Memasuki 100 hari sejak berlakunya perjanjian gencatan senjata di Gaza pada 10 Oktober lalu, Hamas menegaskan komitmennya untuk menjalankan kesepakatan secara “penuh, presisi, dan transparan”. Di saat yang sama, Hamas merinci pelanggaran Israel selama periode tersebut dan mengajukan sembilan tuntutan mendesak kepada para mediator serta komunitas internasional.

Pernyataan itu disampaikan Hamas melalui nota resmi yang dirilis Selasa (20/1/2026), dan ditujukan kepada mediator utama (Mesir, Qatar, dan Turki) serta pihak-pihak penjamin, pemimpin negara, dan organisasi internasional terkait.

Hamas menyatakan, sejak awal kesepakatan diberlakukan, pihaknya memperlakukan perjanjian gencatan senjata sebagai kerangka yang mengikat untuk melindungi warga sipil dan menghentikan pertumpahan darah, bukan sebagai “selubung politik” untuk melanjutkan agresi atau mengulang kebijakan genosida. Namun, menurut Hamas, komitmen tersebut tidak diimbangi oleh Israel.

“Di tengah kepatuhan kami terhadap kesepakatan, tentara Israel justru terus melakukan pembunuhan, penargetan langsung terhadap warga sipil, dan pelanggaran lapangan yang sistematis,” demikian bunyi pernyataan Hamas.

Ratusan Korban Selama Masa Gencatan

Dalam laporannya, Hamas mencatat sedikitnya 483 warga Palestina syahid selama 100 hari gencatan senjata, termasuk 169 anak-anak, 64 perempuan, dan 19 lansia, serta 1.294 orang terluka, dengan rata-rata 13 korban per hari. Hamas menyebut 96,3 persen korban jiwa berada di dalam wilayah “garis kuning” yang seharusnya dilindungi oleh kesepakatan.

Selain itu, Israel melakukan 1.298 pelanggaran lapangan, termasuk 428 kasus penembakan langsung, 66 kali penetrasi kendaraan militer, dan 604 serangan udara serta artileri ke kawasan permukiman. Israel juga dilaporkan menghancurkan sekitar 200 blok dan rumah warga, serta menangkap 50 nelayan dan warga sipil, yang dinilai sebagai pelanggaran serius terhadap perjanjian.

Hamas juga menyebut Israel melanggar peta penarikan pasukan dengan melampaui batas hingga 200–1.300 meter, bahkan memperluas zona kendali tembakan hingga 1.700 meter di sejumlah wilayah, terutama di Gaza Utara. Total area kendali tambahan itu disebut mencapai 34 kilometer persegi.

Infrastruktur Dikepung, Bantuan Dibatasi

Menurut Hamas, Israel secara sistematis menghambat masuknya tenaga medis, obat-obatan vital, peralatan rumah sakit, serta bahan bangunan untuk memulihkan fasilitas kesehatan. Dampaknya, tingkat kematian (khususnya di kalangan anak-anak, lansia, dan penderita penyakit kronis) terus meningkat.

Dalam dua bulan terakhir, jumlah bantuan yang masuk ke Gaza hanya 26.111 truk dari 60 ribu truk yang disepakati, atau sekitar 43,5 persen dari target. Rata-rata, hanya 261 truk per hari yang diizinkan masuk.

Hamas juga menuding Israel membatasi bahan bakar, memblokir pengoperasian pembangkit listrik, melarang masuknya panel surya, peralatan roti, alat penyelamatan, ambulans, serta menahan masuknya karavan dan tenda dalam jumlah memadai. Jaringan air, sanitasi, dan komunikasi pun disebut terus dihambat.

Penutupan Rafah dan Nasib Tahanan

Hamas menegaskan bahwa Israel masih menutup penuh penyeberangan Rafah sejak kesepakatan berlaku, baik untuk keluar maupun masuk, serta menghalangi kedatangan tim medis internasional dan pemulangan warga ke rumah mereka.

Israel juga dituduh menolak mengungkap nasib puluhan tahanan dan orang hilang, menunda pembebasan perempuan dan anak-anak, serta menahan lebih dari 1.200 jenazah warga Palestina, di tengah laporan penyiksaan di penjara.

Sembilan Tuntutan Hamas

Dalam nota tersebut, Hamas mengajukan sembilan tuntutan kepada para mediator dan komunitas internasional, antara lain:

  1. Tindakan internasional segera untuk menghentikan seluruh pelanggaran Israel.
  2. Penyelesaian tahap pertama kesepakatan dan segera masuk ke tahap kedua, termasuk penarikan penuh dari Gaza.
  3. Penegakan garis penarikan pasukan sesuai kesepakatan.
  4. Pembentukan mekanisme pemantauan internasional yang netral.
  5. Jaminan masuknya 600 truk bantuan per hari, termasuk 50 truk bahan bakar, di bawah pengawasan internasional.
  6. Kebebasan penuh bagi PBB dan lembaganya untuk beroperasi.
  7. Pembukaan segera penyeberangan Rafah ke dua arah.
  8. Masuknya bahan bakar, peralatan medis, karavan, tenda, dan bahan bangunan untuk pemulihan infrastruktur.
  9. Pengungkapan nasib tahanan dan orang hilang, pembebasan perempuan dan anak-anak, serta penyerahan jenazah yang ditahan.

Hamas menegaskan, kegagalan menegakkan kesepakatan gencatan senjata akan terus memperparah krisis kemanusiaan di Gaza dan mengancam stabilitas kawasan secara lebih luas.

Sumber: Anadolu

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here