Otoritas di Jalur Gaza menyebut Israel memanfaatkan meningkatnya ketegangan kawasan (terutama konflik yang melibatkan Iran) untuk memperketat blokade terhadap wilayah tersebut. Langkah ini dinilai semakin mengancam ketersediaan makanan dan bahan bakar bagi lebih dari dua juta warga Palestina.
Juru bicara otoritas Gaza, Ismail al-Thawabta, mengatakan pembatasan baru itu memperparah krisis kemanusiaan yang sudah berlangsung lama di wilayah kantong tersebut.
“Otoritas Israel memanfaatkan perkembangan situasi di kawasan untuk memperketat pembatasan dan menambah hambatan terhadap masuknya makanan serta bahan bakar ke Gaza,” kata Ismail, dikutip Antara, Rabu (11/3/2026).
Menurut dia, ketegangan regional juga mengganggu pengiriman berbagai kebutuhan pokok yang selama ini menjadi penopang kehidupan lebih dari 2,4 juta penduduk Gaza.
Dari sekitar 7.400 truk bahan bakar yang diperkirakan dibutuhkan untuk memasok wilayah tersebut, kata Ismail, hanya 1.081 truk yang berhasil masuk.
Krisis Energi Lumpuhkan Layanan Dasar
Pembatasan yang dilakukan Israel juga mencakup penghentian total impor gas alam yang selama ini digunakan warga untuk memasak.
Kelangkaan bahan bakar itu berdampak langsung pada berbagai layanan dasar. Sejumlah fasilitas penting seperti stasiun pompa air, rumah sakit, hingga layanan kota disebut terpaksa membatasi bahkan menghentikan operasionalnya.
Di sisi lain, kondisi ekonomi warga terus memburuk. Harga barang kebutuhan pokok melonjak tajam, sementara daya beli masyarakat semakin merosot di tengah kemiskinan dan tingkat pengangguran yang tinggi.
“Gaza kini menghadapi lonjakan harga yang belum pernah terjadi sebelumnya untuk kebutuhan dasar, sementara kemampuan keluarga untuk membeli semakin menurun,” ujar Ismail.
Rafah Masih Tertutup
Otoritas Gaza juga menyebut Perlintasan Rafah di perbatasan dengan Mesir masih tertutup untuk evakuasi medis.
Akibatnya, ribuan warga yang sakit maupun terluka tidak dapat keluar dari Gaza untuk mendapatkan perawatan yang lebih memadai.
Penutupan jalur tersebut mempersempit pilihan bagi pasien yang membutuhkan penanganan segera, sekaligus menambah tekanan pada sistem kesehatan Gaza yang sudah berada di ambang krisis.










