Hujan turun tanpa jeda di atas Gaza, dan bersama setiap tetesnya, penderitaan warga kian bertambah. Di wilayah yang telah hancur oleh perang dan dicekik blokade, derasnya hujan kini menenggelamkan tenda-tenda pengungsi, memaksa ribuan keluarga menghadapi malam dalam genangan air dan udara dingin yang menusuk.
Pertahanan Sipil Gaza melaporkan bahwa tim mereka mengevakuasi sejumlah keluarga setelah tenda-tenda di kawasan Mawasi, Khan Younis, terendam banjir. Tempat berlindung yang semestinya menjadi ruang aman justru berubah menjadi kubangan lumpur dan kecemasan.
Di Kamp Nuseirat, situasi tak kalah memilukan. Luapan air merusak tenda-tenda dan memaksa warga berjibaku menyelamatkan barang seadanya. Di bulan Ramadhan yang mestinya menghadirkan ketenangan, banyak keluarga bahkan tak sempat menyantap sahur. Waktu mereka habis untuk menguras air yang merangsek masuk, berusaha menjaga agar alas tidur anak-anak tidak sepenuhnya basah.
Menurut laporan di lapangan, panggilan darurat membanjiri kantor pertahanan sipil. Namun keterbatasan personel dan minimnya peralatan membuat tak semua seruan bantuan bisa dijawab. Di tengah bencana yang berlapis (perang, blokade, dan kini banjir) warga Gaza kembali dibiarkan bertahan dengan daya yang tersisa.
Hujan mungkin fenomena alam, tetapi ketika ia jatuh di atas puing dan tenda rapuh, ia berubah menjadi babak lain dari krisis kemanusiaan yang belum menemukan ujungnya.



















