Bangunan-bangunan rusak di Jalur Gaza tak lagi sekadar saksi bisu perang berkepanjangan. Kini, struktur yang retak dan nyaris roboh berubah menjadi ancaman nyata bagi ribuan warga yang terpaksa berlindung di dalamnya, di tengah krisis pengungsian akut dan ketiadaan alternatif hunian yang aman.

Laporan Voices from Gaza menggambarkan kondisi lapangan yang memprihatinkan. Gedung-gedung miring, rangka beton hancur, dan puing-puing memenuhi jalanan, sementara aktivitas warga terus berlangsung di bawah risiko runtuhan mendadak yang mengintai setiap saat.

Seorang lansia Palestina, berdiri di depan rumahnya yang rusak parah, mengungkapkan bahwa ketakutan kini menjadi bagian dari keseharian. Meski bangunannya berulang kali dinyatakan tidak layak huni, ia tetap bertahan karena tak memiliki tempat lain untuk dituju, terlebih saat cuaca ekstrem memperparah kondisi bangunan dan tekanan psikologis yang ia alami.

Salah satu titik paling berbahaya adalah menara Bank of Palestine. Struktur beton gedung itu tampak miring secara mencolok. Jurnalis di lapangan memperingatkan bahwa getaran kecil atau cuaca buruk bisa memicu keruntuhan sewaktu-waktu. Ironisnya, aktivitas warga masih berlangsung di sekitarnya. Kendaraan melintas, pengungsi menetap, dan pasar darurat tumbuh di bawah bayang-bayang potensi bencana massal.

Pengungsi Terjepit, Tak Ada Ruang Aman

Sejumlah pengungsi mengaku menghindari jalan-jalan tertentu karena takut tertimpa bangunan runtuh, meski harus menempuh jarak lebih jauh. Kepadatan penduduk meningkat seiring menyempitnya wilayah aman.

Seorang perempuan pengungsi memperingatkan bahwa gempa kecil atau angin kencang bisa merobohkan bangunan-bangunan itu ke atas pejalan kaki. Ia mempertanyakan lambannya respons otoritas setempat dan mendesak pembongkaran bangunan berisiko sebelum tragedi baru terjadi.

Jurnalis Al Jazeera di Gaza, Moamen Al-Sharafi, menyebut ribuan pengungsi terpaksa tinggal di bangunan rusak setelah banyak pusat pengungsian dihancurkan selama perang. Tercatat 87 pusat pengungsian rusak atau hancur, memaksa ratusan ribu warga menempati rumah-rumah retak yang telah berulang kali menjadi sasaran serangan.

Di kawasan pesisir Jalan Al-Rashid, runtuhan dinding menimpa tenda pengungsi asal Jabalia dan menewaskan tiga anggota keluarga, termasuk seorang anak perempuan. Warga sekitar mengaku tak lagi memiliki tempat aman untuk berpindah, terutama di Kota Gaza, di mana keluarga-keluarga bertumpuk di area terbatas di bawah bangunan rapuh.

Data lapangan menunjukkan, Israel menguasai sekitar 60 persen wilayah Gaza, sementara warga sipil terkurung di area yang tak lebih dari 36 persen, dengan kepadatan mencapai 62 ribu jiwa per kilometer persegi. Sejak musim dingin dimulai, lebih dari 50 bangunan dilaporkan roboh, menewaskan sedikitnya 24 warga Palestina. Cuaca dingin ekstrem juga merenggut nyawa sembilan anak, termasuk bayi Shada Abu Jarad yang baru berusia tiga bulan.

Peralatan Rusak, Respons Terbatas

Di wilayah tengah Gaza, kondisi tak kalah genting. Dari garasi Balai Kota Deir al-Balah, jurnalis Al Jazeera Ashraf Abu Amra melaporkan keterbatasan alat berat akibat kerusakan parah selama dua tahun agresi. Petugas terpaksa membongkar mesin rusak untuk dijadikan suku cadang demi mempertahankan layanan dasar.

Runtuhnya sebuah rumah di Kamp Al-Maghazi dua pekan lalu yang menewaskan dua warga menegaskan minimnya kapasitas respons darurat. Keterbatasan alat dan bahan bakar, ditambah larangan masuknya peralatan berat selama hampir dua tahun, memperparah situasi, terutama saat cuaca ekstrem terus berulang.

Di tengah kondisi ini, seruan dari pemerintah daerah dan tim pertahanan sipil kian menguat. Mereka mendesak masuknya alat berat dan pasokan bahan bakar secara segera, memperingatkan bahwa tanpa itu, kematian di bawah atap-atap retak akan terus menjadi ancaman harian bagi warga Gaza.

Sumber: Al Jazeera

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here