Sebanyak 25 warga Palestina tiba di Gaza melalui perbatasan Rafah, Kamis dini hari (5/2/2026), setelah menjalani perawatan medis di luar wilayah itu. Kepulangan mereka menandai gelombang ketiga pemulangan sejak perlintasan Rafah dibuka secara terbatas, namun sekaligus menegaskan rapuhnya akses kemanusiaan yang dikendalikan Israel.

Menurut laporan koresponden Al Jazeera, para pemulangan tiba di Kompleks Medis Nasser setelah menempuh perjalanan lebih dari 20 jam dari Al Arish, Mesir. Wajah-wajah letih dan tubuh yang kelelahan mencerminkan panjangnya proses yang harus mereka lalui sebelum kembali ke Gaza.

Sejumlah pengungsi mengaku mengalami pemeriksaan ketat disertai perlakuan merendahkan oleh tentara Israel, baik di sisi Palestina perlintasan Rafah maupun sepanjang Jalan Salahuddin di Rafah dan Khan Younis. Kesaksian itu memperlihatkan bagaimana perjalanan medis berubah menjadi proses yang sarat tekanan dan intimidasi.

Pada hari yang sama, Israel memulangkan 26 pasien dan pendamping ke Gaza, namun hanya mengizinkan 20 pasien dan pendamping untuk keluar dari wilayah tersebut, tanpa penjelasan resmi. Kebijakan sepihak itu terjadi pada hari ketiga operasional perlintasan Rafah.

Sehari sebelumnya, militer Israel membatalkan koordinasi keberangkatan gelombang ketiga pasien dan korban luka dari Gaza, hanya dua hari setelah perlintasan itu dibuka kembali secara terbatas. Keputusan tersebut menggagalkan keberangkatan puluhan pasien yang telah bersiap meninggalkan Gaza untuk mendapatkan perawatan, di tengah runtuhnya sistem kesehatan akibat perang berkepanjangan.

Perlintasan Rafah mulai dioperasikan kembali pada 2 Februari, untuk pertama kalinya dalam hampir dua tahun. Berdasarkan kesepakatan awal, perlintasan itu dijadwalkan memungkinkan masuknya 50 warga Palestina ke Gaza dan keluarnya 50 pasien ke Mesir (masing-masing dengan dua pendamping) pada hari pertama.

Namun realitas di lapangan jauh dari skema yang dijanjikan. Pada hari pertama, hanya 12 orang yang diizinkan masuk ke Gaza dan delapan orang yang keluar. Hari kedua mencatat kepulangan 40 warga Palestina setelah menunggu lama, di tengah hambatan besar yang disebut bersumber dari pembatasan militer Israel.

Rangkaian pembatasan ini memperlihatkan bahwa pembukaan Rafah belum berfungsi sebagai jalur kemanusiaan, melainkan sebagai instrumen kontrol. Bagi warga Gaza, akses berobat ke luar wilayah tetap menjadi privilese yang bisa dibatalkan sewaktu-waktu.

Sumber: Al Jazeera

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here