KOTA GAZA – Dua ratus hari lalu, dunia bersorak saat kesepakatan Oktober 2025 diteken. Namun di Gaza, “damai” hanyalah kata tanpa makna. Gencatan senjata yang diklaim sebagai titik balik ini ternyata tak lebih dari sekadar peralihan modus operandi militer. Intensitas serangan skala besar memang menurun, namun pembantaian kecil yang terjadi setiap hari telah menciptakan lubang hitam kemanusiaan yang lebih dalam.
Data lapangan menunjukkan bahwa kesepakatan ini rapuh sejak awal. Lebih dari 3.000 pelanggaran tercatat: mulai dari serangan udara sporadis, infiltrasi pasukan darat ke pemukiman, hingga penghancuran rumah tinggal. Ini bukan penghentian perang; ini adalah perang dengan tempo yang diatur.
Neraca Kematian di Masa “Tenang”
Kementerian Kesehatan Palestina mencatat statistik yang mengerikan selama periode yang disebut gencatan senjata ini. Sebanyak 817 nyawa melayang dan 2.296 orang terluka sejak kesepakatan dimulai. Jika ditotal sejak horor 7 Oktober 2023, angka kematian telah menembus 72.593 jiwa.
Pelanggaran paling kasat mata adalah penguasaan fisik. Israel kini mengontrol secara langsung sekitar 58 persen wilayah Gaza, yang mereka sebut sebagai “Zona Kuning”. Garis batas ini terus merangkak maju, menyusutkan ruang gerak warga dan mengubah area tersebut menjadi zona maut bagi siapa saja yang mendekat.
Sabotase Kemanusiaan: Logistik sebagai Sandera
Kesepakatan awal mewajibkan masuknya 600 truk bantuan per hari. Realitasnya? Hanya 39 persen yang diizinkan melintasi perbatasan. Lebih fatal lagi, pasokan bahan bakar disunat hingga hanya menyentuh 14,9 persen dari kebutuhan dasar. Dampaknya berantai: pompa air mati, sistem limbah meluap, dan rumah sakit beroperasi dalam kegelapan.
Kantor Media Pemerintah di Gaza menuduh Tel Aviv sengaja melanggar protokol kemanusiaan. Bukan hanya soal makanan, Israel juga menahan masuknya alat berat untuk evakuasi jenazah di bawah puing, bahan bangunan untuk perbaikan pipa, hingga tenda-tenda darurat. Gaza sedang dipaksa hidup dalam kondisi pra-modern.
Dapur Data: 200 Hari Gencatan Senjata yang Macet (Update April 2026)
| Sektor Pelayanan | Target Kesepakatan | Realitas Lapangan |
| Logistik Bantuan | 600 Truk / Hari | Hanya mencapai 39% target. |
| Bahan Bakar | 100% Kebutuhan | Hanya 14,9% yang masuk. |
| Layanan Medis | Operasional Penuh | 59% obat esensial stok nol. |
| Kerugian Ekonomi | – | US$ 70 Miliar (Kerugian Langsung). |
| Evakuasi Medis | Berkelanjutan | 18.500 pasien tertahan (4.000 anak). |
Ekonomi yang Dikuliti
Gaza hari ini adalah wilayah dengan ekonomi yang sudah kehilangan nyawa. Kerugian ekonomi langsung diperkirakan mencapai US$ 70 miliar (sekitar Rp 1.100 triliun). Namun, angka yang lebih menakutkan adalah kemunduran standar hidup: warga Gaza ditarik mundur 60 tahun ke belakang.
Di pasar, harganya liar. Israel memainkan taktik “buka-tutup” barang tertentu secara acak di perbatasan, menciptakan ketidakstabilan harga yang permanen. Sektor pertanian di timur Gaza pun mati total karena lahan-lahan tersebut kini masuk dalam zona militer “garis kuning”.
Kesehatan di Titik Nadir
Rumah sakit yang masih berdiri kini lebih menyerupai unit gawat darurat yang sekarat. Tanpa oksigen dan obat esensial (di mana 59% stok berada pada titik nol), dokter di Gaza hanya bisa melakukan tindakan medis seadanya. UNICEF dan WHO mencatat ada 18.500 pasien (termasuk 4.000 anak) yang nasibnya digantung karena dilarang melakukan evakuasi medis ke luar negeri.










