Sebelum perang berkepanjangan melanda Gaza, Abu Ahmad menjalani hidup yang relatif stabil. Ia bekerja sebagai desainer grafis lepas, mengandalkan listrik dan internet yang memadai untuk melayani klien dari berbagai negara. Ruang kerjanya dilengkapi koneksi internet berkualitas dan sumber listrik cadangan, sehingga pemadaman bukan hambatan besar baginya.

Meski kehidupan di Gaza kala itu telah dibebani blokade lebih dari 15 tahun dan pemadaman listrik bisa mencapai 16 jam sehari, masyarakat masih memiliki ruang untuk beradaptasi. Berbagai alternatif energi membuat aktivitas ekonomi tetap berjalan, meski tertatih. Namun perang mengubah segalanya.

Dari Profesional ke Daftar Warga Miskin

Kini, Abu Ahmad bukan hanya hidup dalam gelap, tetapi juga kehilangan mata pencaharian. Ia terpaksa bekerja dari kafe yang padat, bergantung pada cuaca dan sistem tenaga surya yang rapuh. Sedikit awan yang menutupi matahari bisa berarti listrik dan internet terputus, pekerjaan terhenti, dan klien menghilang.

“Aku hidup dalam mimpi buruk. Dulu aku bekerja dengan tenang, tepat waktu, dan dipercaya klien. Sekarang listrik dan internet terus terputus, tempat kerja tak kondusif, dan reputasi profesionalku rusak karena berkali-kali gagal memenuhi tenggat,” ujar Abu Ahmad dengan nada getir.

Kondisi ini membuatnya tak lagi mampu menafkahi keluarga. Padahal sebelumnya, ia termasuk kelompok berpenghasilan tinggi, bahkan mampu membantu saudara dan orang-orang di sekitarnya.

Tak Ada Ruang untuk Bertahan

Nasib serupa dialami Abu Ali, mantan pedagang unggas yang sejak hari pertama perang terpaksa menutup tokonya. Tanpa listrik dan pasokan yang memadai, ia kehilangan usaha yang telah dijalani seumur hidup.

“Sebelum perang, saya tidak pernah bergantung pada siapa pun. Tapi sekarang, tabungan habis, usaha mati, dan saya tak punya penghasilan untuk kebutuhan rumah,” katanya.

Upaya beralih ke penjualan daging beku pun kandas. Ketiadaan listrik dan mahalnya biaya generator menjadi penghalang besar untuk kembali bekerja.

Mimpi yang Terancam Padam

Abdul Hamid, pemilik jaringan internet lokal, juga berada di ujung tanduk. Sebelum perang, usahanya berjalan stabil dengan dukungan listrik dan sistem tenaga surya. Namun setelah dua tahun perang dan ketergantungan penuh pada energi alternatif tanpa suku cadang, sistemnya rusak parah.

“Kami membeli generator mahal dan solar dengan harga lebih dari 15 kali lipat. Praktis kami bekerja hanya untuk membeli bahan bakar dan memperbaiki kerusakan,” katanya.

Ia kini mempertimbangkan menutup usahanya, terlebih setelah tekanan dari perusahaan telekomunikasi besar yang menaikkan tarif dan memberlakukan syarat berat. “Impian membangun perusahaan sendiri perlahan berubah menjadi ilusi,” ujarnya.

Infrastruktur Listrik Hancur Total

Perusahaan Distribusi Listrik Gaza menyebut sektor kelistrikan sebagai salah satu yang paling terdampak selama perang. Lebih dari 2,3 juta warga terancam keselamatannya akibat lumpuhnya pasokan energi.

Sejak 7 Oktober 2023, Gaza sepenuhnya kehilangan listrik. Israel menghancurkan lebih dari 5.000 jaringan listrik, 2.235 transformator, dan sekitar 235 ribu meteran listrik, serta merusak gudang, fasilitas layanan, dan puluhan kendaraan operasional.

Upaya Pemulihan yang Terhambat

Pada akhir Desember 2025, perusahaan listrik Gaza mulai melakukan langkah teknis awal untuk memulihkan jaringan, dimulai dari Deir al-Balah dan sekitarnya. Tim teknis memeriksa kabel, meteran, dan kesiapan infrastruktur, termasuk sistem meteran pintar.

Namun upaya ini masih terbatas dan sangat bergantung pada masuknya material, peralatan, dan bahan bakar yang hingga kini terus dihambat.

Perusahaan listrik Gaza menyerukan tekanan internasional agar Israel membuka akses bagi peralatan perbaikan dan kebutuhan energi. Tanpa itu, listrik di Gaza akan tetap menjadi kemewahan yang tak terjangkau, dan bersama padamnya listrik, jutaan mimpi warga Gaza ikut menghilang.

Sumber: Palinfo

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here