Dalam satu hari, sektor kesehatan di Jalur Gaza dan Tepi Barat mencatat sedikitnya 16 warga Palestina syahid akibat serangan pasukan penjajah Israel. Angka ini menjadi salah satu yang tertinggi dalam beberapa pekan terakhir.
Di Gaza, serangan udara Israel menghantam sebuah kendaraan di dekat pintu masuk kota Al-Zawayda, Gaza, wilayah tengah Jalur Gaza. Serangan itu menyebabkan seorang pejabat senior kepolisian syahid bersama delapan orang lainnya yang berada di dalam kendaraan tersebut.
Petugas medis dan otoritas dalam negeri Gaza menyebut serangan itu juga melukai sedikitnya 14 orang. Sebagian besar korban adalah warga sipil yang kebetulan melintas di lokasi saat ledakan terjadi.
Sebelumnya pada hari yang sama, serangan udara lain menghantam kawasan barat Kamp Nuseirat di Gaza tengah. Tiga anggota satu keluarga syahid dalam serangan itu: seorang pria, istrinya yang tengah hamil, dan anak mereka.
Militer Israel mengklaim serangan pada Ahad (15/4) tersebut merupakan respons atas insiden sehari sebelumnya, ketika pejuang dari Hamas dilaporkan melepaskan tembakan ke arah pasukan Israel. Namun pihak militer tidak menjelaskan secara spesifik apakah operasi itu terkait dengan serangan terhadap kendaraan polisi di Al-Zawayda atau pengeboman keluarga di Nuseirat.
Polisi Gaza Jadi Sasaran
Sejak perang di Gaza dimulai, aparat keamanan dan fasilitas kepolisian di wilayah itu berulang kali menjadi sasaran serangan Israel. Sejumlah pejabat di Gaza menilai pola serangan ini bukan kebetulan, melainkan bagian dari upaya menciptakan kekacauan keamanan di wilayah tersebut.
Data terbaru dari kantor media pemerintah Gaza menunjukkan lebih dari 787 personel aparat keamanan, polisi, serta petugas pengaman distribusi bantuan kemanusiaan telah syahid sejak perang dimulai. Banyak dari mereka terbunuh saat sedang menjalankan tugas.
Di saat yang sama, pelanggaran terhadap kesepakatan gencatan senjata yang berlaku sejak 10 Oktober lalu terus terjadi hampir setiap hari.
Kementerian Kesehatan di Gaza mencatat sedikitnya 663 warga Palestina syahid dan 1.762 lainnya terluka akibat serangan Israel sejak kesepakatan itu diumumkan.
Dampak Perang yang Meluas
Dengan dukungan penuh dari Amerika Serikat, Israel melancarkan perang yang oleh banyak pihak disebut sebagai genosida di Gaza sejak 8 Oktober 2023. Perang ini telah menyebabkan lebih dari 72 ribu warga Palestina syahid dan sekitar 172 ribu lainnya luka-luka.
Selain korban manusia, kerusakan fisik di Gaza juga sangat luas. Sekitar 90 persen infrastruktur wilayah tersebut dilaporkan rusak atau hancur akibat pemboman.
Beberapa warga dan analis mencatat intensitas serangan Israel sempat menurun pada awal pecahnya konflik antara Israel dan Republik Islam Iran. Namun dalam beberapa hari terakhir, serangan di Gaza kembali meningkat.
Otoritas kesehatan Gaza melaporkan sedikitnya 36 warga Palestina syahid sejak pecahnya perang di front Iran.
Empat Orang Sekeluarga Ditembak di Tepi Barat
Situasi serupa juga terjadi di wilayah Tepi Barat yang diduduki Israel.
Otoritas kesehatan Palestina melaporkan empat anggota satu keluarga ditembak mati oleh pasukan Israel ketika mereka berada di dalam mobil di kota Tammun, West Bank.
Korban adalah Ali Khaled Bani Odeh (37 tahun), istrinya Waad (35 tahun), serta dua anak mereka: Muhammad (5 tahun) dan Utsman (7 tahun). Keduanya tewas setelah terkena tembakan di kepala. Dua anak lainnya dalam mobil tersebut dilaporkan mengalami luka-luka.
Militer Israel menyatakan operasi itu dilakukan untuk menangkap warga Palestina yang diduga terlibat dalam aktivitas yang mereka sebut “terorisme” terhadap pasukan Israel.
Dalam pernyataan resminya, militer Israel mengatakan sebuah mobil melaju cepat ke arah pasukan mereka selama operasi berlangsung. Pasukan kemudian menilai kendaraan itu sebagai ancaman langsung dan melepaskan tembakan. Empat orang di dalam mobil tewas di tempat. Pihak militer menambahkan bahwa insiden tersebut masih dalam proses penyelidikan.
Eskalasi di Tepi Barat
Dalam dua tahun terakhir, operasi militer Israel di Tepi Barat meningkat tajam, seiring dengan perang yang berkecamuk di Gaza sejak Oktober 2023.
Operasi itu mencakup penangkapan massal, pengusiran warga, pembunuhan, serta perluasan permukiman ilegal Israel.
Beberapa pengamat mencatat eskalasi kekerasan di wilayah tersebut bahkan semakin meningkat sejak Israel memperluas konflik militernya ke Iran.
Bagi banyak warga Palestina, situasi ini memperlihatkan pola yang sama: perang yang meluas, korban yang terus bertambah, dan kehidupan sipil yang semakin terdesak di antara operasi militer yang tak kunjung berhenti.










