PALESTINA — Eskalasi militer Israel di wilayah Tepi Barat dan Al-Quds Timur yang diduduki kian tak terkendali. Dalam gelombang penyerangan terbaru, pasukan Penjajah Israel menggelar operasi skala besar di belasan titik (mulai dari Anata, Kamp Shaafat, Dura, hingga Qalqilya) disertai pemblokiran jalan, penangkapan massal, serta blokade bantuan medis yang memicu krisis kemanusiaan di lapangan.
Penyerangan intensif yang menyasar belasan permukiman warga ini terjadi di tengah ancaman terbuka dari pejabat tinggi Israel untuk melancarkan “perang total” di wilayah Tepi Barat.
Pengepungan Lengkap di Al-Quds Timur
Operasi besar-besaran diluncurkan sejak awal pekan oleh tentara pendudukan bersama Polisi Perbatasan dan badan intelijen Shin Bet. Pusat operasi terkonsentrasi di Kota Anata dan Kamp Pengungsi Shaafat, sebelah timur Yerusalem.
Gubernur Yerusalem, Adnan Ghaith, menegaskan bahwa penyerangan di Anata bukan sekadar patroli biasa, melainkan kelanjutan dari skenario sistematis untuk memutus dan mengisolasi wilayah timur laut Yerusalem.
“Pasukan pendudukan memaksakan jam malam secara ketat di Anata dan Shaafat. Mereka merazia rumah-rumah warga (termasuk kediaman mantan tahanan) serta secara sengaja menghadang ambulans dan tim medis yang hendak menolong pasien dalam kondisi darurat,” ujar Ghaith.
Serangan dengan pola serupa juga menghantam Kota Dura di selatan Hebron serta Desa Hijja di timur Qalqilya, di mana belasan warga sipil ditangkap dari berbagai sudut kota secara mendadak.
Gugurnya Warga dan Teror Pemukim Israel
Aksi kekerasan ini kembali memakan korban jiwa. Kementerian Kesehatan Palestina mengonfirmasi gugurnya Mahmoud Mohammad Arabi Mohsen (34 tahun) asal Qabalan, Nablus, akibat tembakan tembus peluru tajam pasukan Israel. Hingga kini, jenazah korban masih ditahan oleh otoritas pendudukan.
Di wilayah lain, kekerasan makin berdarah akibat serangan ekstremis pemukim ilegal Israel. Omar Al-Toubasi tewas seketika setelah ditembak di bagian kepala oleh pemukim bersenjata saat mempertahankan desanya di Qalqilya. Tiga warga lainnya, termasuk seorang anak-anak, dilaporkan mengalami luka berat dalam gelombang teror pemukim tersebut.
Di sisi lain, media Israel mengklaim tindakan keras tersebut dipicu insiden penikaman terhadap seorang warga Israel di dekat Osarin, Nablus, yang menyebabkan terduga pelaku ditembak mati di tempat oleh pasukan militer.
Ancaman ‘Perang Total’ dari Tel Aviv
Situasi makin memanas setelah menteri pertahanan Israel, Israel Katz, membeberkan instruksi bersama Prime Minister Benjamin Netanyahu untuk menyiapkan militer menghadapi “perang total” di Tepi Barat. Katz secara terbuka mengancam akan meremukkan otoritas Palestina jika terindikasi mempersiapkan perlawanan.
“Kami tidak akan membiarkan intifada berlarut-larut di Tepi Barat. Kami akan menyelesaikan konfrontasi ini secara cepat dan menyeluruh,” cetus Katz, berbarengan dengan ikrar Netanyahu untuk terus menghancurkan infrastruktur yang mereka sebut sebagai jaringan teror.
Sejak pecahnya perang di Gaza pada Oktober 2023, Tepi Barat terus membara akibat kombinasi operasi militer dan brutalitas pemukim ilegal.
Data dari Wall and Settlement Resistance Commission mencatat, sepanjang semester pertama tahun ini saja telah terjadi 3.488 aksi serangan oleh pemukim Israel, yang merenggut 17 nyawa warga Palestina, mengusir puluhan keluarga dari tanah lahir mereka, serta mendirikan 42 pos permukiman liar baru.










