Seorang tentara Israel tewas di selatan Jalur Gaza, Rabu (18/2/2026). Militer Israel mengonfirmasi kematian itu, sementara Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menyatakan tentara itu tewas akibat “tembakan rekan sendiri” (friendly fire).
Dalam pernyataan resminya, militer Israel menyebut Sersan Mayor Afri Yaffe (21), anggota unit pengintai pasukan terjun payung asal HaYogev, tewas di selatan Gaza.
Dengan insiden ini, jumlah tentara Israel yang tewas sejak gencatan senjata berlaku pada 10 Oktober lalu menjadi lima orang. Namun, dalam periode yang sama, data Kementerian Kesehatan Gaza mencatat sekitar 600 warga Palestina syahid akibat tembakan Israel.
Perkembangan Lapangan
Di Khan Younis, sumber di Kompleks Medis Nasser melaporkan seorang warga Palestina syahid akibat tembakan tentara Israel di area penempatan pasukan di timur kota tersebut, bertepatan dengan hari pertama Ramadan.
Pada hari yang sama, Israel membebaskan 13 tahanan Palestina dari Gaza, termasuk seorang perempuan, yang ditangkap selama dua tahun agresi. Pembebasan ini difasilitasi oleh International Committee of the Red Cross (ICRC) melalui perlintasan Kerem Abu Salem. Para tahanan dipindahkan ke Rumah Sakit Syuhada Al-Aqsa di Deir al-Balah dan dipertemukan kembali dengan keluarga mereka.
ICRC tidak merinci kondisi kesehatan para tahanan yang dibebaskan. Namun, sejumlah eks tahanan sebelumnya bersaksi bahwa banyak dari mereka keluar penjara dalam kondisi malnutrisi dan mengalami luka akibat penyiksaan fisik berat.
ICRC juga menegaskan belum mendapat akses mengunjungi tahanan Palestina di pusat-pusat penahanan Israel sejak Oktober 2023. Lembaga itu mendesak agar seluruh lokasi dan nasib para tahanan diinformasikan serta akses kemanusiaan dibuka kembali, sebagaimana diamanatkan hukum humaniter internasional.
Sebelumnya, sekitar 1.700 tahanan Gaza dibebaskan pada 13 Oktober lalu dalam kerangka kesepakatan gencatan senjata dan pertukaran tahanan antara Israel dan Hamas. Kesepakatan yang dimediasi Mesir, Qatar, dan Turki, serta mendapat dukungan Presiden AS Donald Trump, mulai berlaku 10 Oktober.
Perjanjian itu mengakhiri agresi Israel yang dimulai 8 Oktober 2023 dan berlangsung dua tahun, yang menurut data Palestina menyebabkan lebih dari 72 ribu orang syahid dan melukai lebih dari 171 ribu lainnya, serta menghancurkan sekitar 90 persen infrastruktur sipil Gaza. PBB memperkirakan biaya rekonstruksi mencapai 70 miliar dolar AS.
Hingga kini, lebih dari 9.300 warga Palestina masih mendekam di penjara Israel, termasuk 66 perempuan dan 350 anak. Otoritas Palestina menuduh praktik penyiksaan, kelaparan paksa, dan pengabaian medis terus berlangsung, klaim yang menjadi sorotan tajam di tengah sorotan global terhadap konflik yang belum benar-benar mereda.










