Di tengah puing dan debu bangunan yang runtuh, warga Jalur Gaza tetap menyambut malam ke-27 Ramadhan, malam yang diyakini sebagai Lailatul Qadar. Banyak masjid di wilayah itu telah hancur dibombardir pasukan penjajah Israel selama perang genosida yang masih berlangsung. Namun ruang ibadah tidak benar-benar hilang.
Di berbagai sudut kota, warga mendirikan mushala darurat dari lembaran plastik dan terpal. Tempat-tempat sederhana itu menjadi pengganti sementara rumah Allah yang telah porak-poranda.
Suara dengung drone yang oleh warga disebut “zananah”, udara malam yang dingin, dan pemadaman listrik berkepanjangan tidak menghentikan mereka. Salat tetap berlangsung di antara reruntuhan dan tenda pengungsian. Jamaah berdiri rapat di atas tanah berdebu, seolah ingin menegaskan bahwa kehancuran fisik tidak serta-merta memadamkan kehidupan rohani.
Di sekitar sisa-sisa masjid yang runtuh, halaman rumah, jalan sempit, hingga lorong-lorong kamp berubah menjadi ruang salat darurat. Anak-anak berdiri di samping orang tua mereka, memegang lampu kecil atau senter ponsel, menerangi gelap yang ditinggalkan perang.
Ibadah di Tengah Luka Perang

Kerugian yang diderita Gaza selama perang sangat besar, ribuan syuhada, rumah hancur, dan fasilitas publik luluh lantak. Namun ritual Ramadhan tetap dijaga. Dari salat tarawih hingga doa panjang menjelang fajar, warga mencoba mempertahankan serpihan kehidupan normal yang tersisa.
Bagi banyak orang, ibadah malam itu bukan sekadar rutinitas agama. Ia menjadi cara bertahan.
“Ini bukan hanya malam ibadah,” tulis seorang pengguna media sosial. “Ini bukti bahwa Gaza masih hidup.”
Malam ke-27 Ramadhan tahun ini juga terasa berbeda karena banyak warga baru bisa kembali melaksanakan salat berjamaah setelah lebih dari dua tahun situasi perang membuat banyak masjid tidak lagi dapat digunakan.
Masjid yang Bangkit dari Reruntuhan

Di media sosial, sejumlah foto dan video memperlihatkan suasana yang bagi warga Gaza terasa hampir mustahil beberapa waktu lalu: masjid kembali dipenuhi jamaah.
Salah satu yang banyak dibicarakan adalah Masjid Al‑Kanz. Malam itu, masjid tersebut dipadati jamaah hingga saf meluber ke jalan sekitar. Banyak warganet memuji keteguhan warga Gaza yang tetap berpegang pada iman meski hidup di tengah kehancuran.
“Gaza kembali menemukan ruhnya,” tulis seorang pengguna media sosial. “Tembok bisa runtuh, tetapi iman tidak bisa dibombardir.”
Komentar lain menyebut malam-malam Ramadhan sebagai kesempatan bagi kota itu untuk “mengobati luka dengan salat dan Al-Qur’an”.
Simbol lain yang banyak dibicarakan adalah Masjid Agung Al‑Omari—salah satu masjid tertua di kota itu. Bangunan bersejarah tersebut rusak berat akibat serangan Israel. Namun pada malam Lailatul Qadar, warga kembali menghidupkan tempat itu, meski hanya dengan atap darurat dari lembaran nilon.
Bagi banyak orang, pemandangan itu terasa seperti sebuah keajaiban kecil di tengah kehancuran.
Malam yang Tidak Sepenuhnya Sunyi

Meski demikian, malam Lailatul Qadar di Gaza tetap jauh dari ketenangan yang biasa menyertai ibadah.
Drone Israel masih terbang rendah di langit, berusaha mengganggu kekhusyukan para jamaah. Dengungnya memotong bacaan Al-Qur’an yang terdengar dari mushala darurat.
“Di Gaza, malam kami berbeda,” tulis seorang aktivis. “Suara Al-Qur’an sering tertutup dengung drone yang menembus kesunyian dan menanamkan rasa takut.”
Namun jamaah tetap melanjutkan salat mereka.
Dari tenda-tenda pengungsian, orang-orang keluar berkelompok menuju masjid yang tersisa atau sekadar menuju tanah kosong di atas puing bangunan. Tua, muda, hingga anak-anak berjalan bersama dalam gelombang kecil menuju tempat ibadah.
Bagi warga Gaza, pemandangan itu bukan sekadar ritual tahunan.
Pesan dari Tengah Reruntuhan

Sejumlah pengamat di media sosial menyebut pemandangan malam itu sebagai pesan keteguhan.
Ketika rumah hancur dan kota berubah menjadi puing, tetapi hati manusia tetap dipenuhi iman, maka yang terlihat bukan sekadar ibadah—melainkan bentuk perlawanan batin.
Bagi warga Gaza, kekuatan tidak selalu lahir dari senjata atau teknologi militer yang memenuhi langit mereka setiap hari.
Kadang ia hadir dalam bentuk yang lebih sederhana: sekelompok manusia yang tetap berdiri untuk salat di atas tanah yang baru saja dihancurkan bom.
Di tengah perang yang mencoba menghapus sejarah, tempat suci, dan kehidupan mereka, warga Gaza memilih menjawabnya dengan cara yang paling sunyi—tetapi paling keras terdengar: tetap beribadah.










