Di tengah puing rumahnya di kawasan Al-Karama, Gaza utara, Ahmad Mansour (45) menunjuk tumpukan batu yang dulunya adalah dinding dan atap tempat ia membesarkan anak-anaknya. “Kami angkat reruntuhan ini dengan tangan kosong,” ujarnya. Tak ada tempat berlindung lain. Kamp-kamp pengungsian penuh. Ia dan keluarganya bahkan merobohkan sisa rumah mereka sendiri agar bisa mendirikan tenda di atas puing yang sama.
Sejak satu setengah bulan terakhir, Ahmad bekerja dari fajar hingga malam, meratakan tanah dan menunggu bantuan, entah tenda, entah alat berat yang tak kunjung datang. Namun menunggu bukan pilihan yang mudah. Maka ia dan warga lain memilih bergerak.
Di Gaza, dari antara debu dan beton retak, lahir bentuk rekonstruksi paling mendasar: rakyat membangun kembali dengan apa yang tersisa. Reruntuhan tak lagi sekadar jejak kehancuran, melainkan bahan baku untuk bertahan. Batu dibersihkan, besi yang melengkung diluruskan, potongan beton diangkat dengan ember plastik. Tak ada seremoni peresmian, tak ada alat modern, hanya tangan-tangan yang memutuskan bahwa hidup harus dilanjutkan.
Di wilayah Sheikh Radwan, Al-Tawam, hingga Al-Karama, pemandangan serupa berulang. Pria-pria membungkuk di atas timbunan puing, memecah beton dengan palu sederhana. Besi yang bengkok akibat gempuran dirapikan kembali untuk menjadi tiang tenda atau rangka dinding. Setiap batu yang diselamatkan adalah kemungkinan rumah. Setiap batang besi yang ditegakkan kembali adalah janji atap.

Data memperlihatkan skala bencana yang mereka hadapi. Laporan United Nations Development Programme per 19 Desember 2025 mencatat sekitar 57,5 juta ton puing menumpuk di Gaza, setelah hampir 80 persen bangunan hancur atau rusak. Analisis satelit UN-Habitat bahkan menunjukkan lonjakan drastis: dari 22,9 juta ton pada Januari 2024 menjadi 53,4 juta ton pada April 2025, kenaikan lebih dari 133 persen dalam hitungan bulan. Angka-angka ini bukan sekadar statistik; ia adalah gunung beton yang menyumbat jalan, menutup gang, dan menahan warga dari kehidupan normal.
Dalam kondisi perbatasan tertutup dan alat berat dibatasi, reruntuhan berubah menjadi sumber daya alternatif. Batu dan besi dipilah manual. Tanpa mesin penghancur, tanpa fasilitas daur ulang memadai (sebagian bahkan dihancurkan dalam serangan) warga memaksimalkan apa yang ada.
Di antara mereka, Bassem Al-Madhoun membentuk tim lokal “Rawaafed” untuk membantu warga membersihkan puing rumah. Ia memulai dari rumahnya sendiri. “Kalau kami tidak bergerak, tidak ada yang akan melakukannya untuk kami,” katanya. Timnya bekerja dengan peralatan sederhana dan beberapa buldoser kecil berkapasitas terbatas. Mesin besar sulit masuk. Rekonstruksi resmi tersendat, tetapi inisiatif rakyat berjalan.
Di sisi lain, Abu Nael, pedagang batu dan besi daur ulang, menyusun bata-bata bekas yang telah ia bersihkan. Batu yang dulu dijual satu shekel sebelum perang kini dibeli rusak tiga shekel dan dijual kembali empat shekel, harga yang tetap terasa mahal bagi banyak keluarga. Besi-besi bengkok diluruskan, dijual kembali untuk menopang dinding atau bahkan membangun makam bagi anak yang syahid. Di titik ini, rekonstruksi bukan lagi sekadar ekonomi, melainkan cermin kehilangan yang belum selesai.
Menurut analisis PBB, total puing berpotensi melampaui 61 juta ton, krisis pengelolaan reruntuhan yang belum pernah terjadi di wilayah sekecil dan sepadat Gaza. Namun di tengah keterbatasan itu, warga menulis narasi tandingan atas kehendak penghancuran.
Di Gaza, puing tidak hanya dipindahkan untuk membuka jalan. Ia dipilah untuk membuka kemungkinan. Dengan gunting besi, ember plastik, dan tangan yang lecet, warga merumuskan satu pesan sederhana: ketika bahan bangunan dilarang masuk, mereka akan membangun dengan sisa yang ada.
Dari reruntuhan lahir ruang berteduh. Dari ruang berteduh, harapan tentang kota yang berdiri kembali (meski pelan, meski tanpa jaminan) tetap dijaga.










