Di antara deretan tenda darurat di kawasan Mawasi, Khan Younis, sejumlah gadis belia memukul karung berisi pasir yang digantung seadanya pada tiang-tiang penyangga. Tanpa sarung tangan dan tanpa matras pelindung, mereka berlatih tinju (olahraga yang biasa disebut “seni mulia”) bukan untuk kompetisi, melainkan sebagai pelarian dari tekanan dua tahun perang yang menghancurkan rumah dan keseharian mereka.
Mayoritas belum berusia 16 tahun. Di tengah suara ledakan yang tak benar-benar berhenti, latihan berubah fungsi: dari olahraga menjadi terapi psikologis. Pukulan-pukulan kecil itu menjadi cara melawan rasa takut yang terus hidup bersama mereka sejak pengungsian.
Pelatih Osama Ayoub mengatakan kepada Anadolu Agency bahwa klub tinju mereka di Kota Gaza dibakar pada bulan-bulan awal perang. Setelah itu, latihan terpaksa dipindahkan ke area pengungsian dengan peralatan seadanya yang diselamatkan dari reruntuhan.
“Kami mulai tanpa apa pun (tanpa sarung tangan, tanpa pelindung) hanya tanah keras,” ujarnya.
Ayoub menegaskan tujuannya melampaui olahraga. Ia ingin membentuk ketahanan mental para gadis di tengah situasi perang yang memukul psikologi anak-anak. Meski lokasi latihan tetap tidak memenuhi standar keselamatan dasar, sesi latihan rutin tetap berlangsung di antara sekitar 50 tenda pengungsi.
Sejumlah peserta menyimpan ambisi yang terdengar kontras dengan kondisi sekitar. Ghazal Radwan, yang mengungsi dari Jabalia, berharap suatu hari menjadi juara dunia. Ia mengaku tinju membantunya mengatasi ketakutan selama bulan-bulan perang. Sementara Mayar Ayoub, yang sudah berlatih sebelum konflik, memilih terus bertahan meski fasilitas olahraga hancur dan peralatan minim.
Data kantor media pemerintah Gaza menyebutkan 292 fasilitas dan lapangan olahraga hancur selama perang. Aktivitas olahraga resmi praktis lumpuh total, tersisa inisiatif individu pelatih untuk menjaga kesehatan mental anak-anak.
Di tengah reruntuhan dan pengungsian berkepanjangan, latihan sederhana itu menjadi satu-satunya ruang normalitas. Pukulan-pukulan kecil para gadis tidak mengubah medan perang, tetapi cukup untuk menahan runtuhnya masa kanak-kanak mereka.
Sumber: Al Jazeera










