Global Peace Convoy Indonesia (GPCI) menyatakan dukungan penuh terhadap Global Sumud Flotilla (GSF), misi kemanusiaan lintas negara yang dijadwalkan berangkat menuju Gaza pada 29 Maret 2026 melalui jalur laut dan darat.

Bagi GPCI, Global Sumud Flotilla merupakan simbol solidaritas. Misi ini dipandang sebagai intervensi sipil yang sah dan mendesak, berakar pada hukum internasional, prinsip kemanusiaan universal, dan keberpihakan tegas pada perlindungan warga sipil, di tengah macetnya mekanisme global merespons krisis Gaza yang kian parah.

“Ketika penderitaan massal dibiarkan berlangsung dan pelanggaran dinormalisasi, diam bukan lagi pilihan,” tegas GPCI, melalui pernyataan resmi, Jumat (6/2/2026).

Menurut GPCI, pembiaran terhadap pengepungan, penghancuran infrastruktur sipil, dan krisis kemanusiaan di Gaza telah melampaui kegagalan diplomasi. Situasi itu kini menjelma krisis moral global.

GPCI menilai Indonesia tidak bisa terus berdiri di pinggir sejarah, menjadi penonton tragedi kemanusiaan yang berlangsung terbuka di hadapan dunia.

“Tim Indonesia telah bersiap secara intens untuk Global Sumud Flotilla musim semi ini. Pengalaman misi sebelumnya menjadi bekal penting. Kami optimistis perjalanan kali ini, insya Allah, dapat menembus blokade. Kondisi Gaza sudah berada di titik paling genting. Mobilisasi lewat laut dan darat harus dijalankan secara bersamaan,” ujar Dr. Maimun Herawati, Koordinator Dewan Pengarah GPCI.

Dukungan GPCI memperkuat gelombang perlawanan kemanusiaan global yang tengah disiapkan. Panitia Armada Global Sumud sebelumnya mengumumkan rencana pelayaran lebih dari 100 kapal mulai 29 Maret dari Barcelona dan sejumlah pelabuhan di Laut Tengah, bersamaan dengan dua konvoi darat dari Afrika Utara dan Asia.

Ribuan aktivis lintas negara dijadwalkan terlibat, termasuk lebih dari seribu dokter, pakar kesehatan dan lingkungan, serta penyelidik kejahatan perang. Bantuan medis dan pangan menjadi muatan utama, dua kebutuhan paling mendesak di Gaza yang hingga kini tetap dicekik pembatasan ketat Israel.

Para penyelenggara tak menutup mata terhadap risiko. Ancaman intersepsi militer Israel dinilai nyata dan berulang. Namun mereka menegaskan, ancaman itu tak sebanding dengan penderitaan warga Gaza (terutama anak-anak) yang selama puluhan tahun hidup di bawah sistem yang mereka sebut sebagai apartheid.

Preseden kekerasan itu bukan sekadar bayangan. Pada Oktober lalu, angkatan laut Israel menyerang dan menyita puluhan kapal Armada Global di perairan internasional, menahan ratusan aktivis, dan memaksa misi kemanusiaan berhenti di tengah laut. Kali ini, para penggerak armada menyatakan sikap lebih tegas: netralitas bukan lagi posisi etis.

Di mata GPCI dan penyelenggara Global Sumud Flotilla, Gaza kini menjadi cermin kegagalan tatanan global. Ribuan pasien menunggu izin keluar untuk berobat, sementara mereka yang kembali justru menghadapi pemeriksaan, intimidasi, dan perlakuan merendahkan.

“Ini saatnya kemanusiaan melawan genosida dan proyek kolonial,” tegas panitia armada. Klaim Israel sebagai demokrasi di kawasan, kata mereka, runtuh di hadapan kenyataan anak-anak Gaza yang dibiarkan kelaparan hingga mati.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here