Al-Jazeera melaporkan kondisi darurat yang melanda Gaza akibat badai kutub yang memporak-porandakan wilayah ini, Selasa (14/1/2026).
Momen kritis terlihat jelas saat ribuan tenda pengungsi diterjang angin kencang, meninggalkan keluarga-keluarga tanpa tempat berlindung. Reporter Al-Jazeera di Kota Gaza, Moamen Al-Sharafi, menyampaikan, “Tenda-tenda ini sudah rapuh dan rusak, tidak mampu melindungi ribuan pengungsi dari hujan dan angin kencang.”
Data medis mencatat lima orang tewas, termasuk seorang anak, akibat dingin ekstrem dan runtuhnya tenda. Al-Sharafi menambahkan, empat korban tewas akibat tembok runtuh menimpa tenda pengungsi di wilayah barat Gaza, sementara seorang anak meninggal karena kedinginan. Ratusan lainnya menderita penyakit pernapasan dan gangguan pencernaan.
Ribuan keluarga kini terpaksa tinggal di reruntuhan bangunan yang rawan roboh, karena blokade Israel mencegah masuknya bantuan darurat berupa tenda, selimut, dan pakaian hangat. Kantor Media Pemerintah Gaza melaporkan, dari 135 ribu tenda di wilayah ini, 127 ribu telah rusak dan tidak layak huni akibat badai. Kebutuhan akan selimut dan alat pemanas mengalami defisit lebih dari 70%.
Badai ini menegaskan kerentanan pengungsi Gaza yang masih hidup di bawah reruntuhan dan di tengah blokade ketat, sementara komunitas internasional belum mampu menjangkau mereka dengan bantuan yang memadai.
Sumber: Al-Jazeera










