Hujan turun tanpa jeda di atas Gaza, dan bersama setiap tetesnya, penderitaan warga kian bertambah. Di wilayah yang telah hancur oleh perang dan dicekik blokade, derasnya hujan kini menenggelamkan tenda-tenda pengungsi, memaksa ribuan keluarga menghadapi malam dalam genangan air dan udara dingin yang menusuk.

Pertahanan Sipil Gaza melaporkan bahwa tim mereka mengevakuasi sejumlah keluarga setelah tenda-tenda di kawasan Mawasi, Khan Younis, terendam banjir. Tempat berlindung yang semestinya menjadi ruang aman justru berubah menjadi kubangan lumpur dan kecemasan.

Di Kamp Nuseirat, situasi tak kalah memilukan. Luapan air merusak tenda-tenda dan memaksa warga berjibaku menyelamatkan barang seadanya. Di bulan Ramadhan yang mestinya menghadirkan ketenangan, banyak keluarga bahkan tak sempat menyantap sahur. Waktu mereka habis untuk menguras air yang merangsek masuk, berusaha menjaga agar alas tidur anak-anak tidak sepenuhnya basah.

Menurut laporan di lapangan, panggilan darurat membanjiri kantor pertahanan sipil. Namun keterbatasan personel dan minimnya peralatan membuat tak semua seruan bantuan bisa dijawab. Di tengah bencana yang berlapis (perang, blokade, dan kini banjir) warga Gaza kembali dibiarkan bertahan dengan daya yang tersisa.

Hujan mungkin fenomena alam, tetapi ketika ia jatuh di atas puing dan tenda rapuh, ia berubah menjadi babak lain dari krisis kemanusiaan yang belum menemukan ujungnya.

Hujan deras menenggelamkan tenda-tenda pengungsi di Khan Younis, selatan Jalur Gaza (AFP).
Seorang warga Palestina berusaha menyedot air dari jalan dekat salah satu kamp pengungsian di Gaza setelah hujan deras melanda wilayah tersebut, Selasa, 24 Februari 2026 (Reuters).
Air hujan menggenangi kamp-kamp pengungsian di kawasan Mawasi, Khan Younis, selatan Jalur Gaza, Selasa, 24 Februari 2026 (Reuters).
Anak-anak pengungsi berjalan menerobos genangan air hujan di Kamp Nuseirat, Jalur Gaza (Associated Press).
Anak-anak Palestina pengungsi berjalan menyusuri jalan yang tergenang air di Khan Younis setelah hujan deras mengguyur Jalur Gaza pada 24 Februari 2026 (AFP).
Upaya penyedotan air dari jalan-jalan di Jalur Gaza terus dilakukan, namun keterbatasan peralatan menghambat kerja tim pertahanan sipil (AFP).
Tim pertahanan sipil menggunakan buldoser untuk menyingkirkan lumpur dan genangan air dari jalan-jalan (AFP).
Hujan deras memperparah penderitaan warga Gaza di tengah kelangkaan air bersih yang layak konsumsi (AFP).
Jalan-jalan di Khan Younis masih tergenang air hujan (AFP).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here