Ribuan warga Maroko memenuhi jalan-jalan utama di Marrakech dan Tangier pada Kamis malam (22/8), menuntut dihentikannya perang genosida dan kelaparan yang dijalankan Israel terhadap rakyat Palestina di Gaza.

Aksi itu digerakkan oleh Front Maroko untuk Dukungan Palestina dan Penolakan Normalisasi, melibatkan aktivis, pegiat HAM, hingga warga biasa. Mereka menyuarakan kemarahan atas serangan yang telah berlangsung hampir dua tahun dan atas diamnya komunitas internasional.

Para demonstran membawa spanduk dan poster bertuliskan tuntutan: hentikan blokade, buka perbatasan, dan izinkan masuknya bantuan kemanusiaan. Arak-arakan massa bergerak melalui jalan-jalan utama, berhenti di lapangan besar kota sebagai simbol perlawanan sipil terhadap keheningan global.

Protes ini berlangsung bersamaan dengan memburuknya krisis kelaparan di Gaza. Tentara Israel kini tengah menjalankan operasi militer untuk menduduki Kota Gaza, disertai bombardemen intensif selama lebih dari dua pekan di kawasan Shujaiya, Zeitoun, Sabra, hingga kamp pengungsi Jabaliya. Ribuan orang terpaksa mengungsi, menambah panjang daftar tragedi kemanusiaan.

Gelombang Solidaritas di Yunani dan Italia

Gelombang penolakan terhadap agresi Israel tak hanya bergema di Maroko. Di Yunani, kedatangan kapal pesiar Israel “Crown Iris” di Pulau Kreta memicu demonstrasi besar. Saat kapal yang membawa 1.600 penumpang Israel merapat di pelabuhan Heraklion, warga setempat mengibarkan bendera Palestina dan mengangkat poster bertuliskan: “Tidak ada tempat bagi kapal ini di pelabuhan kami.”

Menurut media Yunani, sebagian penumpang bahkan memprovokasi dengan mengibarkan bendera Israel dan meneriakkan slogan bernada rasis. Namun tekanan publik begitu besar hingga tak satu pun wisatawan Israel berani turun dari kapal.

Di Italia, sekitar 15 ribu tenaga medis dari 500 rumah sakit mengumumkan aksi puasa simbolis untuk Gaza. Mereka menilai serangan sistematis Israel, termasuk penghancuran rumah sakit dan ambulans, sebagai serangan langsung pada “jantung kemanusiaan”. Para tenaga medis juga menyerukan boikot terhadap perusahaan farmasi Israel Teva, yang dituding mengambil keuntungan dari pendudukan Palestina.

“Menyerang rumah sakit dan membunuh mereka yang menyelamatkan nyawa adalah jurang bagi kemanusiaan,” demikian bunyi pernyataan resmi mereka.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here