurut sejumlah pengamat lokal, bukan sekadar teror sesaat, melainkan upaya perlahan untuk mengubah peta wilayah, menyempitkan ruang hidup warga Palestina hingga mereka tak lagi punya pilihan selain pergi.

Di lapangan, pola itu terlihat jelas. Ketika militer membuka jalan dan memberikan perlindungan, pemukim bergerak melakukan serangan langsung. Dua peran yang berjalan beriringan.

Perempuan Kian Disasar

Yang juga mengemuka adalah perubahan sasaran. Jika sebelumnya serangan lebih sering menyasar laki-laki atau properti, kini perempuan pun menjadi target langsung.

Serangan di Nablus terjadi hampir bersamaan dengan operasi penangkapan besar-besaran di Qalqilya. Sedikitnya 17 perempuan ditangkap dalam operasi dini hari, sebagian di antaranya merupakan keluarga tahanan dan syahid. Di wilayah Salfit, satu perempuan lainnya juga diamankan.

Kombinasi antara serangan fisik di lapangan dan penangkapan massal ini menunjukkan arah kebijakan yang makin luas, menyasar struktur sosial masyarakat Palestina secara keseluruhan, bukan lagi individu semata.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here