Anwar Abu Zarina masih menyimpan rapi dokumen rujukan medisnya untuk berobat ke luar Jalur Gaza. Perempuan 37 tahun itu menunggu satu kabar yang tak kunjung datang: dibukanya kembali perbatasan Rafah, satu-satunya jalur yang bisa membawanya keluar untuk melanjutkan pengobatan lupus yang telah menggerogoti tubuhnya selama bertahun-tahun.
Warga Gaza utara itu kini tinggal di kamp pengungsian di wilayah barat Kota Gaza. Kondisi hidup yang serba terbatas memperparah keadaan kesehatannya, yang membutuhkan penanganan intensif dan berkelanjutan.
“Penyakit ini datang sangat agresif dan mengubah hidup saya sepenuhnya,” kata Anwar. Lupus menyerang persendiannya, merusak penglihatan, menyebabkan rambutnya rontok total, hingga memicu anemia berat yang membuatnya harus menjalani transfusi darah secara rutin.
Anwar kini tak lagi mampu bergerak bebas dan harus menggunakan kursi roda. Seperti ribuan pasien lain di Gaza, ia menunggu dibukanya Rafah agar bisa mengakses perawatan medis lanjutan di luar negeri—sesuatu yang mustahil didapat di Gaza saat ini.
Obat Langka, Risiko Kematian Meningkat
Dalam keterangannya kepada Al Jazeera Net, Anwar mengeluhkan kelangkaan obat-obatan di Gaza. “Obat saya tidak pernah tersedia secara konsisten. Sering kali saya tidak menemukan pengobatan yang saya butuhkan. Rasanya kematian semakin dekat,” ujarnya.
Kondisi kesehatannya terus menurun. Penyakit yang dideritanya telah menyerang jantung, memicu serangan jantung tiga bulan lalu, dan memaksa dokter memasang ring jantung. Namun, situasi tak membaik. Penutupan Rafah sejak Mei 2024 membuat akses pengobatan lanjutan tertutup sepenuhnya.
“Jika perbatasan dibuka, saya dan banyak pasien lain sudah pergi sebelum penyakit ini semakin parah,” katanya. “Penutupan ini membuat saya terkena serangan jantung dan pembekuan darah di kaki. Banyak pasien lain juga membayar harga yang sama.”
Dengan suara lirih, Anwar menyampaikan harapannya: “Saya hanya ingin Rafah dibuka dan nama saya masuk dalam daftar pasien yang bisa berangkat. Saya ingin berobat sebelum penyakit ini menghancurkan tubuh saya sepenuhnya.”
Luka Perang dan Sistem Kesehatan yang Lumpuh
Kisah serupa dialami Omar Al-Sakafi, yang kini tinggal di kamp pengungsian jauh dari rumahnya yang berada di zona konflik. Perutnya tampak membengkak akibat komplikasi serius yang tak bisa ditangani di Gaza, di tengah sistem kesehatan yang lumpuh akibat perang berkepanjangan.
Al-Sakafi mengalami cedera pada bulan kedua perang, saat pasukan Israel menyerbu Kompleks Medis Al-Shifa. Sejak itu, ia telah menjalani empat kali operasi. Namun kondisinya terus memburuk, dengan komplikasi berupa penyumbatan usus dan kerusakan parah di area perut.
“Kondisi saya tidak bisa ditangani di Gaza,” katanya. Selama lebih dari setahun, ia mengajukan permohonan rujukan medis ke luar negeri, namun proses itu terhambat oleh pengungsian massal, keterbatasan mobilitas, dan penutupan perbatasan.
Dokter akhirnya menyimpulkan bahwa satu-satunya opsi adalah perawatan di luar Gaza. “Rafah adalah harapan terakhir saya,” ujar Al-Sakafi. “Saya hanya ingin bertahan hidup demi anak-anak saya.”
Rafah, Pintu yang Terus Tertutup
Pasukan Israel menutup perbatasan Rafah selama sekitar 20 bulan. Sejak itu, perlintasan nyaris sepenuhnya terhenti, kecuali selama masa gencatan senjata pada Januari 2025 yang berlangsung 40 hari sebelum kembali ditutup.
Meski ada wacana pembukaan kembali Rafah, media Israel memperkirakan otoritas pendudukan hanya akan mengizinkan 150–200 orang melintas per hari. Angka ini dinilai jauh dari cukup, mengingat ribuan pasien menunggu izin keluar—sebuah keterlambatan yang bisa berujung kematian.
Juru bicara Kementerian Kesehatan Gaza, Khalil Al-Daqran, menyebut 1.268 pasien meninggal dunia saat menunggu izin bepergian untuk berobat ke luar negeri sejak Rafah dikuasai Israel.
“Sekitar 20 ribu pasien memiliki rujukan medis lengkap dan masih menunggu,” ujar Al-Daqran. Dari jumlah itu, 440 kasus tergolong darurat penyelamatan nyawa, 4.500 di antaranya anak-anak, 6.000 korban luka, dan 4.000 pasien kanker.
Ia menegaskan pasien kanker menjadi kelompok paling terdampak akibat penutupan Rafah dan ketiadaan layanan medis spesialis. Kekurangan obat dan alat kesehatan, serta berhentinya sebagian besar layanan rujukan, membuat daftar tunggu semakin panjang dan kondisi pasien kian kritis.
“Terus ditutupnya Rafah memperparah kondisi pasien hingga mengancam nyawa mereka,” kata Al-Daqran. “Mengizinkan mereka bepergian dan membuka akses pasokan medis adalah satu-satunya harapan yang tersisa.”
Sejak perbatasan Rafah ditutup pada Mei 2024, hanya sekitar 3.100 pasien yang berhasil keluar dari Gaza untuk mendapatkan perawatan medis.
Sumber: Al Jazeera









