Di dalam tenda lusuhnya di Kota Gaza, Um Diab duduk meringkuk, memeluk tubuhnya sendiri untuk melawan dingin yang tak mengenal siang atau malam. Tubuhnya yang kurus tak menunjukkan ia tengah memasuki bulan kelima kehamilan. Yang tampak justru beban panjang kelaparan yang lebih dulu menekan jiwanya sebelum menggerogoti raganya.
Sejak dipaksa mengungsi dari wilayah utara Jalur Gaza, ia tak pernah lagi mengenal kata stabil. Awalnya tanpa tenda, tanpa atap, hingga selembar kain bantuan menjadi satu-satunya pelindung dari angin. “Kami bangun dan tidur dalam keadaan menggigil,” katanya. Bahkan untuk mengurus anaknya yang berusia dua tahun (yang kini mengalami gizi buruk) ia harus mengerahkan tenaga berlipat. Di matanya tersimpan dua ketakutan sekaligus: pada anak yang sudah lahir, dan pada janin yang belum sempat melihat dunia.
Setiap pagi, Um Diab berjalan jauh menuju Rumah Sakit Internasional Al-Hilu di Gaza barat, berharap bisa membuka berkas medis dan memperoleh suplemen yang dibutuhkan tubuhnya. Ia menunggu berjam-jam hingga siang. Lebih sering pulang dengan tangan kosong. Stok habis. Vitamin tak tersedia. Tenda itu kembali menjadi saksi penantian berbulan-bulan yang tak berujung.
Kecemasannya bukan tanpa alasan. Sebelum agresi Israel yang meluluhlantakkan Gaza, ia melahirkan seorang anak dengan kelainan bawaan. Kehamilan kali ini dikategorikan berisiko tinggi. Namun ia tak punya uang, tak punya asupan layak, bahkan tak mampu menjalani kontrol rutin. “Suami saya menganggur. Kami hidup dari bantuan yang tak cukup menutup lapar, apalagi memenuhi kebutuhan ibu hamil,” ujarnya lirih. Baginya, satu hal saja yang tersisa: berharap bayinya lahir selamat.
Kehamilan dalam Rumah Retak
Di lingkungan Al-Zeitoun, Gaza timur, Israa Qasim menjalani bulan ketujuh kehamilan di rumah yang rusak akibat serangan. Tanpa jendela, tanpa listrik stabil, tanpa air bersih memadai. Ia memang tidak tinggal di tenda, tetapi rumah yang retak itu tak lebih aman dari angin dan kecemasan.
“Kehamilan ini berbeda. Saya selalu lelah, pusing, tak sanggup berdiri lama,” katanya. Dalam beberapa bulan terakhir, ia berkali-kali pingsan dan dilarikan ke rumah sakit. Dokter mendiagnosis kekurangan zat besi dan vitamin akut. Suplemen yang ia butuhkan datang tak menentu. “Kadang dapat satu kotak, kadang pulang tanpa apa-apa.” Makanan yang tersedia, katanya, hanya sekadar “membungkam lapar,” bukan mencukupi kebutuhan nutrisi ibu hamil.
Yang paling ia takuti adalah persalinan. Ia khawatir bayinya lahir prematur atau dengan berat badan rendah, seperti banyak kasus di sekelilingnya. “Kehamilan di Gaza bukan lagi masa menunggu dengan harap. Ini perjalanan cemas setiap hari. Kami lebih takut pada lapar daripada pada rasa sakit.”
Masa Paceklik yang Belum Usai
Kisah Um Diab dan Israa hanyalah potret kecil dari ribuan perempuan hamil di Gaza setelah gelombang kelaparan menghantam wilayah itu pada pertengahan 2025. Krisis itu bukan hanya mengosongkan pasar, tetapi juga menggerogoti tubuh perempuan dan meninggalkan jejak sunyi di rahim mereka.
Blokade Israel yang ketat, keruntuhan sistem kesehatan, serta kelangkaan obat dan suplemen memperparah situasi. Meski gencatan senjata berlaku sejak 11 Oktober lalu, daya beli keluarga belum pulih. Akses terhadap pangan bergizi tetap terbatas. Kehamilan (yang semestinya disambut suka cita) berubah menjadi beban psikologis dan biologis.
Tubuh yang Terkuras
Para dokter kandungan di Gaza mulai mencatat tren yang mengkhawatirkan. Kasus gangguan perkembangan organ, masalah saraf dan jantung, serta peningkatan keguguran (terutama pada trimester awal) mengalami kenaikan. Tanpa fasilitas diagnostik memadai, penyebab pasti sulit dipastikan. Namun kekurangan asam folat, zat besi, protein, ditambah stres berkepanjangan, disebut sebagai faktor dominan.
Dr. Suhail Abu Mustafa, konsultan kebidanan dan kandungan, menegaskan bahwa tubuh perempuan seharusnya berada dalam kondisi nutrisi optimal bahkan sebelum merencanakan kehamilan. “Dalam situasi kelaparan, itu mustahil,” ujarnya. Ia menyebut hampir semua elemen penting dalam tubuh pasiennya kini berada pada level defisit. Janin, yang sepenuhnya bergantung pada tubuh ibu, ikut menanggung akibatnya.
Ia membagi risiko kehamilan dalam tiga fase. Pada trimester pertama, kekurangan gizi dapat memicu kelainan bawaan atau keguguran dini. Pada trimester kedua, pertumbuhan janin bisa terhambat. Sementara pada fase akhir, bayi berisiko lahir dengan kelainan multipel atau kondisi vital yang lemah. Dampaknya berlanjut setelah lahir: kulit kering, ukuran tubuh kecil, dan gangguan tumbuh kembang yang memerlukan perawatan intensif, layanan yang tak selalu tersedia.
Bayi Makin Ringan
Salah satu indikator paling nyata adalah turunnya berat badan bayi baru lahir. Jika sebelumnya rata-rata mencapai 3,5 kilogram, kini banyak yang lahir dengan berat sekitar 2,5 kilogram. Penurunan satu kilogram bukan sekadar angka; ia mencerminkan jurang nutrisi yang belum tertutup.
Mohammed Abu Afash, Direktur Layanan Medis di Gaza, juga menyoroti kemungkinan dampak lingkungan akibat penggunaan senjata berdaya ledak tinggi. Paparan asap, residu logam, dan kontaminasi lingkungan diduga memperbesar risiko kelainan bawaan. Tanpa pemeriksaan lanjutan yang memadai, dugaan itu belum bisa diverifikasi sepenuhnya. Namun indikator lapangan menunjukkan tren yang tak bisa diabaikan.
Dr. Ziad Al-Masri, konsultan pediatri dan neonatologi di Rumah Sakit Internasional Al-Hilu, melaporkan peningkatan kelahiran prematur dengan usia dan berat janin sangat rendah. Bayi-bayi ini membutuhkan perawatan intensif jangka panjang di tengah keterbatasan alat dan tenaga medis. Ia menyebut ada sedikit perbaikan asupan dalam beberapa bulan terakhir, tetapi situasinya masih jauh dari aman.
Ibu dalam Ketidakpastian
Di antara tenda-tenda pengungsian dan ruang NICU yang penuh, potret kehamilan di Gaza kini berdiri di antara hidup dan kehilangan. Kelaparan tidak berhenti pada statistik. Ia menembus rahim, mengubah detak jantung janin menjadi tanda tanya.
Angka-angka mungkin menunjukkan perbaikan parsial. Namun bagi para ibu, krisis belum benar-benar berakhir. Mereka masih menghitung hari dengan kecemasan, bukan hanya soal selamat atau tidaknya bayi lahir, tetapi juga tentang masa depan generasi yang sejak dalam kandungan telah mewarisi luka.










