Seorang Ayah Palestina Kehilangan Anak Tunggalnya Akibat Serangan Israel di Gaza. “Nadi, doktor bangunkan dia… ini anak tunggalku, jangan mati!”, demikian tangisan pilu seorang ayah Palestina saat melepas anaknya yang gugur, bersama seorang anak lain, terkena tembakan drone Israel saat sedang mengumpulkan kayu bakar di dekat Rumah Sakit Kamal Adwan, utara Jalur Gaza.

Menurut laporan Pertahanan Sipil Gaza, Sabtu (25/1), korban adalah Mohammad Youssef Al-Zawari’ah (13) dan Zakaria Al-Zawari’ah (15), terbaru dari pelanggaran gencatan senjata oleh Israel. Kedua jenazah diterima oleh Rumah Sakit Al-Shifa.

Kedua anak itu, seperti biasa, pergi mengumpulkan kayu untuk membantu keluarga mereka. Namun, serangan drone Israel menghantam mereka, mengakhiri hidup mereka di tengah kayu-kayu yang mereka bawa.

Kematian mereka memicu gelombang duka luas di media sosial, dengan warganet mempertanyakan kapan agresi Israel terhadap anak-anak dan warga sipil di Gaza akan berhenti. Foto anak-anak itu menjadi simbol tragedi yang menimpa seluruh Gaza.

Seorang aktivis, Abboud Battah, menulis di akun X-nya, “Dua hari lalu, saya pulang dari Jabalia bersama tetangga Abu Mohammad Al-Zawari’ah. Dia menceritakan penderitaan sehari-hari di kamp pengungsian. Hari ini dia kehilangan anak tunggalnya. Gaza tidak sekadar menerima berita; Gaza membayar harga itu dengan darah dan air mata. Meski begitu, Gaza tetap berdiri, terluka tapi tegar.”

Warganet lain menyoroti kesedihan mendalam, “Pahitnya kehilangan tak tertahankan, hati kami hancur. Allah bersama ayah yang kehilangan anak tunggalnya. Fakta ini lebih menyakitkan dari yang bisa diterima manusia. Sementara Israel terus melanggar kesepakatan dan menargetkan warga sipil tak bersalah.”

Banyak yang bertanya, “Ujian apa lagi ini?” dan menekankan bahwa tragedi anak-anak di Gaza terjadi setiap hari di tengah keheningan komunitas internasional.

Para pengguna media sosial menegaskan, pelanggaran Israel terhadap kesepakatan gencatan senjata bukan kesalahan kecil, melainkan kebijakan sistematis yang meniadakan semua komitmen. Mereka mempertanyakan bagaimana korban diminta bersabar sementara agresor tetap tidak tersentuh, menegaskan, Gaza masih meneteskan darah, dan perjanjian terus dilanggar.

Sumber: Al Jazeera, Media Sosial

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here