Gaza — Di tengah citra tiga dimensi menampilkan kota futuristik dengan menara-menara tinggi, realitas di lapangan menceritakan kisah berbeda. Gaza yang sesungguhnya masih terbenam dalam reruntuhan, tenda-tenda pengungsian, dan blokade yang menekan kehidupan dua juta warga Palestina.

NBC News menyoroti ambisi “Gaza Baru” yang digagas Jared Kushner, menantu Donald Trump, dan menilai rencana tersebut jauh dari realitas. “Rencana ini gagal menyesuaikan diri dengan kondisi politik dan lapangan yang sesungguhnya,” tulis laporan NBC, menekankan bahwa proyek kota masa depan ini hampir mustahil diterapkan di tengah penjajahan dan kerusakan yang terus berlangsung.

Laporan itu menegaskan, lebih dari dua tahun serangan Israel telah menghancurkan hampir seluruh infrastruktur, sementara sekitar separuh wilayah Gaza masih dikuasai militer Israel. Gambar dan peta 3D yang diproduksi melalui kecerdasan buatan menampilkan kota seolah dari dunia lain, sangat jauh dari realitas sehari-hari yang diliputi kekurangan keamanan, pembatasan bergerak, dan kendali militer serta ekonomi yang ketat.

Seorang warga, Ghassan Al-Tannani, yang kehilangan saudaranya dalam serangan pekan ini, menegaskan skeptisisme warga: “Saya ingin tahu, di mana yang disebut Dewan Perdamaian Dunia di Gaza? Kami mencarinya, tapi tidak menemukannya.”

Kritik serupa disampaikan pakar hukum internasional Nomi Bar-Yacob, yang menilai pendekatan Kushner lebih mirip pengembang properti daripada perancang perdamaian. Menurutnya, rencana membangun menara tinggi tidak realistis secara keamanan, karena setiap bangunan tinggi bisa menjadi titik pengawasan militer Israel.

Detail rencana yang diumumkan Kushner di Forum Davos mencakup pembangunan pelabuhan dan bandara baru, jaringan kereta dan jalan utama, investasi 25 miliar dolar AS hingga 2035, peningkatan PDB Gaza menjadi lebih dari 10 miliar dolar, dan penghasilan keluarga rata-rata mencapai 13 ribu dolar per tahun. Proyek ini juga menjanjikan 100 ribu unit perumahan, 200 pusat pendidikan, 75 fasilitas kesehatan, dan 180 pusat budaya.

Namun analis politik Ahmed Al-Hila menekankan: “Masalah Gaza bukan soal menara tinggi atau pelabuhan, tapi pendudukan, blokade, dan perampasan hak rakyat atas tanah dan kedaulatan. Semua rencana yang mengabaikan ini hanyalah tinta di atas kertas.”

Meski gencatan senjata diterapkan pada 10 Oktober 2025, serangan, penahanan, dan pembatasan barang masih berlangsung. Lebih dari 71 ribu warga tewas dan 171 ribu terluka sejak awal agresi Israel yang didukung AS pada 8 Oktober 2023, sementara 90% infrastruktur sipil hancur.

Laporan NBC menegaskan bahwa membangun “Gaza Baru” tanpa mengakhiri pendudukan bukanlah rekonstruksi atau pembangunan, melainkan pengelolaan krisis berkepanjangan. Realitas lapangan tetap keras: reruntuhan, kematian, dan blokade menjadi bayangan nyata di balik setiap peta futuristik.

Sumber: NBC News, Palestinian Information Center

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here