YOGYAKARTA–Sekitar seribu peserta memadati kawasan Titik Nol Kilometer Yogyakarta dalam aksi kemanusiaan bertajuk Run for Palestine, Ahad (25/10/2026). Kegiatan lari santai tersebut dilanjutkan dengan panggung orasi bertajuk “Orasi Palestina: Palestine Will Be Free” yang digelar Forum Ukhuwah Islamiyyah (FUI) Daerah Istimewa Yogyakarta.
Peserta dari berbagai kalangan, mulai dari remaja, keluarga muda hingga orang tua, mengikuti kegiatan tersebut dengan mengenakan pakaian serbaputih dan syal keffiyeh khas Palestina. Sejak pagi, mereka menyusuri rute lari di sekitar kawasan benteng bersejarah Kraton Yogyakarta sebelum kembali ke garis finis di Titik Nol Kilometer.
Setelah kegiatan lari, acara berlanjut dengan orasi solidaritas untuk Palestina. Sejumlah peserta membentangkan spanduk dan poster berisi pesan protes terhadap Israel, di antaranya bertuliskan “Dicari Rasa Empati yang Hilang” dan “I Hate You Israel”. Seruan takbir juga menggema di tengah kerumunan massa.
Ulama dan pendakwah nasional Ustaz Bachtiar Nasir (UBN) hadir sebagai salah satu orator utama. Dengan mengenakan syal bermotif Palestina yang dipadukan dengan selendang batik, dia mengajak umat Islam dan masyarakat Indonesia terus menyuarakan kemerdekaan Palestina.
“Jangan pernah berhenti membela dan menyuarakan hak-hak saudara kita di Palestina hingga terbebas dari penjajahan,” tegas UBN di hadapan peserta aksi.
Dalam orasinya, UBN juga menyoroti perubahan konstelasi kekuatan dunia. Menurut dia, tatanan global saat ini bergerak menuju sistem multipolar, ketika kekuatan dunia tidak lagi terpusat pada satu negara.
“Di mana-mana sedang berperang. Dan tidak ada lagi yang namanya unipolar, sekarang sudah multipolar. Tidak ada satu negara yang kuat, setiap negara berpotensi untuk menjadi negara besar. Dan Indonesia bersama orang besar, orang-orang beriman pada hari ini, bisa menjadi negara baru yang kuat. Allahu Akbar!”
Seruan tersebut disambut takbir oleh massa yang hadir. UBN juga mengajak umat Islam mendoakan persatuan negara-negara Muslim, termasuk melalui kerja sama pertahanan dan diplomasi antarnegara. Dia menyebut Turki, Arab Saudi, dan Pakistan dalam konteks yang disebutnya sebagai Pakta Makkah. Selain itu, dia menyinggung gagasan yang disebutnya sebagai Pakta Padang dengan melibatkan Indonesia, Qatar, Turki, dan Pakistan.
“Kita doakan setelah Pakta Makkah: Turki, Saudi, dan Pakistan bersatu. Tidak mau kalah, ada lagi Pakta Padang, kekuatan pertahanan dunia Islam: Indonesia, Qatar, Turki, dan Pakistan bersatu. Dan mudah-mudahan setelah ini, seluruh dunia Islam pemimpinnya bersatu. Allahu Akbar!”
Orasi tersebut menekankan pentingnya persatuan negara-negara Muslim di tengah perubahan geopolitik global. UBN juga mengajak masyarakat Indonesia mengambil peran dalam membangun kekuatan bangsa dengan berlandaskan keimanan.
Selain isu Palestina, panggung orasi turut menyinggung persoalan nasional, khususnya ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masih terjadi di sejumlah wilayah Indonesia.
Para orator menekankan bahwa kepedulian terhadap penderitaan rakyat Palestina dan tanggung jawab menjaga kelestarian lingkungan di Tanah Air merupakan bagian dari ikhtiar kemanusiaan yang saling berkaitan.
Melalui kegiatan tersebut, penyelenggara dan peserta menyuarakan solidaritas bagi Palestina sekaligus mengajak masyarakat menjaga kepedulian terhadap persoalan kemanusiaan dan lingkungan.










