Tiga warga Palestina syahid dan seorang perempuan terluka akibat tembakan pasukan Israel, Senin (12/1/2026), di wilayah Khan Younis, selatan Jalur Gaza. Insiden ini terjadi di area yang sebelumnya telah ditinggalkan pasukan pendudukan, sekaligus menjadi pelanggaran terbaru atas perjanjian gencatan senjata yang berlaku sejak 10 Oktober 2025.
Sumber medis menyebutkan, jenazah ketiga syuhada (Atif Samir Al-Bayouk, Mahmoud Sobhi Breika, dan Wissam Abdullah Salem Al-Amour) dibawa ke Rumah Sakit Nasser di Khan Younis setelah mereka menjadi sasaran serangan drone jenis quadcopter di kawasan Al-Balad, pusat kota.
Dalam kejadian terpisah, seorang perempuan Palestina dilaporkan terluka akibat tembakan Israel di kawasan Al-Batn Al-Samin, Khan Younis, dan dilarikan ke rumah sakit untuk mendapat perawatan.
Sementara itu, militer Israel mengklaim telah membunuh tiga warga Palestina dengan alasan mereka “bersenjata” dan mendekati pasukannya di wilayah yang disebut “garis kuning” di selatan Gaza.
Dalam pernyataan di platform X, militer Israel menyebut, “Pasukan yang beroperasi di selatan Jalur Gaza mengidentifikasi empat orang bersenjata di area garis kuning yang mendekati pasukan dengan cara yang menimbulkan ancaman langsung.”
“Angkatan udara, atas arahan pasukan di lapangan, menargetkan tiga orang dan menetralisasi satu lainnya untuk menghilangkan ancaman,” lanjut pernyataan tersebut.
Israel juga mengklaim bahwa setelah kejadian itu, pasukannya menemukan senjata dan perlengkapan militer yang disebut digunakan untuk mengumpulkan informasi intelijen terkait aktivitas militer Israel di kawasan tersebut.
Penghancuran Bangunan Terus Berlanjut
Di saat yang sama, penghancuran bangunan di Gaza masih berlangsung. Koresponden Al Jazeera Mubasher melaporkan bahwa pasukan Israel meledakkan sejumlah bangunan permukiman di timur kawasan Al-Tuffah, Kota Gaza, sebagai bagian dari operasi perusakan yang terus berlanjut.
Harian The New York Times melaporkan, sejak diberlakukannya gencatan senjata lebih dari dua bulan lalu, Israel telah menghancurkan lebih dari 2.500 bangunan di Jalur Gaza. Puluhan di antaranya berada di balik “garis kuning”, wilayah yang seharusnya relatif aman dan memungkinkan pergerakan warga Palestina.
Berdasarkan analisis citra satelit perusahaan Planet Labs, surat kabar itu menilai penghancuran terus dilakukan meski Gaza baru saja keluar dari perang Israel selama dua tahun yang meninggalkan sebagian besar wilayah dalam kondisi hancur. Padahal, kesepakatan gencatan senjata sempat memberi harapan akan jeda konflik dan stabilitas sementara.
Israel berdalih, operasi tersebut ditujukan untuk menghancurkan terowongan dan rumah yang dipasangi bahan peledak. Namun, rekaman malam hari bertanggal 30 Oktober (yang diambil saat gencatan senjata masih berlaku) menunjukkan ledakan besar-besaran di sebagian wilayah Shujaiya, Gaza timur, yang berada di bawah kendali militer Israel.
Korban Terus Bertambah
Sebelumnya, Kementerian Kesehatan Gaza menyatakan bahwa sejak gencatan senjata diberlakukan, Israel telah membunuh 442 warga Palestina dan melukai 1.236 lainnya akibat pelanggaran berulang terhadap kesepakatan tersebut.
Sejak 7 Oktober 2023, agresi Israel di Gaza telah menyebabkan lebih dari 71 ribu warga Palestina syahid dan lebih dari 171 ribu orang terluka, mayoritas adalah anak-anak dan perempuan. Selain itu, sekitar 90 persen infrastruktur sipil Gaza hancur, sementara Perserikatan Bangsa-Bangsa memperkirakan biaya rekonstruksi mencapai 70 miliar dolar AS.
Sumber: Al Jazeera, Anadolu










