GAZA — Tahun baru datang tanpa perayaan bagi Mariyana Sya’ban, ibu sembilan anak yang hidup sebagai pengungsi di Gaza. Alih-alih menyambut pergantian tahun, ia sibuk menyelamatkan tenda rapuhnya dari terjangan sistem tekanan rendah yang kembali melanda wilayah itu, sebuah potret getir dari kehidupan ratusan ribu warga yang terusir oleh perang.

Tak ada pilihan lain bagi Mariyana selain mendirikan tenda di tepi pantai, di tengah ketiadaan lahan kosong. Keputusan terpaksa itu menempatkannya berhadapan langsung dengan angin kencang dan gelombang laut. Dalam sepekan terakhir, ombak menyapu separuh perabot dan alas tidurnya, merusak tenda, dan memaksanya mengungsi kembali ke tenda milik saudara iparnya.

Gelombang cuaca buruk yang menghantam Gaza sejak malam pertama tahun baru kian memperparah penderitaan para pengungsi. “Kami tidak merasakan tahun baru,” kata Mariyana. “Tak ada masa depan. Orang lain merayakan, kami hanya memikirkan bagaimana menghangatkan anak-anak, menjaga tenda agar tak roboh, dan mencari apa yang bisa dimakan besok.”

“Penjara” Baru Bernama Tenda

Sebelum perang, pergantian tahun adalah momen kebersamaan keluarga Mariyana, menyaksikan kembang api hingga tengah malam. Kini, katanya, hidup mereka berubah total. “Hidup kami seakan berakhir. Yang tersisa hanya bertahan dari dingin, hujan, dan angin,” ujarnya getir.

Kisah serupa dialami Hamid Dardunah. Baru bebas dari penjara pendudukan Israel pada November lalu setelah setahun ditahan, ia kini menghadapi “pertempuran” baru: bertahan hidup di tengah perang dan musim dingin. Tenda yang ia tempati di barat Kota Gaza kerap koyak diterpa angin, menuntut perbaikan berulang.

“Gaza menyambut tahun baru dengan duka,” katanya. “Seharusnya ini tahun aman dan damai, tapi orang-orang terlantar di jalanan, tenda-tenda tercabik, dan tak ada yang peduli.”

Tanpa Tenda, Tanpa Tidur

Muhammad Al-Sultan, ayah dua anak, bahkan tak memiliki tenda sendiri. Keterbatasan ekonomi memaksanya menumpang di tenda sempit milik mertuanya.

“Sejak musim dingin, kami berjaga sepanjang malam. Tak berani tidur karena takut tenda roboh. Angin mengerikan, semua sakit flu,” tuturnya. Pergantian tahun, baginya, tak lebih dari perpanjangan duka.

Derita semakin berat bagi Mustafa Al-Battasy, penyandang disabilitas dengan enam anak. Tenda sederhananya (tanpa alas memadai) roboh dua kali dalam sepekan terakhir. “Kami di bawah nol,” katanya. “Saya difabel, anak-anak kecil, tak ada penghasilan. Kami hanya punya dua alas tidur.”

Di tenda sebelah, ibunya, Aminah, dan saudara perempuannya, Batul, menanggung luka kehilangan: suami ibu syahid di penjara pendudukan, suami Batul dibunuh pasukan Israel. Tenda mereka terendam air empat kali dalam beberapa pekan. “Kami tak tidur karena takut ombak dan hujan, atau tenda terbang,” kata Aminah.

Malam yang Tak Pernah Usai

Rabah Ighmidah mengaku terpaksa tidur di atas alas basah akibat rembesan hujan. Sejak hampir 20 hari, cuaca buruk datang beruntun sementara tenda-tenda rapuh tak mampu bertahan. Angin mencabut tendanya tiga kali. “Kami membagi tugas sepanjang malam (memegang tiang, menarik tali) agar tenda tak terbang,” ujarnya.

Harapan menyambut tahun baru dengan damai di rumah pupus. “Saat dunia merayakan, kami hanya menambal tenda,” katanya.

Krisis Kemanusiaan Kian Parah

Direktur Jenderal Kantor Media Pemerintah Gaza, Ismail Al-Thawabta, memperingatkan memburuknya kondisi kemanusiaan di wilayah pengungsian. Lebih dari 213 ribu keluarga (sekitar 1,5 juta jiwa) kini tanpa rumah layak, hidup di tenda-tenda darurat. Angka ini setara lebih dari 62 persen populasi Gaza yang berjumlah sekitar 2,4 juta orang.

Tenda-tenda usang tak memberi perlindungan memadai. Cuaca ekstrem menyebabkan banyak yang roboh, memicu korban luka dan kematian, serta lonjakan penyakit pernapasan, kulit, dan malnutrisi (terutama pada anak-anak, perempuan, dan lansia) di tengah kekurangan pangan, air bersih, layanan sanitasi, dan kesehatan.

Sepanjang Desember lalu, kondisi ini menelan 23 korban syahid: empat akibat dingin ekstrem di kamp pengungsian, dan 19 lainnya karena runtuhnya rumah serta tenda yang rusak oleh serangan, beriringan dengan cuaca buruk. Puluhan lainnya terluka. Lebih dari 127 ribu tenda dilaporkan robek atau roboh sebagian maupun total akibat angin dan sistem tekanan rendah.

Sumber: Al Jazeera

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here