Di tengah jalan panjang pengungsian, luka Siła Housso lahir bukan di medan perang, tapi di sebuah pagi biasa ketika ia hanya membawa tas sekolahnya. Anak berusia tujuh tahun ini pulang dengan memori perang yang akan menemaninya selamanya.

Ceritanya tidak dimulai dari saat ia terluka, tetapi dari perjalanan pengungsian panjang dan seorang ibu yang menghadapi peperangan sendirian, peperangan yang tidak membedakan antara tenda, sekolah, permainan anak-anak, dan peluru Israel.

Di dekat Siła, duduk Ayah Housso, 39 tahun, seorang ibu pengungsi yang kelelahan, dengan suara yang membawa kisah perang dari kawasan Syujaiyah yang belum berakhir. Sebelum perang, ia tinggal bersama suaminya Jamal dan enam anak mereka di rumah di timur Gaza.

Dua minggu setelah agresi Israel dimulai, perintah evakuasi datang. Ia membawa anak-anaknya ke selatan, sementara suami tetap di rumah merawat orangtua tua. Selama berbulan-bulan, Ayah Housso harus bertahan sendirian.

Titik-titik Pengungsian

Stasiun pertama mereka adalah sekolah yang berubah menjadi kamp pengungsi di Deir al-Balah: dua bulan penuh kepadatan, kelaparan, penyakit, toilet kotor, bantuan hampir nihil, dan pakaian tipis yang tak melindungi dari panas maupun dingin.

“Semua anak terkena hepatitis, Yazan (13) dan Suwar (3) kondisinya memburuk. Di rumah sakit, pengobatan hanya berupa cairan infus,” kata sang ibu. Petugas medis hanya menyarankan madu dan air mineral—barang yang tak mampu dibeli, sehingga ibu itu membagi-bagikan selai dari paket bantuan seadanya untuk menyelamatkan anak-anaknya.

Ketika drone melintas di atas sekolah pada Desember, Ayah Housso memutuskan meninggalkan tempat itu, takut lebih cepat daripada keputusan apapun. Mereka berpindah ke rumah teman, tinggal di satu kamar tanpa listrik, air, maupun rasa aman selama dua bulan, kemudian ke sekolah Al-Syida Khadija, bertahan lima bulan lagi di tengah kepadatan, kekurangan, dan ketegangan. Tanpa suami, tanpa penghasilan, tanpa perlindungan dari serangan udara atau konflik sehari-hari di kamp.

Saat Serangan Mengenai Siła

Sabtu, 27 Juli 2024, Siła yang berusia tujuh tahun berangkat dengan gembira ke tenda belajar dekat sekolah, membawa tas kecilnya. Namun sekitar pukul 11 siang, pesawat Israel mengebom sekolah—dari ruang kelas menjadi medan darah, jeritan, serpihan, dan anak-anak berlari tanpa arah.

Siła kembali kepada ibunya menangis, bertanya, “Mengapa mereka menyerang kita?” Tidak lama kemudian, perintah evakuasi baru datang. Saat melarikan diri, mereka melihat jenazah anak-anak dan ambulans. Serangan berikutnya mengenai kepala Siła, menutupi wajahnya dengan darah. Ibu memeluknya dan menjerit, sementara kakaknya Muhammad (12) menekan luka dengan bajunya.

Seorang pemuda tak dikenal membawa Siła ke rumah sakit. Di sana, pertempuran lain dimulai: tengkorak terbuka, patah tulang di mata, retina terlepas, berjam-jam tanpa dokter karena terlalu banyak korban. Operasi darurat dilakukan, menutup tengkorak dengan plat di dahi dan menghentikan pendarahan.

Bulan-bulan berikutnya, Siła tetap di rumah sakit. Infeksi parah, antibiotik langka, dan operasi tambahan diperlukan untuk mencegah kebocoran cairan otak. Para dokter menegaskan kondisi Siła kompleks dan perawatan yang memadai hanya bisa dilakukan di luar Gaza, namun jalannya tertutup.

“Siła tidak bisa hidup di tenda, dia butuh lingkungan bersih, makanan segar, dan perawatan berkelanjutan,” kata ibunya. Siła bertanya, “Kapan rambutku tumbuh? Kapan mataku akan terbuka?” Sang ibu tak punya jawaban, hanya menggenggam tangan putrinya, menunggu di tempat yang tidak menyerupai kehidupan.

Sumber: Palestinian Information Center

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here