Bagi warga Gaza utara, mendekati deretan kubus berwarna kuning (penanda batas militer Israel) ibarat berjalan menuju risiko yang nyaris pasti. Setiap langkah mendekat memperjelas bayangan derek militer Israel dengan kamera pengawas yang menggantung, memantau setiap gerak di zona sempit yang memisahkan hidup dan mati.

Jarak menuju apa yang disebut warga sebagai “garis kuning” hanya sekitar 30 meter. Namun, jarak pendek itu kerap dipenuhi ancaman tembakan dari sisi lain, menjadikannya salah satu titik paling berbahaya di utara Jalur Gaza.

Seorang reporter Al Jazeera Net menggambarkan perasaan terus diawasi saat berada di kawasan tersebut. Wajah asing yang melintas diyakini langsung tertangkap kamera pengintai Israel, wilayah yang selama ini hanya dihuni segelintir keluarga yang tinggal berdampingan langsung dengan pasukan pendudukan di persimpangan Al-Mufti, timur Jabalia.

Zona Bahaya yang Tak Bertanda

Untuk mencapai lokasi itu, wartawan harus ditemani warga setempat yang mengenal jalur di antara puing-puing bangunan. Tanpa pendamping lokal, nyaris mustahil membedakan jalan menuju rumah-rumah warga dari hamparan reruntuhan.

Pendamping itu menunjuk tanggul pasir di balik kubus kuning, sebuah batas tak tertulis. “Di atas sana, tentara Israel selalu berjaga. Wartawan Israel juga sering datang. Seluruh area ini berbahaya,” ujarnya.

Ketika reporter berusaha mengangkat ponsel untuk mendokumentasikan situasi, pendampingnya langsung melarang dengan tegas. Menurutnya, warga telah menyaksikan sendiri bagaimana drone quadcopter Israel menargetkan siapa pun yang terlihat merekam, hanya beberapa menit setelah kamera diarahkan.

Ia juga menyebut Israel menggunakan perangkat pendeteksi visual untuk melacak kamera, ponsel, atau alat dokumentasi lain yang dianggap mengganggu kontrol informasi di wilayah tersebut.

Serangan Tanpa Akses Medis

Di tengah perjalanan, seorang remaja berlari sambil berteriak meminta ambulans. Ia mengabarkan dua pemuda yang tengah mengumpulkan kayu ditembaki drone. Namun, permintaan itu langsung dipatahkan: ambulans tak bisa menjangkau area ini. Korban hanya bisa dievakuasi dengan bantuan warga sekitar.

Meski menyadari risiko tinggi, tim Al Jazeera Net tetap mendekat untuk melihat langsung bagaimana kehidupan berlangsung di titik paling rawan ini, wilayah yang sering “menelan” penghuninya tanpa jaminan mereka akan kembali.

Anak-Anak Yatim di Garis Tembak

Di jalur yang sama, tiga anak perempuan nyaris setiap hari melintasinya demi mengambil air dari sekolah pengungsian terdekat. Mereka kembali ke rumah yang telah hancur, tanpa ayah dan ibu.

Keempat bersaudara dari keluarga Al-Arruq kehilangan ayah di awal perang, ibu tujuh bulan lalu, dan kakak tertua lima bulan kemudian. Mereka tinggal di satu ruangan dengan dinding retak, satu-satunya sisa rumah yang masih menyimpan kenangan dan rasa aman, meski secara nyata tak lagi aman.

Sejak gencatan senjata sementara diberlakukan, mereka kembali ke puing rumah, tidur di atas pasir, menyusun potongan keramik bekas sebagai lantai, dan menutup atap dengan plastik saat hujan turun.

Manar, kakak tertua, menggambarkan hidup di “garis kuning” sebagai rangkaian ledakan drone kecil, dentuman artileri malam hari, dan serpihan peluru yang beterbangan. Ketika ditanya apa yang mereka lakukan saat serangan terjadi, jawabannya singkat: berbaring di lantai, sebuah refleks bertahan hidup.

Manar menolak tawaran pekerjaan karena takut harus melintasi jalur berbahaya itu setiap hari. Menurutnya, kondisi di sana membuat keputusan personal menjadi kemewahan yang tak mungkin diambil.

Bertahan di Tengah Kemiskinan dan Ancaman

Di rumah tetangga, seorang ibu bernama Umm Munir menceritakan perubahan drastis hidup keluarganya. Suaminya, dulu tukang kayu ternama di Gaza utara, kini hanya memasang tenda plastik demi penghasilan yang nyaris tak cukup.

Setiap hari ia berjalan lebih dari dua kilometer untuk mendapatkan air dan kebutuhan dasar. “Orang bertanya kenapa kami tetap di sini. Tapi dari mana kami bisa mendapatkan uang untuk menyewa tempat yang lebih aman?” ujar istrinya.

Anak-anak mereka hidup tanpa sekolah, tanpa internet, dan hampir tanpa akses dunia luar. Malam hari menjadi waktu paling menakutkan. Serpihan ledakan robot militer Israel kerap menghujani kawasan dekat garis kuning. Salah satu anak mereka nyaris tewas saat serpihan menembus atap tenda dan jatuh di samping kepalanya.

Perang yang Belum Usai

Di belakang zona ini, ratusan pengungsi tinggal di sekolah-sekolah darurat. Banyak dari mereka memilih tetap dekat rumah, meski kehilangan anggota keluarga. Umm Khudr Rayan kembali ke lingkungannya setelah gencatan senjata, tanpa suami dan anak sulung yang Syahid enam bulan lalu. Anak bungsunya kehilangan satu mata akibat serangan.

Ia menyebut kehidupan di kawasan ini “menyeramkan”. Setiap malam ia menenangkan anak-anaknya dengan bacaan Al-Qur’an, sementara suara tank dan tembakan tak pernah berhenti. “Perang belum selesai,” kata anaknya dengan nada marah.

Tak ada rumah sakit, klinik, atau transportasi memadai. Umm Khudr merawat luka anaknya dengan cairan seadanya dan melakukan terapi fisik sendiri. “Kami hidup hanya dengan sisa napas,” ujarnya.

Garis yang Terus Bergerak

Meski “garis kuning” di Jabalia relatif tetap, di wilayah timur Gaza garis ini terus bergeser, melewati batas kesepakatan hingga ratusan meter. Pergerakan alat berat, penanaman robot, dan penghancuran bangunan terus memicu gelombang pengungsian baru.

Proses ini digambarkan warga sebagai penelanan senyap atas Gaza, perlahan, sistematis, dan menghancurkan kehidupan yang tersisa.

Sumber: Al Jazeera

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here