Kantor Media Pemerintah Gaza melaporkan, Selasa (14/1/2026), bahwa dari 135 ribu tenda pengungsi, 127 ribu kini tidak layak huni akibat badai kutub yang melanda wilayah tersebut.
Kepala kantor, Ismail Al-Thawabta, menyatakan, “Akrabnya pengungsi dengan kedinginan tidak bisa disangkal. Mereka menghadapi musim dingin tanpa selimut memadai, tanpa alas tidur yang melindungi dari tanah basah, dan tanpa pemanas, terutama di tenda tua dan daerah terpencil.” Kekurangan selimut dan pemanas di seluruh Gaza mencapai lebih dari 70%, dan lebih parah di wilayah terpencil.
Al-Thawabta menegaskan, krisis ini bukan sekadar keadaan darurat sementara, melainkan akibat langsung dari kebijakan Israel yang menghancurkan 90% infrastruktur dan menelantarkan lebih dari dua juta warga Palestina, termasuk 288 ribu keluarga tanpa tempat tinggal. Blokade perbatasan yang berlangsung lebih dari 500 hari, termasuk 220 hari berturut-turut, mencegah masuknya 250 ribu truk bantuan dan bahan bakar, memperparah kekurangan.
Sejak perang yang dimulai Oktober 2023, Israel menargetkan pusat pengungsian dan distribusi bantuan, dengan 303 pusat pengungsian dan 61 pusat distribusi pangan hancur akibat serangan. Akibatnya, banyak anak-anak, wanita, dan lansia terpaksa tidur di tenda yang tidak mampu melindungi mereka dari hujan dan angin. Krisis ini memicu puluhan ribu kasus penyakit pernapasan dan pencernaan, sementara 38 rumah sakit dan 96 pusat kesehatan hancur, memperbesar risiko kematian di antara bayi, lansia, dan pasien kronis.
Al-Thawabta menilai penderitaan pengungsi sebagai bentuk “pembunuhan perlahan” melalui pengusiran paksa, larangan tempat tinggal layak, dan pemanasan yang memadai. Ia menyerukan aksi internasional segera untuk menyediakan tempat tinggal aman dan pemanas sebelum musim dingin berubah menjadi gelombang kematian baru.
Komandan Pertahanan Sipil, Mahmoud Basil, memperingatkan, “Badai ini mengancam sekitar 1,5 juta warga Palestina. Keadaan ini bisa berujung pada korban jiwa, keruntuhan tenda, atau bahkan banjir di kamp-kamp pengungsi.”
Meskipun gencatan senjata antara Israel dan Hamas berlaku sejak 10 Oktober 2025, Israel masih menahan bahan bangunan dan menghambat rekonstruksi. Perang yang berlangsung selama dua tahun sebelumnya menewaskan lebih dari 71 ribu warga Palestina, melukai 171 ribu orang, dan menghancurkan 90% infrastruktur sipil, dengan biaya rekonstruksi diperkirakan PBB sekitar 70 miliar dolar.






Sumber: Al-Jazeera & Anadolu










