Setahun berlalu sejak pengungsian massal akibat serangan militer Israel, warga yang terpaksa meninggalkan kamp Tulkarem di utara Tepi Barat kini menghadapi kondisi yang semakin tragis, diperparah oleh musim dingin yang menusuk tulang dan suhu rendah akibat gelombang udara dingin.
Menurut Komite Layanan Kamp Tulkarem, sekitar 1.700 warga mengungsi dari kamp akibat serangan tahun lalu, bagian dari 15.000 pengungsi dari seluruh wilayah yang terpaksa menetap di daerah sekitar seperti pinggiran Itkaba, Artah, dan Dhunaba. Kondisi tempat tinggal darurat mereka minim fasilitas dasar, jauh dari standar kehidupan manusiawi.
Kehidupan di Batas Kemampuan
Hussam Habali (61), salah satu pengungsi, menceritakan penderitaannya kepada Al Jazeera. Setelah tak mampu membayar sewa, ia diusir dari rumah yang sebelumnya ia tinggali. Keluarganya pun tercerai-berai: istri dan anak perempuannya tinggal di rumah orang tua, anak sulungnya menumpang di rumah mertua, sementara Hussam dan anak bungsunya harus menempati ruang sempit di pompa air yang minim kenyamanan bersama beberapa pengungsi lain.
“Air merembes dari kamar mandi yang rusak, tujuh orang tidur berdesakan tanpa tempat tidur, kasur, atau selimut yang cukup,” ungkap Hussam. Kondisi kesehatan Hussam, yang menderita polio dan stroke, membuat tempat tinggal lembap dan dingin itu sangat berbahaya bagi hidupnya. Tanpa alat bantu berjalan, ia tak mampu bergerak, tergantung pada bantuan medis yang ada.

Kedinginan Tak Terelakkan
Madeline Ghanem, ibu enam anak, juga menceritakan penderitaan keluarganya setelah rumah tiga lantainya dihancurkan dalam operasi militer Israel “Iron Wall” Januari 2025. Kini, keluarganya menempati satu ruangan kecil dari batu dan seng, yang sekaligus menjadi tempat tidur, dapur, dan kamar mandi. Saat gelombang dingin datang, ruangan itu berubah menjadi “lemari es”, karena seng tidak menyediakan isolasi, sementara membuka pintu atau jendela demi menghindari asap dari kayu bakar malah menambah kedinginan. Anak-anaknya, termasuk balita tiga tahun, sering sakit, dan kebersihan sulit dijaga karena tanah berlumpur setiap hujan.
Bantuan Tak Memadai
Menurut Tyeb Twair, relawan Komite Layanan Kamp Tulkarem, penderitaan pengungsi sudah melampaui kapasitas bantuan komite, yang umumnya terbatas pada paket makanan. Banyak keluarga tinggal di rumah setengah jadi tanpa pintu atau jendela, menggantinya dengan plastik atau selimut. Akses listrik dan air terbatas, biaya tinggi, serta ancaman satwa liar membuat kondisi semakin berbahaya. Sekitar 100 keluarga berada dalam kondisi kritis dan membutuhkan intervensi mendesak.
Distribusi pemanas listrik pun dinilai gagal, karena banyak pengungsi menjual pemanas demi kebutuhan dasar lain seperti membayar tagihan listrik atau membeli peralatan rumah tangga. Akibatnya, mereka kembali menggunakan kayu bakar di ruang tertutup, menghadapi risiko kebakaran dan keracunan asap.
Tyeb menegaskan, anak-anak dan lansia adalah yang paling rentan. Mereka tidak hanya kekurangan obat-obatan dan perawatan, tetapi juga fasilitas dasar untuk kenyamanan hidup, sementara keluarga menumpuk di ruang sempit demi mencari sedikit kehangatan di tengah musim dingin yang kejam.
Sumber: Al Jazeera










