Eskalasi militer Israel terbaru di Jalur Gaza kembali memunculkan pertanyaan mendasar: mengapa gencatan senjata yang menyeluruh justru tak pernah benar-benar dibiarkan hidup? Menurut pakar urusan Israel, Walid Habas, jawabannya terletak pada cara Israel membaca insiden keamanan dan kepentingan jangka panjangnya di Gaza.

Habas mencatat, media Israel secara eksklusif menyoroti luka yang dialami seorang perwira Israel dalam penyergapan yang terjadi Rabu di Gaza utara. Sorotan tunggal ini, katanya, langsung memicu status siaga di institusi keamanan dan level politik Israel untuk membahas respons yang harus diambil.

Bagi Israel, insiden tersebut bukan peristiwa biasa. “Israel melihatnya sebagai indikator berbahaya yang bisa menyeret situasi kembali ke atmosfer tahun 1990-an, ketika keberadaan tentara di dalam Gaza menjadikan mereka sasaran langsung perlawanan,” jelas Habas.

Mengejar ‘Kebebasan Operasi Militer’

Namun, Habas menegaskan Israel juga tidak menginginkan perang terbuka seperti sebelumnya. Yang dikejar justru situasi abu-abu: tidak perang, tapi juga tanpa ketenangan yang stabil. Israel, kata dia, berupaya memaksakan konsep “kebebasan operasi militer” di Gaza, model yang selama ini diterapkan di Lebanon.

Melalui pendekatan ini, Israel ingin tetap memiliki ruang untuk melakukan serangan kapan pun dianggap perlu, sekaligus mempertahankan pengaruh politik atas masa depan Gaza. Mulai dari bentuk pemerintahan, hingga arah dan mekanisme rekonstruksi pascaperang.

“Dalam kondisi gencatan senjata penuh, Israel kehilangan banyak kartu tekan,” ujar Habas. Karena itu, ketegangan terkontrol justru dianggap lebih menguntungkan secara keamanan dan politik dalam jangka panjang.

Eskalasi di Waktu yang Sangat Sensitif

Pandangan serupa disampaikan penulis dan analis politik asal Gaza, Wissam Afifa. Ia menilai eskalasi kali ini bukan peristiwa terpisah, melainkan kelanjutan dari pola lama, namun terjadi pada momentum yang sangat sensitif, bertepatan dengan pembicaraan dan pengumuman politik terkait fase lanjutan dari kesepakatan gencatan senjata.

“Harapannya, langkah-langkah politik itu berdampak positif di lapangan. Tapi yang terjadi justru sebaliknya,” kata Afifa. Israel, menurutnya, sengaja menciptakan fakta baru lewat eskalasi luas yang melampaui batas-batas yang sebelumnya dianggap merah.

Ia mencatat, sejak gencatan senjata diumumkan, jumlah warga Gaza yang Syahid telah mencapai ratusan akibat pelanggaran yang terus berulang. Fakta ini, tegas Afifa, menunjukkan adanya upaya sistematis Israel untuk menggagalkan transisi menuju tahap kedua kesepakatan politik.

Setelah kartu tawar soal tahanan melemah, Israel kini memusatkan tekanan pada tuntutan pelucutan senjata perlawanan. Ironisnya, pada saat yang sama, operasi militer tetap digencarkan dan sebagian besar menyasar warga sipil, sebuah kontradiksi nyata dengan logika gencatan senjata maupun negosiasi.

Afifa memperingatkan, pendekatan ini tidak hanya merusak peluang fleksibilitas politik, baik dari pihak perlawanan maupun mediator, tetapi juga memperdalam krisis kepercayaan. “Pemerintah Israel tampak sengaja menjaga medan tetap panas untuk menggagalkan setiap kemungkinan penyelesaian,” ujarnya.

Di akhir analisanya, Afifa menegaskan bahwa perlawanan sejauh ini masih bertaruh pada jalur politik demi menghindari konfrontasi besar. Namun, jika eskalasi terus berlanjut dengan ritme yang sama, ledakan konflik yang lebih luas bisa menjadi tak terhindarkan.

Analisis ini mengemuka di tengah pernyataan Menteri Pertahanan Israel, Yisrael Katz, yang kembali mengancam perluasan operasi militer dengan dalih membongkar kemampuan perlawana,—sebuah sinyal kuat bahwa Gaza masih berada di jalur eskalasi, bukan ketenangan.

Sumber: Al Jazeera

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here